
Tidak ada yang menjawab pertanyaan ku tentang di mana keberadaan yugo sekarang.
Aku membutuhkan nya disisi ku.
Aku sampai lelah bertanya.
"Pah aku tanya sekali lagi, yugo di mana? apa di tau keadaan ku? apa dia tau calon anak kami telah tiada?" tanya ku.
Papa diam. Ia menggeleng kan kepala nya.
"Kamu jangan banyak pikiran yah, istirahat lah, papa akan menjaga mu" seru papa mengalihkan pembicaraan.
Aku bangkit tiba tiba , ku cabut paksa infus di tangan ku, darah ku pun tercecer di mana mana, membuat papa dan putra panik.
"Apa yang kamu lakukan? mau kemana kamu?" pekik papa.
"Mencari suami ku" seru ku sembari berjalan tergopoh-gopoh setelah berhasil turun dari ranjang rumah sakit.
Ku pegangin perut ku yang sakit pasca operasi, akibat obat bius mulai menghilang.
Aku sedikit meringis dan terus berjalan masih menggunakan baju pasien.
Papa dan putra mengejar ku.
"Berhenti!!! lupakan Yugo, kau pikir siapa yang menyebabkan mu menderita seperti ini? itu semua karena dia, dan kau masih mencari nya?" bentak papa.
"Dia suami ku pah, aku membutuhkan dia" jawab ku
"Saat ini yang kau butuh kan bukan dia tapi papa, dia bahkan tidak sanggup membayar biaya rumah sakit untuk mu, kemana dia sekarang, tidak ada kan? apa kau yakin dia peduli pada mu?" seru papa
Putra menggeleng kan kepala nya tidak percaya dengan perkataan pak rudi. Bisa bisa nya ia merendahkan menantunya seperti itu.
Aku menggeleng kan kepala ku.
Aku terduduk di lantai rumah sakit.
"Jadi yugo di mana? dia gak mungkin meninggalkan aku pah dia pasti sedih banget kalau tau aku keguguran" jawab ku sembari menangis.
Yugo pun menangis di balik pintu ruangan itu.
Ia melangkah pergi sesuai permintaan pak rudi untuk sementara. Demi keamanan dan keselamatan lidya ia harus menyerahkan lidya kepada papa nya, saat ini ia tidak punya apa apa untuk melindungi istri nya dari ancaman bahaya di luar sana.
__ADS_1
Yugo mengelap air mata nya sembari melangkah semakin menjauh dari rumah sakit.
Keesokan hari nya.
Yugo menjual mobil nya dan membeli sebuah sepeda motor bekas untuk mengganti uang mertua nya yang sudah membayarkan biaya rumah sakit untuk lidya.
Melalui putra, yugo menyerahkan uang itu ke mertua nya , meski pun sempat pak rudi menolak nya tapi putra memaksa papa nya itu untuk menerima nya.
Putra dan yugo sedang duduk bersama di sebuah cafe terdekat dari rumah sakit.
"Makasih yah putra, sudah membantu ku" seru yugo.
"Ah , sudah kewajiban ku, kamu yang sabar yah, papa memang seperti itu, keras orang nya, tidak mudah membuat beliau berubah" ujar putra.
"Sekarang aku bingung harus bagaimana. Papa memisahkan ku dengan lidya, istri ku, tapi di satu sisi aku juga sedang tidak punya apa apa untuk melindungi dan menjaga nya, aku bahkan belum dapat kerjaan, keuangan ku sangat menipis. Harta ku satu satu nya tinggal rumah ku. Rumah ku dan Lidya, baru saja kami pindah eh sudah di pisahkan" jelas yugo.
"Kamu jangan putus asa. Berusaha lagi. Tidak mengapa tidak kaya raya, setidaknya kamu bisa memberikan nafkah ke lidya. Aku yakin lidya pasti mengerti keadaan mu" seru putra.
"Iya, lidya, istri yang baik, ia tidak menuntut banyak hal pada ku, ia bahkan mau belajar masak untuk ku, dia menerima ku apa ada nya, sekarang aku bahkan tidak bisa menyentuh nya, papa melarang ku menemui lidya" suara yugo sesenggukan karena menahan tangis, ia tidak mau berpisah dengan istri nya.
Putra menepuk pundak yugo.
Yugo menunduk.
"Bantu aku putra, aku bingung harus bagaimana" pinta yugo.
Putra mengangguk.
"Sebisa mungkin aku akan membantumu, tenang lah, ada aku" jawab putra.
"Makasih put" seru yugo.
Putra tersenyum.
"Aku balik dulu yah ke rumah sakit, kamu jaga kesehatan, aku akan berusaha agar kalian tidak terpisahkan, aku akan menyatukan kalian kembali, jadi bersabarlah dulu" jelas putra.
Yugo mengangguk.
.......🌺🌺🌺.......
James belum di temukan. Ia menghilang bagai di telan bumi. Tidak ada yang berhasil menemukan nya. Mungkin telah kabur, kembali ke Amerika.
__ADS_1
Hal itu lah yang membuat papa semakin tidak merasa aman aku untuk dekat dengan yugo. Papa memberi ku 2 bodyguard untuk menjaga ku kemanapun aku pergi. Hal itu sungguh membuat ku risih. 24 jam kegiatan ku di laporkan ke papa. Membuat ku hanya bisa keluar rumah ke kampus dan pulang. Aku tidak bisa kemana mana.
Seminggu berlalu.
Aku di bawa pulang ke rumah oleh papa.
Keadaan ku berangsur membaik.
Alhamdulillah.
Hingga saat ini aku tidak bisa menghubungi Yugo apa lagi menemui nya.
Papa benar benar mengurung ku di dalam rumah, aku seperti terjebak di dalam sangkar emas.
Cuma putra yang selalu menghibur ku.
Putra lah sumber informasi ku saat ini. Ia menceritakan semua nya. Putra tidak mau aku membenci yugo lantaran perkataan papa.
Aku pun berakting di depan papa, pura pura tidak tau apa pun.
Yugo kerja serabutan untuk sementara waktu. Sembari menunggu panggilan kerja di perusahaan lain.
Yugo bahkan berhenti melanjutkan kuliah S2 nya demi untuk bekerja dan menjemput ku kembali.
Aku sudah mulai bisa kembali kuliah seperti biasa nya. Rasa sedih karena keguguran ku alihkan dengan belajar dan mencari kegiatan.
Tapi aku sudah tidak sanggup lagi hidup tanpa Yugo. Aku pun akhirnya menentang papa.
Saat selesai makan malam, aku bicara dengan beliau.
"Pah, aku tau papa sayang sama aku, tapi gak begini pah, kebebasan ku papa renggut. Bahkan papa memisahkan aku dengan suami ku. Papa tega, aku butuh suami ku pah, bukan kah papa yang menjodohkan aku dengan nya, kenapa sekarang papa memisahkan kami" seru ku.
"Tidak, papa gak mau terjadi apa apa lagi sama kamu, justru karena papa yang menjodohkan kalian papa merasa gagal dan salah, maafin papa, dulu keluarga Yugo kan sangat sukses, papa percaya kam dia bisa membuat mu bahagia, tapi setelah semua ini terjadi papa merasa dia tidak pantas untuk mu, mengurus dirinya sendiri saja dia susah sekarang" jawab papa.
Aku menggeleng kan kepala ku.
"Papa egois, berarti papa menjadikan nya menantu hanya melihat dari harta nya saja? setelah dia jatuh miskin papa membuang nya begitu saja? tidak! aku tidak seperti itu pah, aku ingin kembali hidup bersama yugo meski pun kehidupan kami pas pasan bahkan kekurangan!" pekik ku.
Papa menghentak meja.
"Silahkan!!! jika itu mau mu, jangan pernah menganggap papa ada, jangan injakkan kaki mu ke rumah ini lagi, jangan minta uang sepeser pun sama papa, papa ingin lihat selama apa kamu akan bertahan hidup dalam kesulitan ekonomi. Selama ini papa lah yang membantu mu saat yugo mulai kekurangan, papa tetap transfer uang, sekarang papa akan stop semua nya, aku mau lihat, seperti apa Yugo akan bertanggung jawab atas diri mu!!! bentak papa.
__ADS_1