
Keesokan hari nya. Aku terbangun, sudah pagi ternyata, segera aku mandi dan siap siap untuk berangkat.
Putra menggedor-gedor pintu kamar hotel ku.
Apaan sih tuh anak berisik banget.
Aku masih mengeringkannya rambut ku dengan hairdryer.
Ku Buka kan pintu.
"Loh belum siap? udah di tungguin tu sama papa mama" ujar putra kesal.
"Iya, sebentar, nama nya juga anak gadis, ya lama lah" protes ku.
Putra yang gregetan pun membantu ku memasukan sisa barang ke dalam koper dan tas ku.
Dengan kesal aku pun menurut mengikuti nya dengan rambut setengah kering.
"Aku bahkan belum sarapan!" gerutu ku.
"Siapa suruh Bangkong, sudah tau akan berangkat pagi, malah santai" balas putra.
"Bangkong? ini masih pagi putra" protes ku.
"Pagi gundul mu, ayo!" pekik nya.
Papa yang berada di loby pun mengomel karena aku kami hampir terlambat ke bandara.
Aku bahkan harus menyisir rambut ku sepanjang jalan di mobil taksi bandara.
Kami sudah di dalam pesawat sekarang.
"Yang penting kan gak terlambat" gerutu ku.
Papa dan putra kompak memarahi ku.
Aku hanya tersenyum sambil mengambil skincare ku di dalam tas. Aku belum sempat memakai apa pun.
Aku pakai cream siang itu, ku tepuk tepuk. Dan memakai sedikit lip tin. Supaya tidak pucat.
Putra geleng geleng kepala melihat ku sibuk sendiri sepanjang perjalanan di ketinggian 3000 kaki dari permukaan laut. Ia memilih untuk tidur sejenak.
Selamat tinggal Tarakan. batin ku.
Ku keluarkan headsad untuk mendengarkan musik di handphone ku.
.......πΊπΊπΊ......
Setelah perjalanan panjang akhir nya kami sampai juga. Alhamdulillah.
"Putra!!!" pekik ku membangunkan putra yang tertidur pulas.
Putra terkejut saat ku kaget kan.
"Kita sudah sampai" seru ku.
Ia pun bangun dengan separuh nyawa yang baru terkumpul.
Supir sudah menunggu kami di parkiran bandara.
Aku segera masuk kedalam mobil.
Sesampai nya di rumah. Aku histeris karena lupa membeli oleh oleh buat teman teman.
"Astaga, lupa beli oleh oleh" seru ku saat baru sampai di rumah.
__ADS_1
"Ada apa ribut ribut" tanya papa yang mendengar suara ku yang nyaring.
"Lupa beli oleh oleh" seru ku.
"Ya ampun kiraen apa an. Maka nya kalo jalan jalan ingat waktu" seru papa.
Aku cemberut dan mulai menaiki tangga menuju kamar ku.
Huft kok bisa aku pelupa begini sih.
Apa karena aku bucin? ah menyebalkan sekali.
Suara ketukan kamar membuyarkan lamunan ku.
Saking malas nya aku hanya teriak dari dalam.
"Masuk saja!!!" pekik ku.
Aku masih rebahan di kasur.
Ternyata papa, tumben.
"Apa ini?" tanya ku saat papa membawa koper baru, besar berwarna Silver.
"Buat kamu lah" jawab papa.
"Aku kan udah punya koper, tuh" ku tunjuk koper warna pink ku yang masih berdiri di depan cermin. Aku terlalu malas untuk membongkar nya, seperti aku akan menyuruh bibi mengurus nya.
"Bukan koper nya tapi isi nya", ujar papa.
Aku pun membuka koper itu.
Isi nya se koper penuh oleh oleh dari Tarakan. Mulai dari makanan ringan sampai pakaian dan kain khas Kalimantan.
"Ya ampun, makasih papa" ujar ku tak percaya sambil memeluk papa.
"Sudah papa duga kau akan melupakan itu, karena kau sibuk jalan jalan sama putra" seru papa.
"Ehhehe, iya ,asik juga yah di sana" jawab ku.
"Papa gak bisa lama lama, perusahaan harus di awasi. Meski ada asisten papa, kita gal bisa π― % percaya sama seseorang, jangan kan orang lain, keluarga sendiri saja bisa mengkhianati kita, bahkan bayangan mu sendiri akan meninggalkan mu ketika gelap" Nasehat papa.
Aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Aku jadi merasa bersalah dengan perasaan ku pada putra.
Apa itu termasuk tindakan mengkhianati papa?
Ah, malas mikir aku nya, mau istirahat ajja deh.
Papa pun pamit ke bawah untuk beristirahat di kamar nya.
Putra seperti nya sudah tidur.
Aku beruntung bisa ketemu orang yang aku sukai setiap tapi justru itu lah rintangan nya.
Ah aku harus pikirkan sekolah , belajar belajar belajar. Putra mah enak, pintar.
Ponsel ku berdering tiba tiba.
Aku mengangkat nya.
"Sudah tidur?" tanya seseorang di balik telepon.
"Sudah, ya belum lah kalo masih bisa angkat telepon. Dekat ajja kok telepon sih" protes ku.
__ADS_1
"Biar rindu. Kan ketemu terus, haha" jawab nya.
Tinggal setahun kebersamaan kami kok, karena dia akan keluar negeri setelah lulus SMA.
Aku belum rencana akan kuliah di mana. Ingin sekali ikut putra kuliah di Jerman. Kata nya terobsesi dengan pak Habibie.
Tapi ia tidak mau aku mengikuti nya.
Yah Nanti lah aku pikirkan akan kemana setelah lulus. Aku iri sama mereka yang punya rencana dan tujuan setelah lulus.
.......πΊπΊπΊ......
Tinggal 3 hari lagi liburan usai. Tidak terasa. Dimas sudah ribut minta ketemu dan minta oleh oleh.
Aku.yang lagi malas kemana mana pun menyuruh Dimas datang ajja ke rumah.
Aku gak nyangka Dimas laju Laju ke rumah ku saat aku memanggil nya.
Ia sudah ada di depan gerbang.
Satpam langsung membuka kan pintu karena Dimas memang sering berkunjung. Sudah di kenal mereka.
Dimas langsung memarkirkan motor nya di halaman rumah ku.
Ia berjalan antusias ke dalam.
Aku turun ke bawah masih memakai baju tidur motif bunga. Baju tidur tanpa lengan dan pendek nya sepaha.
Dimas hampir tidak berkedip memandang mulus nya tubuh ku saat turun.
Putra yang baru muncul dari dapur pun terkejut melihat ada Dimas di ruang tamu.
Lebih terkejut lagi setelah melihat aku memakai baju tidur yang seksi.
"Astagfirullah, Lidya!!! sana ganti baju, ada tamu masa begitu pakaian nya!" bentak putra.
"Tapi ini kan di rumah? jadi pakai pakaian santai dong" protes ku.
"Ganti. Sekarang!" bentak putra.
Dimas masih menikmati keindahan tubuh ku.
Putra lalu menutup mata Dimas dengan tangan nya.
"Ih apaan sih put" protes Dimas sambil mengelak tangan putra dan mencari ku tapi aku sudah menghilang ke kamar.
"Ada perlu apa kemari?" tanya putra.
"Harus ada perlu yah. Pengen ketemu calon bini dong, haha" jawab Dimas.
"Alah. Masih kecil Sok Sokan mau punya bini. sekolah dulu tuh yang bener" balas putra.
"Santai ajja bro, serius amat haha" tawa Dimas.
Aku pun turun dengan baju yang lumayan tertutup, meski masih baju tidur tapi celana nya panjang polos berwarna navy, baju nya lengan pendek tapi kayak kemeja gitu jadi keliatan seperti baju jalan padahal baju tidur. Kan untuk santai ajja di rumah. Putra ajja tu yang alay. Padahal selama punya body bagus begini kan aku pengen banget pakai baju seksi.
Sempat iri liat orang orang, tapi putra gak suka. Benar sih demi kebaikan. Huft.
"Yah, hilang deh pemandangan indah nya" gerutu Dimas.
Aku lalu melempar Dimas dengan bantal sofa.
Dimas tertawa, lalu tangan nya menengadah.
"Ya Allah, semoga kelak aku nikah sama Lidya biar bisa liat pemandangan indah setiap hari, Aamiin" ucap Dimas lantang.
__ADS_1
"Apaan sih!" protes ku dengan doa nya Dimas. Ku pukul lengan nya. Ia Malah semakin tertawa melihat ekspresi panik ku.
Putra terdiam.