Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 75.


__ADS_3

"Pasti ada" Jawab putra mantap.


"Jangan bilang kamu yang mau menikahi nya, haha jangan konyol putra, kita masih sekolah" protes ku.


"Ya gak lah. Aku juga tau posisi ku" jawab putra.


"Ada apa dengan rambut mu?" tanya putra.


"Aku ganti model rambut ajja. Bosan rambut panjang.


"Oh begitu. Bagaimana di sekolah mu, aman?" tanya putra.


Aku hanya diam tersenyum.


Putra lalu memegang kedua bahu ku.


"Kau pasti sedang tidak baik baik saja sekarang, kau tidak bisa membohongi ku" kata putra.


Aku akhir nya menangis, aku sangat Cengeng jika di depan putra.


"Apa yang terjadi?" tanya nya.


Aku akhir nya menceritakan semua nya.


"Jadi karena itu rambut mu jadi seperti ini?" pekik putra marah.


"Sudah lah putra, gpp kok" seru ku.


"Gpp bagaimana, itu kriminal, bandel banget sih anak itu!" pekik putra.


"Syuut, jangan nyaring nyaring, aku gak mau mereka tau" ujar ku.


Aku tidak mau papa tau meski pun aku yakin dia juga tidak akan peduli jika tau.


"Kau harus nya bela diri, biar gak di ganggu. nanti aku ajari" kata putra.


"Emang kamu bisa?" tanya ku.


"Haha kau meragukan ku. Kau lupa aku si berandalan di sekolah. Aku di keluarkan dari sekolah ku di kampung halaman ku, maka nya aku pindah ke sini, kebetulan mama juga ingin pergi dari kota itu" jelas putra.


"Ohh, apa yang kau lakukan sampai di berhentikan dari sekolah?" tanya ku.


"Aku berkelahi, tapi guru malah membela nya, padahal dia yang salah, aku naik pitam dan menghajar guru ku sekalian" jelas nya.


"Apa?!" pekik ku kaget.


Makan malam kami pun selesai.

__ADS_1


"Mau belajar apa dulu?" tawar putra.


"Sholat" jawab ku mantap.


Kami pun ke kamar ku.


"Punya mukenah ajja kan?" tanya nya.


"Ya punya dong" jawab ku.


"Ya sudah pakai dulu" suruh nya


"Eh, belajar wudhu dulu deh, aku gak tau urutan nya" jujur ku pada putra.


Ia dengan sabar mengajari ku.


Selesai belajar wudhu aku pun belajar gerakan sholat.


"Kedua telapak kaki saling rapat ketika sujud. Pastikan 7 anggota tubuh menyentuh lantai ketika sujud. Jidat, kedua telapak tangan, kedua lutut dan ke dua telapak kaki" jelas nya.


Aku mengangguk dan mengulangi lagi.


"Apa bacaan juga kamu gak fasih?" tanya putra.


Aku mengangguk malu tapi karena keinginan ku kuat putra jadi semangat sekali mengajari ku.


Setelah itu aku belajar mengaji mulai dari iqra 1. Mulai mengenal tulisan Arab. Aku sama sekali buta huruf Al'quran.


Setelah beberapa lembar belajar putra menghentikan pembelajaran nya.


"Cukup untuk hari ini, belajar ngaji harus setiap hari" jelas putra.


Ku lirik jam sudah pukul 10.00 malam.


"Kamu juga harus belajar bela diri, besok aku ajari, bela diri bukan untuk sombong, bukan untuk sok kuat dan mengganggu orang yang lemah tapi upaya untuk mencegah orang mengganggu kita, Jika kita tidak salah kita di perbolehkan untuk membela diri" jelas putra.


Aku mengangguk mendengar petuah petuah dari putra. Setiap yang dia ucapkan selalu bisa menenangkan aku.


Putra, sungguh beruntung kelak nanti wanita yang mendapatkan mu.


"Kok malah melamun?" tegur putra.


"Eh, maaf, mungkin karena lelah dan ngantuk" kata ku berbohong.


"Kamu harus bisa menjaga diri sendiri, kau tidak bisa berharap banyak ke orang lain" tegas putra.


"Siap pak guru" jawab ku sambil memberi hormat.

__ADS_1


Putra tersenyum dan mengusap rambut ku lembut.


Putra ternyata baik banget beda benget sama ekspektasi ku dulu.


"Putra, dulu waktu masih di sekolah lama aku pernah melihat mu melukis, apa aku juga pandai melukis?" tanya ku.


"Iya, tapi semenjak tau melukis makhluk hidup itu gak di perbolehkan agama kita aku langsung berhenti, tapi jika hanya pemasangan mungkin masih bisa lah" jawab nya.


"Oh, sayang sekali, padahal aku baru saja ingin di lukis oleh mu" seru ku.


"Jangan deh, Nanti aku khilaf malah melukis wajah dan tubuh lama mu hahaha", tawa putra.


Aku langsung melempar nya bantal.


"Apa Tuhan akan mengampuni ku, secara aku sudah mengubah ciptaan nya" tanya ku lesu.


"Allah itu maha pengampun, maha pengasih dan maha penyayang, jika benar benar bertaubat Insya Allah pasti di ampuni, meski ada 1000 orang berkata kamu gak mungkin di terima taubat nya, aku yakin Allah pasti mau mengampuni hamba nya. Yang penting bertaubat dan tidak di ulangi lagi. Jangan pernah putus ada dalam meminta ridho nya. Allah menyukai manusia yang mau bertaubat" jelas Dika


Aku menitikkan air mata haru mendengar penjelasan putra. Betapa besar karunia dan kasih Allah tapi kami manusia terus bermaksiat di atas bumi nya. Astagfirullah.


Keesokan hari nya Dinda menghubungi ku ingin bertemu.


Sepulang sekolah aku pun menemui nya di sebuah cafe yang buka dari siang.


"Ada apa Dinda? maaf belum sempat mencari kan mu kontrakan" seru ku.


"Tidak apa apa kok, aku justru kesini mau pamit sama kamu" kata Dinda mengejutkan ku.


"Apa!? kamu mau kemana?" tanya ku.


"Pulang ke rumah Mbah, mama nya ayah, beliau sudah renta dan tidak ada yang jaga, apa lagi ayah ku sedang di penjara sekarang" jawab nya.


"Ya ampun Dinda, kapan kamu tau kabar Mbah mu itu" tanya ku.


"Kemarin budhe menelpon, menyuruh ku untuk tinggal di sana karena budhe harus balik ke luar kota kembali ke keluarga nya, budhe juga sudah ku beritahu kan perihal kehamilan ku, beliau tidak keberatan, ia juga janji akan mengirimkan uang setiap bulan untuk aku dan Mbah, budhe juga minta maaf karena ketika ibu meninggal budhe tidak bisa hadir karena jauh di luar kota. Budhe adalah saudara ayah" Jelas Dinda.


"Oh begitu, lalu kenapa kamu tidak memberi tahu putra?" tanya ku.


"Aku takut berpisah dengan nya, seperti yang kau tau, aku suka sama putra, aku mencintai nya, dia satu satu nya pria yang tidak menyakiti ku, dia sangat baik, berbeda memang dengan penampilan nya, ia selalu membela ku di kelas, maafkan cinta yang salah ini, meski pun atau aib ku yang hina ini putra masih memperlakukan ku dengan sangat baik" jawab Dinda.


Benar putra memang baik jika mereka dekat dengan nya.


"Jadi kau tidak mau bertemu dengan nya untuk terakhir kali nya?" tawar ku.


"Jangan deh lid, aku gak mau, aku takut berubah pikiran setelah melihat nya" ujar nya.


"Terlambat, aku sudah ada di belakang mu" putra muncul di belakang Dinda.

__ADS_1


Aku yang memanggil nya.


"Putra???" seru Dinda.


__ADS_2