
Ku tatap wajah papa yang cemas akan jawaban dari ku.
Semua orang menunggu ku untuk bicara.
Suasana kian menegang kan.
"Om rado" seru ku pelan.
"Ya?" jawab om rado tidak sabar.
"Maafkan aku om, aku tidak bisa meninggalkan papa, aku gak bisa ikut om rado" jawab ku.
Terlihat wajah tegang dan cemas di raut wajah papa mulai terlihat rileks, ia pun bernafas lega.
Aku mendekati papa dan memeluk nya.
"Maafin papa yah selama ini tidak menjaga mu dengan baik" seru papa sambil mengelus rambut ku.
Aku menggeleng.
"Gak pah, gpp kok ,itu semua masa lalu, aku juga bukan anak yang baik, aku selalu melawan papa" ujar.
Om rado terlihat kesal.
"Apa Kau yakin dengan keputusan mu itu lidya?" tanya om rado.
Aku mengangguk.
"Iya om, makasih untuk tawaran nya tapi aku sayang sama papa, aku gak bisa meninggalkan papa" tegas ku.
Papa terharu mendengar jawaban ku.
Aku melihat tante sifa menunduk.
"Maafkan aku Tante. Tapi kita masih bisa bertemu kan, meski jauh kita tetap keluarga" seru ku menyemangati tante sifa.
Tante sifa hanya mengangguk.
Papa lekat memandang tante sifa yang sangat mirip dengan mama.
__ADS_1
"Alhamdulillah keluarga kita tetap utuh" seru mama mona.
Putra segera ikut bersama ku, merangkul ku. Kau rindu sekali dengan nya. Wajah pucat nya memang belum pulih benar tapi setidaknya putra sudah melewati masa kritis nya.
"Ya sudah, besok aku hanya akan membawa mu sifa dan anak mu kembali ke kampung, di sana aku janji akan mencukupi segala keperluan kalian, kau tidak perlu lagi bekerja keras untuk anak mu itu , apa lagi setelah aku tau apa pekerjaan mu, aku sangat terpukul sifa, kembali lah, menjadi manusia yang lebih baik lagi" nasehat om rudi pada tante sifa.
Tante sifa mengangguk. Tante Sifa tidak punya pilihan lain selain mengikuti kakak nya. Ia juga lelah bekerja di bar setiap hari. Begini lah hidup kalau putus sekolah. Susah cari kerja dan di pandang sebelah mata oleh masyarakat dengan pekerjaan itu. Jelas lah pekerjaan yang ia tekuni adalah maksiat dan cukup dia saja lah yang tau aib nya itu.
"Baik lah, sepulang dari sini aku akan menceritakan semua nya pada Maharani, semoga ia mau menerima ku sebagai ibu nya dan semoga dia tidak malu punya ibu seperti ku" seru tante sifa ke om rudi.
Kami dapat mendengar obrolan mereka.
Selesai masalah ini aku akan di hadapkan dengan masalah baru yaitu, menikah dengan yugo. Minggu depan.
Putra menyemangati ku, tidak ada cemburu di hati nya. Ia hanya ingin melihat ku bahagia, meski aku tidak yakin bisa bahagia atau tidak bersama yugo. Karena kami sama sama saling tidak menyukai, bahkan saling membenci. Bagaimana bisa kami bersatu dalam pernikahan normal jika kami saja selalu berseteru. Yang ku tau yugo adalah laki laki brengsek dan pengecut yang meninggal kan kekasih nya demi balas dendam semata, dia telah menyakiti perasaan wanita nya, tidak menutup kemungkinan dia akan menyakiti ku sama hal nya seperti feby. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Aku lidya wijaya, aku berbeda. Aku tidak lemah. Senyum sinis menghiasi wajah ku saat ini. Saat menatap wajah pria brengsek itu.
"Jangan sok keras tuh muka, minggu depan kau jadi istri ku!" tegas yugo saat melihat ekspresi ku.
"Cuih! iya tapi hanya istri formalitas di atas kertas, jangan harap lebih!" jawab ku.
"Haha, bocah ingusan, lihat saja nanti, apa kau masih bisa sombong seperti itu" balas yugo.
"Ya sudah, sekarang ayo kita pulang, oh ya rado, ku harap kau tidak menggangu anak ku lagi dengan cara menculik nya seperti ini" ujar papa.
"Tentu, tapi jika kau menyakiti nya jangan harap hidup mu baik baik saja, sedikit saja ku dengar kabar tidak baik dari lidya aku akan segera menjemput nya!" tegas om rado.
"Baik lah!" ujar papa sembari menarik tangan ku menjauh dari tempat itu dan kami pun masuk ke dalam mobil. Aku dengan papa, sementara Putra dan mama dengan mobil lain di antar supir yang tadi mengantar mereka ke tempat itu.
Maafkan aku tante sifa.
Fakta lain adalah, Maharani sepupu ku? hmm Lucu sekali hidup ini. Penuh dengan misteri dan masalah.
"Semua akan baik baik saja sekarang, jangan khawatir" ujar papa membuyarkan lamunanku sepanjang perjalanan kembali pulang.
Sesampai nya di rumah bi minah langsung menyambut ku dengan haru , ia memeluk ku erat.
"Ya ampun non, bibi khawatir sekali loh, bibi takut non lidya kenapa kenapa, bibi rindu, makasih udah kembali dengan selamat" seru bi minah.
"Baru sehari kok, aku juga kangen sama bibi" ku balas pelukan bi minah.
__ADS_1
"Ya sudah ,non mandi dan beristirahat lah, mulai besok sudah gak boleh keluar rumah loh kan mau nikah" kata bi minah mengingat kan.
Ya ampun, aku baru ingat, Seminggu sebelum nikah gak boleh keluar rumah, gak bisa kemana mana dong, pasti bete di rumah terus.
"Iya bibi bawel ku" jawab ku singkat sembari pamit ke atas kamar ku. Putra juga telah sampai dan langsung masuk kamar nya. Kondisi nya belum pulih benar, ada perawat khusus yang di panggil papa ke rumah untuk merawat putra hingga sembuh total. Itu membuat ku sangat lega. Tidak salah aku menuruti kata papa. Dia benar-benar menepati janji nya.
Setelah bersihkan diri aku ke kamar putra.
Dia sedang baring tapi belum tertidur.
"Putra" seru ku.
Ia menoleh ke arah ku.
Aku tersenyum melihat nya. Dan melangkah mendekati nya.
"Eh,kamu belum tidur? kamu baik baik saja kan?" tanya putra.
Biasa nya aku pasti menangis meledak-ledak di pelukan nya tapi kini aku hanya bisa menyembunyikan segala kesedihan ku karena aku tidak mau putra khawatir. Putra tidak sekuat dulu, ia masih butuh proses untuk kesembuhan nya.
Penyakit itu bukan penyakit biasa.
"Haha, gak usah di tahan begitu dong air mata nya, lihat tuh wajah mu jadi aneh" kata putra.
"Ih siapa yang mau nangis sih, aku baik baik saja kok, harus nya yang kamu khawatir kan itu kondisi mu" protes ku.
Putra tersenyum.
"Ini lebih dari cukup, papa benar benar baik mau membiayai semua ini untuk ku" puji nya.
"Hm, yah papa memang baik sekarang. Tapi minggu depan aku terpaksa menikah dengan orang yang tidak aku sukai" protes ku.
Putra melepas kan jaket nya. Melepas penutup kepala nya.
Rambut nya yang nyaris botak benar benar mengiris hati ku.
"Ikhlas lidya, Allah tau mana yang terbaik untuk kita. Bismillah, jalani saja, insya Allah berkah. Jika pun nanti setelah menikah kamu tidak bahagia, itu ujian dalam pernikahan mu, maaf aku memang sayang sama kamu tapi sayang dan cinta yang kita rasakan dulu adalah kesalahan. Dan ini lah jalan kebenaran yang terbaik untuk kita. Aku akan selalu berdoa untuk kebaikan dan kebahagiaan mu" ucapan putra itu justru membuat air mata ku keluar dengan deras nya.
Aku menggeleng dan terus menangis dalam dekapan putra. Punggung ku naik turun sesenggukan dalam tangis ku yang kian pecah. Putra mengelus pundak ku.
__ADS_1
Aku hanyut dalam pelukan nya seolah tidak ingin waktu ini cepat berakhir dan ingin selamanya begini.