
Aku menghubungi papa, untuk tidak pulang malam ini menemani teman yang terkena musibah.
"Sejak kapan kamu peduli sama teman mu?" tanya papa.
"Sejak kapan papa bertanya seperti itu dan peduli dengan kegiatan ku di luar rumah?" tanya ku balik.
Kami sama sama diam. Aku pun mengakhiri telepon setelah dia memberikan ijin.
Putra geleng-geleng kepala melihat aku yang jarang akur dengan papa.
Tapi dia tersenyum karena melihat ku ijin dulu, tidak seperti biasa nya, aku selalu seenak nya keluar rumah, tidak pulang.
Seumur hidup aku tidak pernah seperti ini, biasa nya semua di lakukan bibi dan pembantu di rumah. Saat ini aku cuci piring??? oh tidak kuku cantik ku. Ah aku sudah tidak tahan lagi melihat rumah Dinda. Kotor sekali.
Putra tertawa melihat ku bersih bersih dengan ekspresi geli.
Ingin rasa nya aku sewa pembantu sehari untuk membereskan semua ini.
Setelah lelah menyimpun. Aku dan putra duduk di ruang tamu itu. Kami ber 3 kelelahan.
"Terima kasih banyak yah, jika tidak ada kalian aku sudah gak tau lagi harus bagaimana" ujar Dinda.
"Hus jangan bilang begitu, bukan karena kami tapi karena pertolongan Allah untuk mu, bukan tanpa sebab Allah mengirimkan kami untuk membantu mu, pasti untuk membuat mu berubah menjadi lebih baik, bersyukur lah" tegas putra.
Dinda menangis haru, ia menangisi dosa dosa nya. Telah banyak dia bermaksiat tapi Allah masih sayang dengan nya dengan mengirimkan orang orang baik untuk menemani nya.
Syukur besok hari Minggu jadi kami tidak perlu terburu buru pulang untuk ke sekolah.
Aku memakai baju tidur Dinda. Aku sudah menelpon pembantu dan supir di rumah untuk membawakan kami baju dan pakaian dalam. Sebenar nya bisa beli tapi aku tidak biasa pakai barang baru yang belum di cuci dulu. Tidak higienis.
1 jam kemudian supir datang membawakan segala yang aku minta.
"Banyak banget non barang nya kayak mau pindahan" seru pak Dadang.
"Ih kok pindahan, mau kemping dong, haha canda kemping, inti nya aku gak pulang beberapa hari ini, ok" jawab ku.
"Baik lah non, telepon saja jika ada lagi yang di butuhkan.
"Ok" jawab ku.
Malam semakin larut. Putra mendekati ku untuk mengambil baju nya. Lengkap dengan pakaian dalam. Pak Dadang memang bisa di andalkan.
Sudah jam 00.05 dini hari. Aku belum juga bisa tertidur. Tidak biasa tidur di tempat seperti ini. Ku lirik putra di sofa depan sudah tertidur, Dinda pun sama ,dia sudah tertidur di samping ku.
Aku meringis karena tidak nyaman.
Aku merindukan kamar ku.
Ku dekati putra.
"Putra...." panggil ku sambil menggoyang kan badan nya.
__ADS_1
"Hmm" jawab nya.
"Aku gak bisa tidur" ujar ku.
"Terus?" gumam nya.
"Temani aku begadang" pinta ku.
"Em. Aku ngantuk banget" gumam nya lagi.
Aku cemberut. Aku terjaga dan bermain ponsel ku. Tiba tiba ku dengar ada seperti suara orang masak di dapur rumah Dinda ini.
Aku teringat hanya kami ber 3 di rumah ini. Seketika aku merinding.
Aku berlindung di balik tubuh Dinda yang tertidur pulas.
Suara nya semakin nyaring, suara denting piring kaca yang di susun. Pikiran ku semakin parno. Ku beranikan diri melirik ke arah dapur.
Pasti ada yang tidak beres.
Tenang Lidya, ini bukan film horor jadi positif thinking saja. Mungkin itu suara tetangga yang sedang masak, atau suara kucing?
Aku mencoba memejamkan mata ku.
Tapi tidak bisa. Aku pengen pipis tapi takut. Bagaimana dong.
Aku tidak tega membangunkan dinda seperti nya dia lelah sekali.
Aku lagi lagi membangunkan putra. Ia terlihat sedikit kesal karena selalu ku ganggu.
"Hmm" jawab putra, akhir nya ia bangkit dan menemani ku ke dapur.
Ia mengikuti ku dari belakang.
Suara itu masih ada, suara seseorang sedang masak dan cuci piring. Aku merinding lagi.
"Putra, kamu dengar suara itu gak?" tanya ku saat kami sedikit lagi sampai ke dapur.
Putra tidak menjawab. Mungkin dia sangat ngantuk? pikir ku.
Aku beranikan diri masuk ke dapur.
Benar saja, aku melihat sosok ibu ibu berambut panjang sedang memasak di sana. Mendengar kedatangan ku ia lalu menoleh ke arah ku sambil tersenyum menyeringai.
Seram, sumpah, lutut ku lemas di buat nya.
Hilang niat ku ke toilet seketika.
"Putra...." pekik ku, maksud hati ingin memberi tahukan apa yang ku lihat.
Justru aku semakin terkejut melihat putra sudah berubah menjadi sosok yang menyeramkan, sekilas ku lirik ke ruang tamu depan, putra masih tidur di sana. Jadi siapa semua orang ini. Maju bertemu sosok ibu ibu. Mundur bertemu sosok putra palsu yang mengerikan. Aku berteriak nyaring saat sosok ibu ibu itu mendekati ku.
__ADS_1
"Aaaaaaaaaaaaa" pekik ku histeris.
"Lidya, bangun. Lidyaaaa!!!! pekik seseorang.
Aku membuka mata.
"Kamu kenapa? mimpi buruk?" tanya putra dan Dinda hampir bersamaan.
Aku segera bangkit, dari tempat aku tidur?
Sejak kapan aku tertidur?
Ku lirik sudah subuh, jam 4.45 menit. Adzan subuh berkumandang. Aku merasa sangat lega.
"Iya, aku mimpi buruk. Astagfirullah" seru ku.
"Maka nya berdoa dulu sebelum tidur. Ingat, mimpi baik datang nya dari Allah, jika buruk datang nya dari setan" nasehat putra.
"Iya iya pak ustadz" seru ku.
Putra segera bergegas ke masjid.
Aku bernafas lega saat ini. Masih terngiang sosok mengerikan itu di dapur, aku sampai ketakutan saat ini.
Dinda kembali tidur.
Ku beranikan diri ke toilet dan ambil air wudhu. Jujur aku tidak tau urutan wudhu hingga saat ini. Hanya belajar otodidak dari sekolah, aku tidak pernah praktik di rumah.
Aku asal membasah kan wajah tangan dan kaki ku. Lalu aku keluar mencari mukenah di kamar Dinda.
Aku juga belum hapal benar bacaan sholat.
Jangankan sholat 5 waktu, sholat id yang beramai ramai aku jarang ikut.
Benar benar Islam KTP.
Aku harus belajar sama putra.
Pagi jam 7 Dinda sudah bangun.
Kami lapar dan makan hasil pesanan katering ku semalam.
Setelah itu kami mandi dan bersih2.
Tidak lupa kami ziarah ke makam ibu nya Dinda lagi.
"Kamu gpp sendirian? kami akan pulang sore ini" seru ku.
"Mau bagaimana lagi, mau tidak mau aku harus mandiri" jawab Dinda.
"Aku akan segera mencarikan kontrakan baru untuk mu, yang lebih dekat dengan sekolah, agar kamu gak perlu jauh jauh lagi ke sekolah" seru ku bersemangat.
__ADS_1
"Tidak perlu, terima kasih, mungkin aku akan putus sekolah. Kalian lupa aku hamil?" ujar nya lesu.
Aku melirik ke arah putra, dan kami bingung harus berkata apa.