
3 Tahun kemudian.
Tidak terasa sudah 3 tahun berlalu. Tidak banyak yang berubah. Kuliah ku juga sudah masuk semester ke 7.
Jujur, aku sangat merindukan papa.
Tapi beliau menutup segala akses dan ruang untuk aku bisa bertemu dengan nya.
Sesekali aku dan yugo mengunjungi mertua ku dan dimas di rumah kontrakan mereka.
Kuliah ku juga tinggal 1 semester lagi akan selesai. Insya Allah jika semua nya lancar.
Yugo masih kerja di pabrik, Alhamdulillah dia naik jabatan jadi staf di sana sehingga kerja nya tidak terlalu berat seperti sebelumnya.
Hari ini adalah hari pertama kami KKN,
Aku dan teman kelompok ku kkn di sebuah desa terpencil. Nama desa nya desa karungan.
"Hey, kik melamun sih, hati hati loh, entar kesambet" ujar Sumiati.
"Ah gpp kok, kamu tuh yang hati hati, gampang bener kerasukan, haha, hmm aku sedang memikirkan waktu, gak terasa ajja waktu begitu cepat berlalu" seru ku.
"Udah, jangan mengenang masa lalu, apa lagi masa lalu yang buruk" sanggah sumiati.
Sampai saat ini aku belum di karuniai seorang malaikat kecil lagi. Sedih banget, aku berharap setelah kuliah ku selesai aku bisa melahirkan banyak anak. Aamiin.
"Bagaimana yah nasib anak ku nanti, seandainya papa tidak mengabaikan aku, pasti anak ku kelak hidup enak. Aku kasihan sama calon anak anak ku nanti" seru ku.
"Ssst gak boleh ngomong gitu deh, bersyukur lah dengan kehidupan sekarang, masalah rejeki anak mu nanti pasti ada saja, jangan ragukan rejeki dari Allah" ucap Sumiati.
Aku mengangguk.
"Eh. Ngomong ngomong, bagaimana hubungan mu dengan devan? apa sudah ada kejelasan? kalian deket udah lama banget loh, masa kalian gini gini ajja" tanya ku mengganti topik pembicaraan.
Sumiati pun murung.
"Entah lah, aku juga tidak tau" jawab Sumiati lesu.
__ADS_1
"Jujur, kamu suka sama devan? kamu cinta?" tanya ku.
"Aku gak tau, percuma juga ,jika perasaan ku ini terungkap apa dia mau menerima ku, apa persahabatan kami akan berakhir karena sebuah perasaan?" ujar Sumiati.
"Sabar yah, coba kalian kalau sedang berdua tanya dia, tanya pendapat nya tentang hubungan kalian itu, minta kejelasan, kalau sudah jelas kan kamu jadi bisa melangkah dan memilih, bisa menerima cinta dari pria lain, gak harus menunggu dia" seru ku.
"Iya iya, bawel, aku juga pusing banget nih banyak kegiatan kkn, lelah banget" ucap nya.
"Nikmati saja. Kita juga gak lama kan di sini, ini juga hari pertama udah ngeluh, besok lebih banyak loh kegiatan kita" jawab ku.
"Hmm baik lah, semoga ajja desa ini tidak horor seperti di film film" ujar Sumiati.
"Aamiin" jawab ku.
Kelompok kkn ku lumayan banyak ada 11 orang.
Kami tinggal di sebuah rumah warga yang dekat dengan rumah pak kades. Rumah warga ini adalah rumah mbah nek salimah, beliau tinggal seorang diri di rumah ini. Kamar di rumah yang lebih mirip gubuk ini ada 2, kamar mandi tanpa pintu hanya tertutup kan tirai kain berwarna cokelat kusam. Lantai kayu, Kelebihan nya adalah luas, rumah ini luas untuk ukuran nenek yang tinggal seorang diri di sini.
Dari cerita beliau , dia memang tinggal sebatang kara, seluruh keluarga nya meninggal saat kebakaran besar di kampung ini. Dulu pernah terjadi kebakaran hutan dan api nya merembes ke desa, awal nya terkena kebun, satu rumah dan merembes ke yang lain ketika malam hari, sebagian tersadar dan mengungsi, sementara keluarga nenek benar benar terlelap dan tidak menyadari terjadi kebakaran, terlambat mengungsi mereka pun tewas terbakar.
Korban ada 7 meninggal dan 10 luka luka. Nenek saat itu tidak berada di sana, beliau sedang berkunjung ke rumah kerabat di kampung sebelah. Setelah pulang nenek syok karena seluruh keluarga nya telah tiada.
Menjelang malam.
Ku lihat nenek sedang duduk di teras menyeruput teh melati pahit nya.
Mata nya menatap datar ke arah jalanan di depan rumah nya.
"Nek, sedang apa?" tanya ku hati hati.
"Panggil mbah ajja" protes nya.
"Em, baik lah, mba sedang apa? di luar dingin lebih baik mbah masuk ke dalam" jawab ku.
Mbah menatap ku sesaat tapi tidak menjawab, ia kembali menatap lurus ke depan.
Mbah pasti kesepian. Batin ku.
__ADS_1
Tiba tiba Sumiati datang dan menatap ku heran.
"Lidya!!! loe ngobrol sama siapa?" pekik nya.
"Apaan sih sum ,aku kan sedang ngobrol sama mba....." aku menoleh ke arah mbah tapi mbah sudah pergi entah kemana.
"Gak ada siapa siapa di situ!" pekik Sumiati ketakutan.
"Tadi ada mbah kok!" jawab ku.
"Mbah siapa maksud mu? jangan aneh aneh deh lid!" ujar Sumiati memukul lengan ku.
"Mbah salimah lah, masa sama mbah dukun" protes ku.
Raut wajah sumiati bertambah takut.
"Nenek salimah kan sedang menghadiri hajatan pak wakil kepala desa, sejak tadi selepas Maghrib, dan belum pulang sampai sekarang." jawab sumiati.
Aku menatap nya bingung. Barusan aku benar benar nyata sedang ngobrol dengan beliau. Dia bahkan menjawab ku.
"Oh tidak, plis ini bukan film horor!" pekik Sumiati.
Apa Sumiati mengerjai ku?
"Kamu yakin mba belum pulang, aku gak lihat mbah pergi, dan anak anak pada kemana sih, sepi banget deh?" tanya ku.
"Ikut nenek ,makan makan di acara syukuran nikahan anak pak Rohman, wakil kepala desa, tadi nya aku mau ikut tapi aku lihat kamu masih khusyuk sholat nya jadi aku menunggu kamu deh, sambil menyeduh teh hangat, Eh tau tau kamu udah di teras, mau ikut gak? kalo iya, buruan deh siap siap, keburu acara nya selesai tuh, semua warga di undang kok termasuk kita" seru sumiati yang mulai lupa dengan ketakutan nya melihat ku bicara sendirian di teras.
"Aku begini ajja deh, yuk" jawab ku yang tidak mau berlama lama di rumah yang sepi ini, bukan karena takut tapi aku merasa tidak nyaman ajja.
"Ayo deh buruan. Takut gue lama lama di sini, horor ih" ajak Sumiati.
Alhasil kami ke undangan hanya memakai pakaian seada nya. Yang penting berhijab, batin ku.
Aku dan Sumiati mengambil obor di samping rumah untuk menerangi jalan kami. Tidak ada listrik di sini, handphone kami juga tidak bertahan lama karena tidak bisa ngecas, semua handphone kami lowbat.
Real desa terpencil banget. Lokasi nya ajja di kaki gunung.
__ADS_1
"Lokasi acara nya di mana? emang kamu tau???"tanya ku.
"Hehe kurang tau sih, kita liat ajja kalau ada suara rame rame pasti deh disitu" jawab sumi sok tau