
"Eh tuh, pasti di situ deh acara nya" seru sumiati sembari menunjuk ke sebuah rumah yang ramai di iringi lagu sinden khas di acara seperti ini.
"Iya, yuk kesana" ucap ku.
Kami pun bergegas melangkah ke sana karena kami belum makan dan sangat lapar.
Kami melihat teman teman kami di sana berdekatan Duduk dengan mbah salimah.
Devan tidak ada. Ya jelas lah,kami beda jurusan. Dia kkn di desa lain.
Kkn di desa ini juga pilihan dari teman kami yang lain, aku dan Sumiati hanya ikut saja.
Saat melihat kami, mereka melambaikan tangan. Ku letakkan obor di samping tempat acara.
Di sini masih memakai alat musik tradisional.
Yah, nama nya juga di desa.
Aku dan sumi segera mengambil hidangan yang telah di sediakan. Kemudian kami duduk di belakang sambil melihat wajah bahagia pengantin di hadapan kami.
Segera aku dan Sumiati menyelesaikan makan kami.
Mbah menatap ku sambil tersenyum.
Dan semua mata tamu tertuju pada si pesinden dan penari di samping nya.
"Laju banget makan nya, lapeer banget loe?" tanya sumi.
Aku hanya mengangguk.
Setelah selesai makan aku dan Sumiati ikut menonton.
__ADS_1
Mbah mulai berdiri dan melangkah untuk bersalaman dan memberi selamat untuk kedua mempelai.
Kami turut mengikuti beliau dari belakang.
Orang orang di desa ini sangat ramah.
Sepanjang jalan aku dan Sumiati bergandengan erat. Sumiati terlihat sangat ketakutan. Karena jalanan yang gelap. Cahaya obor hanya mampu menyinari yang ada di hadapan kami.
Baru sampai di rumah kami di buat kaget karena ramai teman teman menunggu kami di depan rumah. Bukan kah mereka tadi di belakang kami?
Aku dan Sumiati saling pandang.
"Perasaan gue gak enak" bisik sumiati.
"Woy, kalian dari mana saja?!" teriak desta. Teman kkn kami.
Aku dan sumi pun melangkah semakin dekat di rumah.
Mbah salimah keluar rumah dengan khawatir.
Mbah memegang tubuh ku.
"Kalian baik baik saja kan, sebaik nya jangan keluar malam malam" ujar mbah salimah.
Aku dan Sumiati kebingungan.
"Mbah, tadi kan kita sama sama ke undangan pernikahan pak rohman" protes ku.
Sumiati turut menceritakan kejadian tadi.
"Hajatan nya cuma sampai sore saja, tidak ada acara malam di desa ini, karena......" kalimat mba Salimah terputus.
__ADS_1
"Karena apa mbah?" tanya ku.
"Ah tidak, tidak ada apa apa, tadi kalian menghilangkan, mbah dan yang lain sudah mencari di sekitar sini tapi gak ketemu, kalian kemana sebenarnya?" tanya mbah salimah.
Aku menggeleng kepala ku.
"Aku gak ngerti, selepas sholat aku dan Sumiati menyusul kalian ke hajatan pak rohman. Dan kami bertemu dengan kalian semua kok di sana, saat pulang aku dan Sumiati berada di depan dan kalian di belakang. Maka nya aku bingung kenapa kalian bisa duluan sampai" jelas ku.
Mbah diam sesaat.
"Masuk lah, lain kali jangan keluar malam apa pun yang terjadi" pesan mbah.
Kami pun segera masuk.
Desta marah marah tidak jelas.
Aku tersenyum kecut. Apa mereka mengira aku mengarang cerita. Ah aku tidak mengerti.
"Bikin khawatir saja! jangan pernah ada yang keluar rumah malam lagi!" ujar nya.
Aku tidak menghiraukan nya dan masuk ke dalam rumah dengan kesal. Ah entah lah, banyak hal ganjil yang terjadi di sini.
Keesokan hari nya kami kembali melakukan aktivitas kkn kami.
Tujuan kami adalah
Membantu masyarakat Desa karungan untuk Mengetahui Hukum Pidana, Perdata & Hukum Tata Negara yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Membantu masyarakat Desa karungan untuk Memahami Hukum Pidana, Perdata & Hukum Tata Negara yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Membantu masyarakat Desa karungan untuk Menerapkan Hukum Pidana, Perdata & Hukum Tata Negara yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.
__ADS_1
Menyadarkan masyarakat Desa karungan mengenai hukum Pidana, Perdata & Hukum Tata Negara yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia, Untuk membangun desa yang lebih baik lagi.