Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Sebatas mimpi.


__ADS_3

"Li... bangun, kamu kenapa" seru mai khawatir.


Nafas ku tersengal sengal dan keringat membasahi kening ku.


Ku buka mata ku perlahan, ku lihat ada Maharani di dalam tenda menatap ku aneh.


Aku segera duduk. Sejak kapan aku balik ke tenda?


"Kau sudah kembali, sejak kapan?" tanya ku pada rani.


Apa aku bermimpi buruk lagi?


"Perasaan aku gak kemana mana, semalam aku cuma kebelet maka nya nyari tempat pipis yang aman, abis itu balik deh" seru Rani.


"Masa sih, bukan nya kamu ke hutan?" seru ku.


"Gak kok, aku cuma di sekitar sini ajja" jawab nya.


"Sendirian? kamu gak takut?" tanya ku.


"Ya gak lah, cuma buang air kecil kok, gak jauh" balas Maharani.


Ah syukur lah ternyata hanya mimpi.


"Kamu pasti mimpi buruk yah?" tanya Mai.


"Eh iya Mai, mimpi ku seperti nyata, serem banget" aku mulai mewek. Aku jadi ingat putra.


Putra menyuruh ku baca doa sebelum tidur tapi aku selalu melanggar nya.


"Ya sudah, ayo tidur lagi, kami kira kamu kesurupan, masih Jam 3 dini hari nih" seru Mai.


Ah syukur lah cuma mimpi.


Aku tidur di tengah, Mai di sebelah kanan ku dan Maharani di sebelah kiri ku. Aku aman sekarang.


Masih teringat jelas sosok dalam mimpi ku itu, membuat ku merinding. Ah, tau begini aku ogah deh ikut camping.


Harus nya memang aku ajak putra ke sini.


......🌺🌺🌺......


Menjelang pagi, jam 6 kami sudah bangun, ternyata sejak subuh jam 5 mereka sudah banyak yang bangun dan aktifitas membuat sarapan di luar tenda. Jadi mereka sudah sarapan, sementara kami baru akan membuat sarapan. Udara pagi itu dingin sekali. Ku rapatkan jaket ku.


Kami masak se ada nya saja, sebenar nya aku bawa roti tawar dan selai dari rumah,


cuma gak enak sama yang lain, yang mau makan berat seperti nasi, mau tidak mau aku harus membantu mereka masak?


Nanti roti nya untuk cemilan kami saja.


Seumur umur baru kali ini aku masak.


Aku bahkan tidak pernah menyentuh alat dapur kecuali piring dan sendok, karena semua selalu tersedia dan aku tinggal makan ajja.


"Wah gadis gadis lagi masak nih, bagi dong" seru Dimas.


"Cuma gini doang kok" jawab Mai.


Dimas menatap ku sesaat seperti hendak berbicara sesuatu tapi tertahan.


Aku jadi teringat mimpi buruk ku semalam. Syukur di dalam mimpi ada dimas, bayangkan ajja jika aku sendirian.


Haha apa yang ku pikir kan, hanya mimpi pun aku butuh teman? lucu sekali aku.


Mereka menatap ku karena tersenyum sendiri dan aku baru tersadar dari lamunan ku.


"Hayo senyum senyum sendiri, kenapa?" selidik Dimas.


"Haha, aku cuma teringat mimpi buruk ku semalam" jawab ku.


Dimas terdiam, tidak jadi melanjutkan. Ia terlihat sedikit gelisah. Apa dia mimpi buruk juga?


"Kalo mimpi buruk kenapa malah ketawa?" tanya Mai.

__ADS_1


"Gpp, lucu ajja" seru ku.


"Aneh kamu" ujar Mai sambil mengangkat bahu nya.


"Di sini ada sinyal gak sih?" tanya ku.


"Kenapa?" Mai balik bertanya.


"Nanya ajja hehe"jawab ku berbohong.


Karena sebenarnya aku ingin menghubungi putra.


Sehari ajja gak ada dia hampa kali hidup ku ini.


Setelah selesai sarapan. Kami apel pagi.


Banyak kegiatan kami yang mengharuskan kami mandiri.


Selepas upacara singkat itu.


Tiba tiba Dimas mendekati ku.


"Li..." panggil nya.


"Apa?" balas ku.


"Eh, gak jadi deh, nanti ajja aku cerita kalo udah balik ke kota" jawab Dimas lagi.


Entah kenapa dia menahan cerita nya.


Aku penasaran tapi ya sudah lah.


Aku tidak ingin rasa nya cepat malam, aku masih trauma dengan mimpi ku.


Aku harus menghindari hutan itu bagaimana pun cara nya.


Maisaroh duduk di samping ku mengambil handphone nya dan mengajak ku untuk berdiri Selfi.


Adit datang membawa kamera nya.


Kami ber 5 pun berfoto.


Setelah itu Dimas memaksa untuk foto bedua dengan ku, membuat ku tidak enak dengan Mai.


Mai mundur perlahan masuk ke dalam tenda.


Setelah berfoto aku menyusul Mai.


"Maaf Mai" seru ku tanpa salah.


Mai menatap ku sesaat.


"Minta maaf kenapa?" tanya nya.


"Aku gak bermaksud dekat dengan dimas tapi...." kalimat ku di potong oleh Mai.


"Aku sudah tau" jawab nya.


"Tau apa?" kata ku.


"Kalo Dimas menyukai mu, sudah lama aku tau itu!!!" pekik Mai.


Aku diam. Jadi selama ini Mai memendam nya? maafkan aku Mai, bukan salah ku kan jika Dimas menyukai ku?


"Jadi aku harus bagaimana Mai?" tanya ku.


"Jangan balas cinta nya, jika memang ingin persahabatan kita utuh dan bertahan lama" jawab Mai.


Aku terdiam. Tapi aku memang belum memikirkan untuk punya pacar sekarang.


"Baik lah Mai" seru ku.


Mai tersenyum lagi dan kami Kembali ke depan berkumpul dengan yang lain.

__ADS_1


Setelah puas menikmati pemandangan di alam ini langit mulai gelap lagi. Menjelang malam kami berkumpul lagi di depan api unggun.


Dimas mengambil Gitar nya dan menyanyi kan sebuah lagu.


Nano, sebatas mimpi.


Saat pertama ku dekati dirimu


Menuruti semua ingin mu


Dan tiba waktumu 'tuk beri jawaban


Ternyata kau anggap aku hanya teman


Bawalah aku ke dalam mimpimu


Aku takkan kecewakan kamu


Walaupun itu semua hanyalah sebatas mimpi


Jadikan aku kekasih hatimu


Aku menginginkan kamu


Sungguh-sungguh merasa ku jatuh cinta


Telah berbagai cara 'tuk dapatkan hatimu


Tetap saja kau anggap aku hanya teman


Bawalah aku ke dalam mimpimu


Aku takkan kecewakan kamu


Walaupun itu semua hanyalah sebatas mimpi


Jadikan aku kekasih hatimu


Aku menginginkan kamu


Sungguh-sungguh merasa ku jatuh cinta pada dirimu


Bawalah aku ke dalam mimpimu


Aku takkan meninggalkan kamu


Walaupun itu semua hanyalah sebatas mimpi oh


Jadikan aku kekasih hatimu


Aku menginginkan kamu


Sungguh-sungguh merasa ku jatuh cinta pada dirimu


Sumber: Musixmatch


Semua menikmati lagu yang di nyanyikan Dimas kecuali aku. Aku merasa lagu itu dia tujuan untuk aku yang enggan memberikan nya jawaban. Adit dan dimas sungguh membuat ku pusing.


Aku harus mencari waktu untuk menolak adit agar dia tidak berharap.


Kalo Dimas aku sudah bilang ke Mai untuk tidak membalas nya. Jadi kesimpulannya aku akan menolak ke dua nya.


Semoga saja mereka tidak marah pada ku.


Mai tersenyum pada ku, ia merasa lega karena aku tidak akan membalas cinta nya nya Dimas.


"Kamu kenapa, sejak tadi melamun, gak baik loh entar kesambet setan" seru Maharani tiba tiba.


"Hust jangan sembarang ran, aku gak melamun kok, aku hanya memikirkan sesuatu" jawab ku.


Dimas menatap ku genit seperti biasa. Banyak pasang mata mulai melirik ku, aku Segera menghindar dan menjauh dari sana.


Foto Lidya saat perjalan ke puncak.

__ADS_1



__ADS_2