Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 44.


__ADS_3

Sesampai nya di rumah Adit.


Di sana tidak terlihat orang tua nya.


"Di mana orang rumah kamu?" tanya ku.


" Orang tua ku berangkat kemarin, jenguk Mbah ku yang sakit di kampung" jawab Adit.


"Ohh begitu" jawab ku singkat.


"Waduh kita lupa beli cemilan nih" seru Dimas.


"Kamu ajja yang beli, beli nya di sekitar sini saja, ini uang nya" kata Adit.


"Aku kan gak pandai bawa mobil?" seru Dimas.


"Oh iya ya, lupa, lili mau ikut?" tawar Adit.


"Boleh deh" jawab ku.


Kami pun turun kembali ke tempat mobil ku terparkir.


"Mau ngemil apa?" tanya adit.


"Sembarang sih, aku ngikut ajja" jawab ku.


Kami pun sampai di sebuah supermaket.


Kami beli Snack, soft drink, aku melihat es cream. Aku jadi teringat Bimo. Aku kangen jalan jalan bareng Bimo. Aku memang bodoh, sudah berubah sejauh ini harus nya aku bahagia sekarang.


"Kenapa melamun? mau es cream? ambil ajja" ujar Adit.


"Eh, gak deh, aku diet" jawab ku.


Setelah selesai kami kembali ke rumah Adit.


"Lama banget sih, aku kan laper" protes Dimas.


"Sabar" Seru Adit.


Kami lalu ke dapur, masak Indomie telur.


Jujur aku sudah lama sekali tidak makan mie instan.


Ternyata Indomie enak banget, mungkin karena makan nya rame rame?


Selesai makan.


Rumah Adit sederhana tapi unik. Kami pun jalan jalan ke dalam kamar nya yang sangat rapi.


Hari sudah petang.


"Aku pulang yah" seru ku.


"Wah, sebentar lagi magrib, Lepas magrib ajja baru pulang. Kami ikut, sekalian ambil motor yang tadi kami tinggal" ujar Dimas.


"Oh ya aku lupa, ok" jawab ku.

__ADS_1


Selesai magrib aku pun mengantar mereka ke parkiran toko buku yang tadi kami singgahi.


Setelah itu aku pulang ke rumah.


Baru selangkah masuk rumah,papa sudah ada di ruang tamu bersama Tante Mona dan putra.


"Dari mana saja kamu?", tanya papa.


"Keliling" jawab ku singkat.


"Minggu depan papa akan merayakan pesta pernikahan besar besaran. Jangan membuat masalah" seru papa.


"Oh" jawab ku singkat lalu pergi menuju kamar ku.


"Oh ya, Lusa Oma dan opa akan berangkat dari Jakarta ke sini" kata papa.


Oma? opa? haha lelucon apa ini. Bukan kah Oma dan opa tidak suka dengan ku. Mereka bahkan tidak menganggap ku cucu mereka. Mungkin aku akan lebih stres dari sebelum nya.


Ku pandangi putra yang tersenyum menang.


"Aku tidak peduli" jawab ku sembari pergi meninggalkan mereka.


"Anak kamu kok begitu banget sama orang tua?" tanya Tante Mona.


"Yah begitu lah, maklum saja, sejak lahir ia tidak mengenal sosok ibu yang mengajari nya sopan santun, terlalu sibuk dengan bisnis ku jadi tidak terlalu memperhatikan nya, semoga dengan kehadiran mu bisa sedikit merubah nya" jawab papa.


"Semoga, seperti nya akan sulit" ujar Tante mona mengeluh.


"Maafkan aku yah, mohon bantuan nya" kata papa.


"Iya mas, tenang ajja, serah kan pada ku", jawab Tante Mona percaya diri.


"Aku selalu mendukung apa pun keputusan mama, aku juga gak keberatan kok om punya saudara seperti Lidya", jawab putra.


Setelah asik mengobrol dan mengurus persiapan pernikahan Tante Mona dan putra pun pamit pulang.


Tante mona dan putra merantau ke pulau Jawa ini setelah orang tua mereka bercerai.


Ayah nya putra asli orang Tarakan kalimat Utara. Kalo tante Mona campuran Tarakan- Manado.


Sementara papa adalah keturunan Tionghoa-jawa. Mama orang jawa timur asli. Mbah dari mama sudah meninggal semua.


Aku menatap foto mama yang tak pernah aku temui seumur hidup ku.


"Mah, maafin aku tidak menjadi anak yang baik" kata ku.


Ku peluk foto mama saat masih Berusia 18 tahun itu, mama meninggal di usia muda saat melahirkan ku. Sedih sekali. Sebentar lagi aku seumuran sama mama.


Mama cantik, langsing, pantas saja papa tergila gila sama mama dan membuat kesalahan fatal saat mereka masih remaja.


Sayang nya kisah percintaan mereka kandas setelah mama hamil. Tidak ada restu dari pihak keluarga papa. Mereka pun terpisah.


Itu lah cerita yang melekat di otak ku sejak aku baru menginjak kan kaki di sekolah menengah pertama. Papa sendiri yang menceritakan nya. Entah benar atau tidak aku hanya bisa percaya.


Setelah membersihkan kan diri aku tertidur.


Pagi buta aku terbangun, Aku kayuh sepeda ku, olahraga pagi seperti biasa nya.

__ADS_1


Ku kuncir rambut panjang ku. Ah sudah seminggu aku libur latihan voli. Semenjak aku datang bulan.


Jam 6.30 pagi aku pulang dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.


Ku bawa mobil ku menuju parkiran sekolah.


Kedatangan ku di sambut Maisaroh.


"Li, aku sudah menemukan buku nya Mai" seru nya.


Aku memberi kode untuk merahasiakan dari anak anak. Aku dan Maisaroh pun segera ke atap untuk melihat siapa nama nama orang yang telah menyakiti Mai.


"Banyak banget ada 13 orang" seru Maisaroh.


"Iya, apa semua kakak kelas?" tanya ku.


"Seperti nya begitu".jawab Maisaroh.


"Sekarang kita cari Maharani, kita harus mendengar kesaksian nya" seru ku.


Maisaroh mengangguk.


Kami turun ke kelas dan menyimpan buku Mai.


Maharani sudah ada di kelas, duduk diam di bangku nya.


Aku mencoba mendekati Rani.


"Hay, bisa minta waktu nya sebentar?", tanya ku.


"Tidak" tolak nya.


"Kau yakin menolak untuk berbicara dengan ku?" pancing ku.


"Ini demi teman kita maimunah".kata ku.


Raut wajah Maharani berubah menjadi takut. Tangan nya bergetar.


Aku dengan lembut menenangkan tangan Maharani, ia tidak berani menatap ku.


Maisaroh yang tidak sabar terlihat ingin ikut membujuk Maharani namun aku mencegah nya, aku memberi kode untuk mempercayakan Maharani pada ku.


Akhir nya Maisaroh mundur lagi dan hanya menatap kami dari bangku nya.


"Jangan takut Rani, kami ada bersama mu" kata ku.


Maharani menepis tangan ku agak keras sehingga aku sedikit tersentak. Refleks membuat teman teman lain melihat kami.


"Kamu ngapain ngajak dia ngomong, dia kan gila" kata Udin teman yang berdekatan bangku dengan maharani.


Maharani hanya diam.


"Nanti kita bicara di luar saja yah", tawar ku.


Maharani tidak menjawab, ia ketakutan. Ia mengambil pulpen dan mencoret coret buku nya. Benar kata mereka, mental Maharani sedang bermasalah. Ia seperti nya butuh psikiater.


Tapi aku tidak putus asa. Aku harus bisa membuat nya bercerita apa pun yang terjadi. Demi keadilan dan demi kenyamanan bersama. Meski resiko nya besar karena berhadapan dengan senior, mungkin saja aku akan jadi target bulli selanjut nya jika aku berani membongkar rahasia mereka.

__ADS_1


Tidak mengapa, aku siap, aku tidak sendiri, aku bersama orang orang hebat di kelas ini. Ada Maisaroh. Aku juga punya teman dari club' voli yang rata rata berbadan besar. Aku punya Adit dan Dimas.


__ADS_2