
Ku tutup album foto lama itu dan berbalik menuju kembali ke lantai 1 villa ini.
Aku masuk ke kamar, merebahkan diri.
Ku tatap langit langit kamar ini.
Lumayan lah. Lumayan menenangkan. Ku lirik ke arah luar jendela.
Terhampar pemandangan indah khas perkebunan teh di luar sana.
Tidak lama kemudian suara mobil yugo balik lagi.
Aku masih berbaring. Seketika jadi mager, malas gerak.
Yugo melangkah masuk ke dalam villa, membuka gagang pintu kamar perlahan.
Aku melihat nya.
"Dari mana?" tanya ku.
Yugo tidak langsung menjawab.
"Cieh nanya" jawab nya.
Tatapan langsung berubah jadi datar.
"Dari masjid" jelas nya sambil membuka kemeja nya. Ia hanya memakai kaos dalam lalu berbaring di samping ku.
Bila di pikir pikir. Yugo bukan lah laki laki egois seperti yang ku pikirkan selama ini.
Jika dia egois, sudah sejak dari pertama menikah pasti dia memaksa ku untuk berhubungan intim dengan nya.
Tapi ia memilih bersabar sampai aku siap menerima kenyataan bahwa aku adalah seorang istri, ia juga bersabar sampai ada perasaan di antara kami berdua.
Aku yakin sangat langka laki laki bisa seperti ini.
Ah tidak tidak, dia pasti berpura pura baik agar aku luluh pada nya.
"Hey, kok melamun" seru yugo sembari mengguncang tubuh ku.
Aku tersentak dari lamunan.
"Eh, apaan sih" jawab ku.
"Lagi mikirin apa?" tanya nya.
Seketika aku teringat buku lama yang ada di rak buku, lantai 2 villa ini.
"Naira itu siapa? apa kamu mengenal nya?" tanya ku.
Yugo sedikit terkejut namun ia lalu tersenyum.
"Kamu tau dari mana nama itu?" yugo balik bertanya.
Aku pun menjelaskan bahwa aku jalan jalan ke lantai 2 villa dan menemukan buku dan album foto lama.
"Oh, naira itu adik bungsu ku" jawab nya.
"Oh aku pikir dimas adalah anak bungsu, lalu naira ada di mana sekarang?" tanya ku.
Ekspresi wajah yugo berubah.
"Dia sudah lama meninggal, ia kecelakaan saat berusia 6 tahun. Padahal setelah hari kecelakaan itu harus nya dia ulang tahun ke 7. Malang sekali nasib nya" jelas yugo.
__ADS_1
"Kecelakaan apa? kok aku tidak pernah melihat wajah nya di foto keluarga kalian?" tanya ku lagi.
Yugo menarik nafas dalam seperti enggan bercerita.
"Jika aku berkata aku yang membunuhnya apa kau percaya?" ujar yugo tiba tiba.
Aku terkejut.
"Maksudnya?" seru ku
"Dia kecelakaan karena aku, aku mengatakan hal yang menyakiti hati nya, ia berlari keluar dan terjatuh di danau belakang villa ini, ia tidak sengaja terpeleset saat berlari di jembatan danau. Saay itu kami berlibur sekeluarga" seru yugo menerawang masa lalu.
Aku menutup mulut ku tidak percaya.
"Apa yang kau katakan pada nya hingga dia berlari seperti itu?" tanya ku.
"Cerita nya panjang lidya wijaya" ujar nya.
Aku yang sedari tadi berbaring pun langsung duduk.
"Cerita kan lah, aku tidak suka penasaran" seru ku.
Yugo melirik ku. Wajah licik nya mulai terlihat.
"Cerita gak yah" jawab yugo sambil tersenyum aneh.
"Is, pelit banget sih" protes ku.
Yugo tertawa.
"Hahaha, aku mau cerita kan semua nya tapi ada syaratnya" jawab Yugo.
"Selaluu saja ada syarat nya!" protes ku.
"Hey, gak baik tidur sore sore, sebentar lagi magrib" ujar ku.
Yugo membuka mata nya sambil mengejek ku lagi.
"Cieh makin perhatian nih yee" ejek nya.
"Apaan sih, mengejek terus, terus apa syarat nya" ujar mu akhir nya.
"Ini" tunjuk nya ke arah bibir nya yang tersenyum lebar.
"Maksud nya?" tanya ku bingung.
"Cium dulu" pinta nya.
Aku langsung memasang tampang jijik.
"Ih, gak mau" jawab ku.
"Ya udah kalau gak mau" seru nya sambil mulai tidur lagi.
"Aku bisa tanya ke dimas nanti" ujar ku.
Yugo malah tertawa.
"Kau yakin Dimas mau bercerita lagi pada mu, melihat mu saja dia enggan" seru yugo.
"Itu karena kamu juga, karena aku menikah sama kamu!" protes ku.
"Loh loh loh, memang nya jika tidak menikah dengan ku kamu bakal menikahi dimas?" tanya yugo.
__ADS_1
"Eng, tidak juga sih" jawab ku.
"Nah, maka nya, seperti nya dimas masih belum menerima kenyataan kalau kamu itu jodoh ku" seru yugo santai.
Aku menghembuskan nafas berat.
"Aku juga tidak menyangka mereka akan menyukai ku padahal mereka sudah tau aku cantik tidak alami, jangan jangan kau tidak mengetahui nya" seru ku.
"Hahahaha, aku tau kok masa lalu mu yang gendut itu, dengan wajah mu yang menakutkan. Hahaha" tawa yugo.
"Menakutkan?" protes ku. Aku cemberut.
"Haha, papa mu yang memberikan ku foto wajah mu di masa sebelum kamu operasi plastik, lucu sekali" ujar nya.
"Iya tertawa saja terus, aku akan makan terus sampai gendut kembali biar kapok kamu punya istri gendut" balas.
"Cieh, mengakui istri ku nih yeh. Gpp kok, kamu gendut atau begini tetap comel" puji nya.
"Kamu ini memuji atau mengejek sih?" Protes ku.
"Haha, ya maaf, memuji kok, serius" jawab nya.
Aku diam sesaat.
"Hm, ya udah, bisa gak sih ceritanya gak pake syarat" seru ku.
Yugo seperti berpikir sejenak.
"Gak ahk, pokok nya syarat nya itu, kalau gak mau yah gpp, silahkan cari tau sendiri tentang naira" seru nya.
"Tanya om eric, eh maksudnya papa atau mama mertua ku ajja deh" seru ku bersemangat.
"Kamu mau buat mereka bertengkar dan bercerai?" cegah yugo.
"Segitu nya?" tanya ku.
Yugo mengangguk.
Aku tidak suka penasaran tapi aku juga tidak mau mencium nya. Ih.
"Pipi ajja yah" tawar ku.
Yugo tertawa lagi.
"Gak mau ih, masa cuma pipi, kita kan udah sah menikah, gak berdosa kok lidya wijaya, justru berpahala loh kalau kamu menyenangkan suami mu ini" seru yugo dengan tatapan genit.
"Tidak" jawab ku sambil berjalan ke arah pintu kamar meninggal nya.
"Kamu yakin?" tanya nya.
Aku tetap pergi. Aku tidak butuh cerita tentang naira. Tidak penting juga bagi ku. Ini hanya rasa penasaran yang mengganggu ku. Bukan hal penting. Aku berusaha menenangkan diri dari rasa aneh yang muncul tiba tiba saat yugo minta aku mencium nya.
Membayangkan nya saja aku merinding.
Aku terdiam memandangi sunset yang indah di luar sana.
Yugo ternyata mengikuti ku.
"Masya Allah, indah ya sunset nya" seru yugo.
Aku tidak menjawab.
"Lebih indah lagi kalau kamu bisa mendengar kan cerita tentang naira, penasaran mu gak akan hilang sampai kamu tau cerita nya" secara tidak langsung yugo mulai menggoda ku lagi.
__ADS_1