
Dingin mulai menusuk karena aku sempat kehujanan tadi. Putra mematikan AC mobil.
Di sela menyetir ia keluar kan jaket yang ia paket dan melempar ke arah ku
"Pakai itu sementara" ujar nya khawatir melihat ku kedinginan.
"Lain kali jangan main hujan lagi nanti kamu sakit" Nasehat nya.
"Iyaa bawel" balas ku.
Sesampai nya di rumah aku segera mandi.
Aku berbaring.
Putra masuk ke kamar ku membawa teh hangat untuk ku.
"Bangun dulu deh, minum teh hangat" tawar putra.
Aku menurut. Perlahan ku minum teh hangat dari putra.
Putra memegang kening ku.
"Tuh kan, demam" putra pergi mengambil obat penurun panas.
"Dasar si Bimo itu, bukan nya berteduh malah ajak main hujan" putra mengomel sambil menyiapkan obat untuk ku.
Ku rapat kan selimut ku, udara terasa dingin padahal AC tidak aku nyala kan. Jendela pun sudah tertutup.
"Eh lupa, udah makan belum?" tanya putra.
Aku menggeleng pelan.
"Ya udah bentar yah. Kamu istirahat ajja dulu sebentar" pinta nya dan bergegas ke bawah mengambil kan ku makan.
Padahal dia bisa ajja minta tolong bibi untuk membawakan segalanya untuk ku. Kenapa mesti repot sih. Yah begitu lah putra, kalo dia bisa sendiri kenapa harus merepotkan orang lain, padahal kan bi Minah di gaji memang untuk mengurus ku juga.
Beberapa menit kemudian aku tertidur.
Putra datang membawa semangkuk bubur.
"Hey bangun dulu, aku udah buat kan kamu bubur nih, makan dulu baru tidur" seru nya.
Aku mengerjapkan mata ku.
Aku pun bangun, dan berusaha duduk.
Putra langsung menyuapi ku bubur itu.
Bubur nya terasa asin, karena air mata ku yang turun bersamaan saat makan.
Entah lah, aku jika sakit, air mata keluar dengan sendirinya.
Badan ku ngilu karena demam.
Sejak kecil jika sakit aku selalu begini, hanya bisa menangis, tidak ada sosok seorang ibu yang tempat ku mengadu.
Aku bersyukur nya ada Bu Minah, satu satu nya yang sangat memperhatikan ku.
Bi Minah datang ketika mengetahui aku sakit.
__ADS_1
"Gpp bi, kembali lah bekerja, biar aku yang mengurus Lidya kali ini" seru putra ke bi Minah.
"Eh baik lah, jangan lupa di minum obat nya yah non" seru bi Minah khawatirkan.
Aku hanya mengangguk.
Akhir nya bubur yang ku makan pun habis.
Setelah itu putra memberikan ku obat penurun demam.
"Apa kita panggil dokter keluarga? kata papa jika sakit panggil beliau saja" tawar putra.
"Gpp kok, aku cuma butuh kamu di sini, aku tidak suka sakit dalam kesendirian" ujar ku.
Aku segera berbaring, putra menyelimuti ku.
Ia memijat ringan kepala ku.
"Jangan sakit sakit dong" seru putra.
"Kan ada kamu yang jagain aku hihi" jawab ku.
Raut wajah putra jadi sedih mendengar perkataan ku.
"Jangan terlalu bergantung pada ku, atau pada siapa pun, kamu harus bisa mandiri, jangan manja, aku gak mungkin selama nya bisa menjaga mu" ujar putra.
Aku langsung bangun kembali, duduk dan menatap nya serius.
"Aku gak mau tau, kamu gak boleh pergi kemana pun, temani aku sampai kapan pun, aku minta sama tuhan untuk mencabut nyawa aku duluan sehari sebelum kamu, jadi jangan bicara aneh aneh!!!" bentak ku.
"Nda usah alay deh, kayak kata kata dalam film. Kebanyakan nonton film pasti, yah kan, Hem, Dah lah kembali tidur sana" seru putra.
Putra seperti berfikir.
"Haha, usia kita gak ada yang tau, kita gak bisa menjanjikan hal itu, semua rahasia Allah, berdoa yang baik baik dong" ujar putra.
Aku menangis lagi.
Ku peluk erat putra yang duduk di samping kasur ku.
"Cengeng banget sih, manja lagi, cup cup cup, jangan nangis dong, kita bakal dewasa suatu saat nanti, kita akan menikah dengan orang yang kita cintai, jadi jangan khawatir, apa pun yang terjadi kita tetap saudara kan" jelas putra sambil menepuk pundak ku.
Aku nyaman dalam pelukan putra. Dekapan terhangat yang pernah ku rasakan. Air mata ku terus mengalir, aku gak bisa kehilangan putra, gak bisa.
"Jika akan kehilangan kamu, kalo gitu aku gak mau nikah" seru ku.
Putra terkejut.
"Loh kok gitu sih? gak boleh ngomong begitu, kamu gak akan pernah kehilangan aku, aku selalu ada kok, kau dan aku berhak untuk bahagia kan?" balas putra.
"Iya, tau, emang sekarang kamu gak bahagia sama aku" ujar ku manja.
"Bahagia sih, tapi kan ada masa nya nanti kita dewasa adik ku sayang" ujar putra gemas.
"Kalo gitu aku gak mau dewasa" seru ku.
"Yah gak mungkin juga, jangan aneh aneh deh, mending kamu tidur gih, istirahat, biar cepat sembuh" seru putra sambil sedikit memaksa ku berbaring dan menyelimuti ku.
"Jangan banyak pikiran" ujar nya lagi.
__ADS_1
"Janji dulu gak bakal tinggalin aku" ucap ku sambil mengeluarkan jari kelingking ku sebagai simbol perjanjian.
Putra tidak langsung membalas jari kelingking ku.
Dengan berat hati ia pun menurut.
"Baik lah, janji" ujar nya sambil jari kelingking kami bertaut.
Putra menunggu ku sampai tertidur pulas.
"Dasar anak ini ,masih seperti anak kecil" ujar putra.
Setelah aku tertidur pulas, putra ke kamar nya untuk mengerjakan pr dari sekolah nya.
.......🌺🌺🌺.......
Aku terbangun dari tidur ku, ku lirik sudah jam 12 malam?
Putra tertidur dalam keadaan duduk di samping kasur ku. Wajah nya bersandar pada kasur.
Ku lihat wajah itu sepuas nya.
Ku raba pipi nya.
Tuhan jangan ambil dia sebelum aku.
Aku bahkan lebih takut kehilangan putra dari pada papa.
Ponsel putra berdering di samping nya.
Aku tak sengaja melihat nama di layar itu.
Siska? lagi? apa setelah Bimo dia mau ambil putra dari ku? oh tidak bisa. Langkahi dulu mayat ku. Batin ku.
Ku angkat telepon itu. Kebetulan putra sedang tertidur pulas.
"Halo, Siska, ada apa kau telpon putra tengah malam begini!" sapa ku.
Siska terkejut Karena aku yang mengangkat telepon nya.
"Bukan urusanmu" seru Siska lalu segera menutup telepon nya.
Aku benci penasaran seperti ini.
Putra tidak pernah mengunci handphone nya. Jadi siapa pun bebas membuka dan melihat isi nya.
Tapi karena alasan privasi aku tidak jadi melihat lihat isi handphone nya.
Putra terbangun karena mendengar suara ku tadi.
"Eh maaf, aku jadi ketiduran di sini" seru putra sembari mengucek mata nya.
"Gpp makasih ya, oh ya tadi Siska telepon, ada apa?" tanya ku tanpa basa basi.
"Oh, mungkin mau bahas kerja kelompok, ada tugas di sekolah, kami satu kelompok" jawab nya.
"Oh, tapi kok tengah malam begini?" protes ku.
"Nah Kalo itu aku gak tau kenapa, ya udah, kamu lanjut tidur yah, besok sekolah kan, aku juga mau tidur nih, ngantuk banget" balas putra sembari berjalan keluar dan masuk ke dalam kamar nya.
__ADS_1