
Malam itu.
Suara ketukan pintu di depan rumah mengagetkan aku.
Perlahan aku melangkah ke depan dan membuka pintu.
Aku terkejut bukan main melihat siapa yang datang.
Kami berdua terdiam sesaat.
"Mama...." Hana dan Hani berlarian ke kaki ku berebut untuk di gendong.
"Silahkan masuk pah" seru ku sembari menggendong hana.
Yugo keluar untuk melihat siapa yang datang. Sambil mengambil hani yang merengek karena melihat hana di gendong oleh ku. Meski masih anak anak ia cemburu.
Aku dan papa masih canggung karena sekian lama tidak bertemu.
Papa datang seorang diri tanpa pengawal tanpa mama dan siapa pun.
"Papa apa kabar?" tanya yugo.
"Em aku permisi dulu mau bikin minum" seru ku.
"Gak usah repot-repot" jawab papa.
"Gpp , gak repot kok pah" ujar ku.
Meski terbilang kehidupan ku sudah kembali sukses tapi kami tidak punya pembantu, aku melakukan semua pekerjaan rumah tangga sendirian.
Dulu aku sempat mempekerjakan baby sitter untuk menjaga anak anak ku dan bekerja sebagai pengacara.
Tapi baru 3 bulan baby sitter itu bekerja ia berhenti karena harus pulang kampung karena orang tuanya sakit.
Akhirnya yugo menyuruh ku berhenti bekerja dan menjaga anak anak dan mengurus rumah saja.
Aku tidak ada pilihan selain Patuh pada suami ku.
Ku letakkan kopi' hangat ke meja ruang tamu dan mempersilahkan papa untuk minum.
"Terima kasih lidya" seru papa.
"Ih formal banget sih bahasa nya sama anak sendiri" protes ku.
Papa malu dan mulai menyeruput kopi nya.
"Maafkan papa ..." ucap papa.
Aku tersenyum.
"Cieh...." seru ku.
Yugo menepuk lengan ku karena sempat sempat nya becanda di saat seperti ini.
Yugo melotot ke arah ku.
"Iya iya. Maafin aku juga pah" jawab ku akhir nya.
Yugo tersenyum.
"Kamu apa kabar? apa itu cucu papa?" tanya papa terharu melihat cucu nya.
__ADS_1
Aku mengangguk.
"Alhamdulillah baik pah, iya ini cucu papa. kembar hehe" jawab ku.
"Ah syukur lah kalau begitu" ujar papa.
"Cieh masih muda sudah jadi kakek" seru ku.
Yugo lagi lagi menyenggol lengan ku.
Papa tertawa.
"Haha iya, kakek muda" jawab papa.
......🌺🌺🌺......
Keesokan harinya.
James hanya bisa terbaring lemah di rumah sakit karena sakit yang di deritanya.
Dalam kelemahan ia memanggil sekertaris nya untuk menemui yugo dan istri nya.
Minggu ini adalah hari libur kerja nya yugo. Seperti biasa kami jalan jalan sekeluarga.
Aku menggendong hani dan yugo menggendong hana.
Kami memasuki sebuah cafe siang itu. Ramai karena weekend.
Ponsel yugo berdering.
Nomor tidak di kenal. Yugo ragu untuk menjawab nya tapi aku menyuruh nya untuk angkat telepon itu siapa tau penting.
"Halo Assalamualaikum" sapa yugo.
"Iya dengan saya sendiri, ini dengan siapa? ada apa ya?" tanya yugo.
"Saya sekertaris pak james. Maaf mengganggu waktu nya ,bisa kita bertemu?" tanya nya.
"Maaf, ada perlu apa, saya sibuk" tolak yugo.
"Kalau begitu saya saja yang menemui anda sekarang anda ada di mana?" tanya nya.
Yugo menanyakan pendapat ku dulu sebelum memberi tahu keberadaan kami.
Aku mengangguk setuju saja.
Yugo lalu memberi tahukan alamat sedang di mana mereka sekarang.
Tidak lama kemudian sekertaris james datang menemui kami bersama seorang pengacara.
Raut wajah yugo sebenarnya tidak baik baik saja saat ini. Dia tidak mau lagi berurusan dengan james.
Ku peluk lengan yugo menenangkan nya. Sambil tangan kiri ku memeluk anak ku.
"Ada apa?" tanya yugo tanpa basa basi.
"Hm begini pak Yugo, saya dapat Amanat dari pak james. Beliau ingin bertemu kalian, beliau ingin meminta maaf secara langsung" jelas radit. Sekertaris james.
"Kenapa tiba tiba mau minta maaf, kemarin kemana saja? hm, kalau memang mau minta maaf secara langsung kenapa tidak dia saja yang datang, kenapa harus kamu" seru Yugo yang berusaha untuk tidak emosi.
"Maaf, pak james tidak bisa datang kemari, tapi kita bisa mengunjungi nya jika anda berkenan" pinta radit.
__ADS_1
"Dia yang mau minta maaf kenapa kami yang harus repot-repot menemui nya, maaf kami tidak ada waktu, silahkan anda pergi" ujar yugo geram.
Drama apa lagi yang james rencana kan untuk nya? tidak cukup puas kah ia. Apa sekarang ia akan menghancurkan keluarga nya lagi?
"Sabar mas" ucap ku sambil mengelus lengan suami ku.
"Aku tidak masalah dengan apa yang ia lakukan pada ku, aku hanya tidak bisa menerima perlakuan nya terhadap mu dulu, ingat , kita kehilangan anak kita karena dia" ujar Yugo.
Aku menggeleng.
"Sudah takdir mas, memaafkan bukan karena dia telah jahat sama kita, tapi untuk kedamaian diri sendiri. Sampai kapan kita menyimpan duri di dalam hati?" nasehat ku.
Yugo menatap mata ku.
"Jadi bagaimana pak yugo, bisa kah anda ikut bersama kami menemui pak james?" tanya radit.
Aku mengangguk ke arah yugo.
Yugo menggeleng.
"Harus kita yang menemuinya?" tanya yugo.
Aku mengangguk.
Radit mengangguk.
"Memang nya kenapa dia tidak bisa menemui langsung?" tanya yugo.
"Nanti pak yugo juga tau alasannya setelah menemui nya" seru radit.
Akhir nya yugo setuju dan kami beramai ramai menuju tempat james.
Awal nya kami tidak menyangka akan di bawa ke sebuah rumah sakit.
Setelah masuk di ruang vviv rumah sakit swasta itu kami pun melihat james yang terbaring lemah di rumah sakit. Wajah nya pucat. Badan nya mulai kurus.
Seperti tidak ada tenaga sama sekali.
"Apa yang terjadi?" tanya ku ke radit.
"Pak james sakit. Lambung. Gerd" jelas radit.
"Yugo...." seru james lirih.
Meski yugo masih terlihat enggan mendekati james tapi ia perlahan melanjutkan mendekati nya.
"Maafkan... aku... " seru james. gerd benar benar mengambil tenaga james saat ini.
Gerd adalah sakit mag akut yang sudah memasuki fase lebih serius. Gerd adalah si pembunuh diam diam. Karena perlahan lahan membuat berat badan pasien berubah drastis. Jika tidak di tangani dengan serius gerd bisa mematikan.
Aku mengelus pundak yugo.
"Iya, sudah kami maafkan sebelum kamu meminta maaf, lekas sembuh, aneh melihat mu lemah seperti ini" jawab yugo.
Air mata james mengalir, di saat ia sudah tidak bisa di maafkan lagi yugo masih mau menyapa nya, masih mau menemui nya dan mendoakan kesembuhan nya, betapa besar hati yugo dan istrinya.
"Sudah ah ,gak usah mewek mewek, jelek tau" ujar yugo.
James tersenyum.
James memberi kode ke radit untuk menyampaikan amanat nya.
__ADS_1
"Pak yugo dan istri, maaf, bisa duduk sejenak? saya akan membacakan wasiat dari james untuk kalian" seru pak pengacara mempersilahkan kami duduk di kursi tamu di ruangan rumah sakit vviv itu.