Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bab 17


__ADS_3

Aku bawa motor matic untuk menjemput Bimo di rumah nya.


"Ya elah belum siap siap?! protes ku ketika melihat Bimo masih santai di teras rumah nya.


"Hihi, maap lid, aku keasikan main sama kucing ku" jawab Bimo sambil berlalu pergi ke dalam kamar nya untuk ganti baju


Aku pun menggendong nomun kucing lokal kesayangan milik bimo yang menggemaskan itu, warna bulu nya abu abu putih.


Nomun sangat manja dan penurut, aku membawa nya ikut masuk ke dalam kamar Bimo.


Seperti biasa tanpa mengetuk pintu aku langsung masuk ke kamar nya. Kami memang sangat akrab sejak kecil.


Terlihat Bimo belum memakai baju nya, ia hanya mengenakan boxer.


"Astaga lidyaaaa, kebiasaan deh masuk gak bilang bilang" pekik Bimo panik menutupi dada nya yang bidang.


" Apaan sih Bim. Sok malu , perasaan sudah biasa deh" jawab ku santai sambil meletakkan nomun di tempat tidur.


"Ya , tapi sekarang kan kita sudah besar Lidya," protes Bimo yang buru buru memakai baju dan celana panjang nya.


"Apa nya yang sudah besar. Badan ku???" tanya ku.

__ADS_1


"Bukan itu jamelaa, udah ahk, lain kali masuk kamar ketuk pintu dulu yah, loe gak mau kan liat gue telanjang" ujar Bimo.


Seketika aku bergidik.


"Ihh ya gak lah. Maka nya cepetan donk." teriak ku sambil melemparkan bantal ke arah nya.


"Nomun nomun nomun Mun" ucap ku sambil menggendong nomun seperti bayi.


"Loe kira anak bayi di kelonin gitu" kata Bimo.


"Terserah, udah siap belom ih lama banget kayak cewe" protes ku.


"Sudah bawel", Bimo mengambil kacamata nya.


Kenapa aku baru sadar sekarang kalo sahabat ku ini sudah tumbuh seperti ini. Badan nya tinggi, wajah nya yah lumayan lah, mungkin faktor kacamata yang membuat nya terlihat culun.


"Enak aje, ganteng sih ganteng tapi aku buta kalo gak pake kacamata" ujar nya.


"Pake softlens Napa sekali sekali" saran ku.


"Apaan sih, ribet amat hidup, yang simpel ajja lah, mau jalan gak sih," Bimo mulai tidak nyaman dengan obrolan kami, ia memakai kacamata nya dan kembali jadi Bimo yang culun.

__ADS_1


Kenapa aku tidak sadar selama ini kalo Bimo itu punya badan yang bagus. Apa dia cuma berpura pura culun. Ah tidak tidak, aku kenal Bimo sejak kecil. Mata nya memang minus.


Di teras Bimo berbalik ke arah ku.


Kedua tangan nya memegang pipi cabi ku.


"Jangan berubah jadi menyebalkan yah" ujar nya sambil mencubit seperti biasa nya.


Ia memang hobby mencubit gemas pipi ku.


"Tumben pakai motor?!" tanya Bimo saat melihat motor terparkir di depan rumah.


"Aku cape jalan kaki" jawab ku. Rumah kami tidak terlalu jauh, biasa nya jika akan jalan, aku jalan kaki ke rumah Bimo lalu kami sama sama naik bus ke kota.


Papa benar benar membatasi ku dengan fasilitas di rumah. Padahal bisa mudah bagi ku kemana saja dengan mobil.


Bimo memakaikan ku helm, dia memang sahabat ter manis sedunia. Hanya dia yang tulus dengan ku apa ada nya.


Kami meluncur menuju kota mencari hiburan dari pelik dan lelah nya belajar selepas ujian semester.


Besok pembagian raport.

__ADS_1


Angin sore berhembus ringan, menggugurkan dedaunan pohon di atas sana.


Aku melihat langit indah sore itu.


__ADS_2