
Selepas penerimaan hadiah kami pun bubar, masuk ke dalam kelas masing masing.
Sementara ada saja yang mendekati ku untuk memberikan hadiah. Loker ku sampai penuh. Wulan juga banyak menerima hadiah dari siswa siswi di sekolah ini yang menghargai usaha kami.
Dimas belum bisa hadir di sekolah.
Aku berjalan di koridor seorang diri. Tiba tiba seseorang datang menemui ku.
"Dimas tidak jatuh, dia kecelakaan di jalan kemarin" ujar nya.
"Maksud mu?" tanya ku
Seorang laki laki culun berkacamata di depan ku sedang memperbaiki kacamata nya yang ter turun.
Mengingat kan ku pada bimo.
"Aku abdi, dari kelas 2-7, kemarin aku melihat Dimas di tabrak mobil saat hendak pergi ke gedung olahraga kota" seru nya.
"Kau mengenal Dimas?" tanya ku.
"Iya dulu kami teman sekelas saat kelas 1" jawab nya.
Aku pun menyuruh nya duduk di sebelah ku untuk bercerita lebih banyak.
"Aku melihat nya terburu buru berlari ke arah gedung olahraga tanpa melihat kendaraan yang melintas, dia pun tertabrak dan jatuh tersungkur, aku saat itu hendak pulang karena pertandingan sudah selesai. Ku lihat bunga yang dia bawa pun terjatuh. Pengendara liar itu kabur begitu laju dan aku tidak sempat melihat plat mobil nya. Suasana sepi saat itu, hanya ku saksi nya. Aku berusaha membawa Dimas ke rumah sakit tapi dia malah menolak pertolongan ku, dia bersikeras bangkit, mengambil kembali bunga nya dan masuk ke dalam gedung olahraga. Aku yakin ada hal penting yang ingin dia sampaikan ke seseorang saat itu" ujar abdi.
Aku menutup mulut ku tidak percaya.
"Apa kau tau siapa yang ingin dia temui itu?" tanya ku.
"Belum pasti tapi seperti nya kamu, aku sempat melihat kartu ucapan di bunga itu ada nama lengkap mu, tapi aku tidak baca isi di dalam nya" jawab abdi.
"Aku sudah bertemu dengan nya, bahkan sampai ke rumah sakit. Kami juga sudah ngobrol banyak, mungkin hanya ucapan selamat untuk kemenangan kami, yah meski hanya jadi juara ke 2" seru ku.
Abdi mengangguk.
Adit melihat ku dari kejauhan yang sedang ngobrol bersama abdi. Adit mendekati kami.
Abdi seperti ketakutan melihat Adit, dia pun segera pamit pergi menjauh dari ku.
"Eh kok buru buru sih" panggil ku saat abdi kabur.
"Apa yang dia katakan pada mu?" tanya Adit.
"Bukan apa apa dia hanya menanyakan kabar Dimas, dia khawatir sebagai teman lama nya dulu" jawab ku bohong.
"Jangan dekat dengan nya, dia orang aneh" gerutu Adit.
Apa mereka dulu satu kelas juga yah?
"Aneh? memangnya kamu akrab dengan dia?" tanya ku.
"Gak sih, cuma denger orang ajja" jawab Adit.
__ADS_1
"Gak baik mendengar cerita dari orang lain yang belum tentu benar" ujar ku
"Iya bawel" jawab Dimas. Kami pun kembali ke dalam kelas.
Wali kelas kami datang
"Anak anak, sekolah kita Minggu depan akan mengadakan touring, camping di luar sekolah jadi persiapkan diri yah" seru pak Budi.
Teman teman langsung rame menyambut berita itu.
Langsung heboh dengan ekspektasi nya masing masing.
Aku hanya duduk santai membaca novel dari perpustakaan yang ku pinjam, karena hari ini jam kosong, guru nya berhalangan untuk hadir.
Teman teman ramai membicarakan rencana mereka Minggu depan.
"Li, kamu gak kok diam ajja, gak tertarik ikut tour?" tanya Mai.
"Bukan gak tertarik, aku pasti ikut kok, cuma ya masih lama juga, ngapain heboh dari sekarang" jawab ku.
"Iya sih, ah syukur lah, aku pikir kamu gak mau ikut" seru mai.
Aku melirik bangku kosong di sebelah ku, sepi juga gak ada dia, tapi kalo ada dia nyebelin, selalu mengganggu ku.
Aku teringat tugas membersihkan toilet Dimas, aku segera bangkit dan melihat kondisi toilet.
Terlihat Roni kelelahan karena mengerjakan nya sendirian.
"Maaf yah, Dimas sakit jadi gak bisa ban...."kalimat ku di potong oleh Roni.
Bukan nya pergi aku malah merampas alat kebersihan itu.
"Kau duduk saja, sisa nya aku yang bersihkan!!!" tegas ku.
Roni mendorong ku keluar toilet.
"Untuk apa kau bantu dia, hah, kau pacar nya?" tanya Roni.
"Membantu sesama apa harus pacaran!!!" pekik ku mendorong balik tubuh Roni.
Aku segera membersihkan toilet wanita, Roni sudah membersihkan semua toilet kecuali toilet wanita karena. Selalu saja ada wanita yang masuk membuat nya tidak enak.
"Toilet wanita serahkan pada ku!!" pekik ku.
Roni men decak kesal.
Ia tetap membantu ku membersihkan toilet wanita bagian luar. Seperti westapel dan kaca nya.
"Kau tidak membenci ku?" tanya Roni tiba tiba.
"Benci? karena apa?" tanya ku balik.
"Karena aku sudah menghina mu di depan umum" jawab nya.
__ADS_1
"Benci dong,, masa enggak, haha, canda benci" balas ku.
Roni menyiram ku air dari westapel.
"Ih, Roni!" bentak ku.
"Maafkan aku yah" ungkap nya.
"Hem. Maafin gak yah" jawab ku.
"Ya udah kalo gak mau" Roni mulai ngambek.
"Ih, gitu ajja ngambek. Meski lo gak bilang sudah aku Maapin kok, tenang ajja, aku kan baik dan tidak sombong, yah meski semua orang menjuluki ku monster plastik, hehe" seru ku.
"Dan kau masih bisa tertawa?" ujar nya.
Aku tersenyum sambil bekerja.
"Beruntung sekali cleaning servis sekolah ini selama 1 Minggu gak bersihkan toilet" kata ku.
Roni geleng kepala melihat ku yang masih bisa tertawa dan tersenyum saat ini.
"Kamu udah dengar berita, Minggu depan sekolah ada kegiatan tour di luar sekolah" tanya ku.
"Sudah, kau pikir aku kudet, kurang update" protes nya.
"Ya, kan cuma nanya, siapa tau kamu belum tau" jawab ku.
"Aduh mata ku kelilipan nih, mungkin masuk debu. Tiup dong" Roni meringis.
"Rendam di air ajja" tolak ku.
"Pelit banget sih, cepetan" paksa nya.
Mau tidak mau aku pun meniup mata nya.
Roni mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dengan gerakan cepat Ia mencium pipi ku.
Aku refleks menghindar dan menampar nya.
"Dasar mesum, kau sudah gila ya!" bentak ku.
"Hehe, sory sengaja" jawab nya. Aku melemparkan kain pel ke arah nya.
Tiba tiba ada yang hendak masuk ke toilet
"Eh maaf ,boleh aku masuk, kebelet nih" ujar seorang siswi.
"Boleh dong, Roni, keluar kamu, lagian pekerjaan kita sudah mau selesai" usir ku.
Ku dorong tubuh Roni sekuat tenaga menuju pintu keluar toilet wanita.
Tidak lupa aku lempar kain lap dan alat kebersihan lain nya ke arah nya karena sudah kurang ajar tadi.
__ADS_1
Roni hanya tersenyum menjengkelkan sambil memungut alat kebersihan itu.