
Selesai obrolan tidak penting ku dengan yugo aku pun pulang, banyak tugas kuliah ku yang terbengkalai.
Di depan laptop aku merenung, putra sedang apa yah, semoga dia baik baik saja.
Bulan depan aku akan menikah, bulan depan. Huft. Aku menekuk kaki ku di atas kursi meja belajar. Laptop menyala. Sebuah notifikasi muncul di handphone ku.
Ku lirik sesaat ponsel ku tapi aku tidak menghiraukan nya karena aku sibuk mengerjakan tugas. Kepala ku terasa penuh.
Versi feby.
Di tempat lain feby masih menangisi nasib nya ,bukan kemauan nya menolak Yugo. Sejak awal Orang tua nya tidak merestui hubungan mereka tapi feby tetap saja melanjutkan hubungan mereka. Meski harus kandas seperti ini. Ia bingung harus marah pada orang tua nya. Tega sekali orang tua tidak mengijinkan anak nya menikah, hanya menginginkan anak nya sukses, untuk apa? untuk mereka? untuk menjadi tulang punggung mereka?
Feby bukan lah dari kalangan orang berada. Feby hidup sederhana dengan orang tua nya. Ayah nya menyuruh dia kuliah agar ia berpendidikan tinggi dan kelak gampang dapat kerja yang lebih baik. Feby juga kerap kerja paruh waktu di minimarket untuk uang tambahan buat ia jajan diri sendiri. Uang nya juga sebagian ia beri ke orang tua nya yang sudah tidak bekerja. Tulang punggung keluarga, yah, feby adalah wanita tulang punggung di keluarga nya. Ia terpaksa bekerja untuk keluarga dan kuliah nya, syukur Feby kuliah biaya beasiswa. Dan pacaran dengan yugo pun sangat membantu ekonomi nya.
Bukan maksud feby memanfaatkan yugo tapi memang keadaan nya yang susah.
Feby melipat kedua kaki nya menangis dalam kesendirian di dalam kamar nya.
Ia bolos kerja karena demam akibat syock menerima kenyataan pahit di hadapan nya.
Feby meremas foto nya berdua dengan Yugo.
Hati nya sangat sakit.
Dalam kelelahan menangis akhir nya ia tertidur pulas. Seorang diri.
Yugo tau hubungan mereka rumit, terhalang restu. Maka nya ia menyerah. Sesenggukan feby meratapi nasib nya sendiri. Tuhan, ini kah yang terbaik dari mu? dosa apa ia harus mengalami ini, Tuhan, sakit sekali. Batin feby.
__ADS_1
Berhari hari feby hanya bisa diam di tempat tidurnya meratapi nasib nya. Ia tidak masalah bila tidak berjodoh dengan yugo yang dia masalah kan adalah cara nya Yugo yang diam diam menghilang dan menyakiti nya.
Yugo dulu sangat mencintai nya kini berpaling. Wanita itu, dari kalangan yang setara dengan nya.
Feby berusaha menemui keluarga yugo meminta penjelasan. Karena mereka juga tau bahwa mereka ada hubungan, pacaran , tapi kenapa mereka diam diam menjodohkan anak nya dengan yang lain?
Dalam keterpurukan, langkah gontai feby pun masuk ke dalam rumah mewah Yugo.
"Assalamualaikum" sapa feby sambil mengetuk pintu.
Bibi melangkah ke depan untuk membuka kan pintu. Tapi dimas yang maju lebih dulu membukakan nya.
"Kak feby? silahkan masuk" tawar Dimas.
Dimas memperhatikan seraut wajah memprihatinkan dari feby. Mata nya bengkak ,kantung mata nya juga hitam seolah tidak tidur berhari hari. Tidak seceria biasa nya. Feby dulu memang kadang berkunjung rumah nya, meski tidak sering.
"Maafkan Tante yah feby" seru mama nya dimas sebelum feby berkata apa pun.
Feby diam. Sorot mata nya lurus ke depan. Seperti orang yang kehilangan cahaya hidup.
Pak eric terkejut melihat ada feby datang.
"Kenapa kalian memperlakukan aku seperti ini?" tanya feby.
Mama dimas diam, ia tidak terlibat perjodohan ini, ia hanya mengikuti keinginan suami nya.
Pak eric duduk di hadapan feby.
__ADS_1
"Nak feby, maaf sebelumnya jika ini menyakitimu, mungkin memang kalian bukan jodoh, jadi tolong Terima lah kenyataan" seru pak eric.
"Jodoh? aku tidak masalah jika memang tidak berjodoh dengan nya, tapi kenapa kalian merahasiakan ini? apa kalian takut aku menghancurkan pernikahan nya? apa susah di antara kalian itikad baik dan memberi tahukan aku kabar buruk ini? kalian punya hati kan. Manusia mana yang gak sakit hati lantaran di tinggal menikah kekasih nya. Apa lagi cara kalian yang tidak manusiawi. Setidak nya beri tahu aku agar aku tidak sesakit ini, setidak nya yugo memutuskan hubungan nya dengan ku dahulu sebelum berpaling ke yang lain, gak seperti ini!" pekik feby kembali menangis. Kepala nya sampai sakit karena terlalu banyak menangis.
Dimas menatap iba ke feby. Perjalanan ini sungguh menyakiti hati banyak orang. Termasuk diri nya sendiri.
"Bukan salah kami, ini juga persetujuan dari yugo, dia sudah tidak mau lagi dengan mu." seru om eric. Hanya itu yang bisa dia katakan?
Feby menatapnya datar.
"Baik lah , di atas langit masih ada langit, apa yang kita tanam itu lah kelak yang kita tuai, jika aku beruntung aku akan menyaksikan sendiri timbal balik dari kejadian ini" jawab feby sembari pamit pulang.
Bukan hanya orang tua feby tapi orang tua yang tua yugo juga tidak merestui hubungan ini. Tidak jodoh, yah begitu lah, jika tidak jodoh pasti susah jalan nya.
Feby berjalan kaki menuju keluar, dimas berlari mengikuti nya.
"Kak, aku antar pulang yah" tawar dimas.
"Tidak usah dim, Makasi," tolak nya.
"Kak feby naik apa, rumah kak feby kan jauh banget di luar kota, berjam jam lama nya abru sampai.
"Aku bisa naik bus" jawab nya singkat.
Dimas masih kekeh mengikuti nya.
"Pergi lah!!!" aku tidak butuh bantuan kalian!" pekik feby keras.
__ADS_1
Langkah nya semakin jauh, membuat dimas tak enak hati.