Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Tante Sifa.


__ADS_3

"Aku permisi sebentar yah" seru ku tiba tiba.


Tante Sifa hanya tersenyum mengangguk.


Aku diam diam memesan lagi makanan dan memesan kan minum lain, syukur sistem pembayaran kedai pelangi ini bayar dulu baru bawa makanan sendiri ke tempat.


Ku bawa nampan itu ke hadapan Tante Sifa.


"Ini untuk Tante" seru ku


"Waduh, apa ini? kenapa jadi kamu yang traktir Tante, Tante jadi gak enak nih" seru Tante Sifa.


"Gpp kok, gak seru deh kami makan tapi Tante enggak ikut makan, masa iya Tante cuma nonton kami makan" jawab ku.


Tante Sifa agak canggung awal nya tapi akhir nya ia mau juga menyentuh jajanan itu.


Aku tersenyum senang melihat nya lahap. Tante Sifa pasti bohong tadi bilang kenyang. Batin ku.


Lipstik menor nya pun mulai luntur.


Ku perhatikan wajah nya baik baik. Tante Sifa asli nya pasti cantik. Lantas kenapa dia dandan menor seperti itu yah?


"Ada apa?" tanya nya pada ku. Seperti nya dia sadar aku memperhatikan dia sejak tadi.


"Eh, gpp kok, kagum ajja liat kecantikan Tante Sifa hehe" jawab ku.


"Ah gombal ,maaf ya, gak ada uang kecil, apa lagi uang besar wkwkwk" tawa Tante Sifa.


Maharani dan aku ikut tertawa.


Pria arogan itu sudah tidak ada di tempat nya. Huft syukur lah.


Yugo melangkah keluar membawa sebungkus Jajanan untuk di bawa pulang.


Dia menoleh sesaat ke arah ku, aku segera pura pura ngobrol dengan maharani.


Dia tersenyum sinis lalu keluar menuju tempat parkir mobil nya.


"Habis ini Tante mau kemana, Tante gak kerja hari ini? ayo, aku anterin sebelum mengantar Maharani pulang, atau Tante mau langsung pulang juga?" seru ku.


"Tante minta libur kerja hari ini, jadi besok baru kembali bekerja lagi, Tante merasa sudah saat nya tante hadir, hari ini kan hari terakhir kalian jadi siswa di sekolah itu, sekarang sudah pelepasan siswa siswi SMA pelita, Tante lega dan bangga Maharani bisa peringkat meski ke 3 tidak apa apa, Tante berhasil menyekolahkan nya hingga lulus SMA tapi Tante tidak yakin bisa membiayai kuliah nya, Oh ya kita nanti langsung pulang saja ya ran. Jadi antar kami pulang ke rumah saja setelah ini."Seru Tante Sifa pada ku.


Maharani menatap Tante nya sesaat dan memegang tangan nya.


"Maafin Maharani yah jika menjadi beban Tante, Maharani tetap akan kuliah kok, ada beasiswa, jadi Tante gak perlu khawatir" ujar Maharani.


"Uh baper" seru ku.


Lagi asik ngobrol tiba tiba saja seorang ibu ibu mendatangi meja kami. Dia menyiram Tante Sifa di depan umum.

__ADS_1


"Dasar pelakor murahan!!!" bentak nya.


Bukan sekali, tapi ia menyiram wajah nya berkali kali. Aku dan maharani terkejut dan segera menjauhkan Tante sifa dari ibu itu.


"Kamu siapa hah!!!" balas Tante Sifa.


Suasana jadi gaduh, aku berusaha agar pengunjung tidak ada yang merekam kejadian yang akan mempermalukan Tante Sifa.


Wanita dewasa itu geram dan maju menarik rambut Tante Sifa, menyeret nya keluar dari kedai pelangi.


Aku dan maharani mengejar nya.


Tante Sifa meringis kesakitan.


Aku pun panik. Aku terpaksa menggunakan ilmu bela diri ku untuk bisa memisahkan Tante Sifa dari wanita itu.


"Anak kecil sialan, yang kau bela itu perempuan murahan, pelakor, pelacur!" bentak nya.


"Jadi begini cara ibu menyelesaikan masalah?" tanya ku.


"Kau anak kecil tau apa, hati siapa tidak sakit suami nya di rebut orang lain, tanya saja sendiri sana sama dia, dasar wanita ******!" umpat nya.


Tante Sifa hanya diam saja tidak melakukan pembelaan apa pun. Apa benar Tante Sifa pelakor?


Wanita itu mulai beringas lagi dan menyerang Tante Sifa. Tante Sifa yang sudah berantakan hanya bisa pasrah namun tiba tiba terdengar suara klakson mobil nyaring sekali, memekakkan telinga, mengangetkan kami semua. Sebuah mobil tepat di hadapan kami membunyikan klakson nya lagi dan lagi, sehingga menghentikan aksi wanita itu.


"Heh kalau mau berkelahi jangan di jalanan, nyusahin orang ajja!!!" bentak nya.


Aku mengenali suara itu. Mr.galak? dia belum pergi ternyata.


Yugo turun dari mobil nya.


"Heh, bisa minggir gak semua, aku jadi gak bisa lewat nih!!" protes nya.


"Kamu kan bisa keliling" jawab ku.


"Keliling? kalo ada jalan lurus kenapa harus keliling? minggir!" bentak nya sembari mendorong tubuh ku ke samping, hampir saja aku jatuh ,syukur aku bisa menahan diri.


Yugo kembali ke mobil nya.


Maharani membawa kami semua untuk minggir ke samping jalan.


"Urusan kita belum selesai, dasar pelakor sialan!" bentak wanita itu sembari pergi bersama seorang teman wanita.


Aku melihat wajah dan rambut Tante Sifa yang berantakan.


"Tante gak kenapa kenapa?" tanya ku hati hati.


Tante Sifa malah tertawa. Aku di buat bingung jadi nya.

__ADS_1


Tante Sifa mengambil tisu basah di dalam tas nya. Lalu mengelap make up menor nya yang sudah separuh luntur.


Aku terperangah melihat perbedaan nya.


Dimana mana orang makeup untuk cantik dan menutupi kekurangan. Ini justru sebaliknya.


Tante Sifa jauh lebih muda dan cantik setelah menghapus makeup nya. Dia seperti menyamar menjadi seorang ibu ibu dewasa padahal masih muda dan cantik. Kerutan di wajah nya ternyata hanya di buat buat Dengan makeup. Asli nya sangat kencang dan mulus.


"Kita pulang yuk, Tante berantakan begini, malu" seru nya.


Aku masih tidak percaya dengan wajah asli Tante Sifa. Tidak, aku tidak pernah bertemu orang seperti Tante Sifa ini. Apa alasan nya berdandan menor seperti tadi?


"Lidya!" panggil Maharani membuyarkan lamunanku.


Aku tersentak kaget saat Maharani mengguncang tubuh ku.


"Eh ada apa?" tanya ku bingung. Saking kagum nya aku sampai tidak fokus dengan apa yang Tante Sifa katakan.


"Tante Sifa minta di antar pulang" jawab Maharani.


"Ah, iya,baik lah" aku pun segera melangkah menuju tempat parkir mobil.


Sepanjang jalan aku masih tidak percaya dengan apa yang aku lihat.


"Kamu kenapa sih lid, tiba tiba bengong gitu" seru Maharani.


"Ah aku kaget melihat wajah asli Tante Mona, cantik banget" seru ku.


"Oalah, kiraen kenapa, Tante Sifa emang gitu. Suka dandan kayak orang tua padahal masih muda" jawab Maharani.


Tante Sifa hanya tersenyum tipis. Namun ada raut khawatir di wajah cantik nya.


Ia seperti menyembunyikan sesuatu.


"Tante kenapa diam ajja tadi ketika di serang ibu ibu itu?" tanya Maharani.


Aku hanya menyimak sembari menyetir.


"Gpp kok, sudah biasa" jawab nya.


"Apa benar Tante merebut suami ibu itu?" tanya Maharani khawatir.


"Tidak, itu tidak benar" jawab nya.


"Ah, syukur lah kalau begitu, wah bisa di tuntut itu ibu ibu, pencemaran nama baik" protes Maharani.


"Gak perlu, gpp kok, Tante baik baik saja" jawab Tante Sifa.


Aku menatap wajah Tante Sifa dari spion tengah mobil ku. Tante Sifa pasti tidak baik baik saja, ia pasti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


__ADS_2