
Aku segera mengambil ransel dan pulang.
Jujur punggung ku sakit sekali tapi aku menahan nya.
Di kamar aku langsung buka baju dan melihat punggung ku di cermin. Berwana biru seperti memar.
Aku minta tolong bi Minah untuk mengobati punggung ku.
"Ya Allah, kok bisa sampai seperti ini punggung nya non" seru bi Minah khawatir.
"Aduh, Pelan pelan bi" seru ku.
Kulit ku tidak luka tapi jika di Sentuh terasa sakit. Dan rasa nya lelah sekali.
Ak mengambil ponsel ku dan segera menghubungi putra yang sedang berada di perjalanan pulang kampung.
Tapi belum bisa di hubungi.
Dengan cemas aku menunggu kabar dari nya.
......🌺🌺🌺......
Putra telah sampai di bandara udara internasional Juwata Tarakan.
Ia dorong koper nya menuju parkiran.
Ia naik taksi bandara.
Putra pulang ke rumah nenek nya. Menaruh barang barang nya kecuali ransel yang ia pakai.
Tante Luna dan nenek sekeluarga sudah menunggu nya di rumah sakit.
Tanpa menunggu lama putra ke rumah sakit.
Putra sedikit berlari menuju ruangan tempat bapak nya di rawat.
Putra berlari, dengan nafas tersengal sengal ia menuju pintu kamar bapak nya dan terlambat.
Ia sudah melihat semua keluarga menangisi kepergian bapak nya.
"Nek, bapak masih ada kan" tanya putra memastikan.
Nenek menggeleng , air mata nya mengalir di wajah tua nya. Tangan kecil keriput nya mengusap air mata nya sendiri.
Seketika itu juga lutut putra lemas.
Ia terduduk menyesal karena terlambat datang.
Tangis nya pun pecah.
"Sabar nak, ini sudah takdir. Ajal tidak bisa maju atau mundur sedetik pun ,semua sudah ada masa nya" ujar Tante Luna.
__ADS_1
Nenek memeluk putra. Putra semakin menangis sambil memukul mukul lantai.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun, bapak....... maafin putra pak" seru putra sembari memegang telapak kaki bapak nya untuk yang terakhir kali.
Banyak sekali orang yang berkunjung ke rumah sakit melihat bapak nya, termasuk Clara sekeluarga.
Jenazah segera di pindah kan ke rumah duka.
Rumah nenek.
Keluarga dari bapak nya putra banyak yang datang. Bahkan Jeny pun ada bersama mama nya hadir.
"Sabar dan tabah yang putra" seru Jeny.
Nenek mendekati putra.
"Nenek tau, bapak mu banyak salah dengan mu dan ibu mu, tapi tolong maafkan lah dia, bagaimana pun juga dia bapak mu" ujar nenek.
"Pasti nek, putra sudah memaafkan nya" seru putra.
Ia sempat tidak ingin bertemu bapak nya saat liburan ke Tarakan, karena perangai bapak nya yang tempramen, ringan tangan memukul nya. Itu lah sebab nya ia trauma. Tapi bagaimana pun juga tetap saja dia adalah bapak nya.
Putra termenung sendiri menatap ke arah jenazah bapak nya.
Ramai warga datang melayat datang dan pergi, sebagian tinggal untuk mengantarkan hingga ke pemakaman.
Clara duduk di samping putra, berjarak 1 meter ,memakai gamis dan hijab hitam.
Putra menatap Clara, tersenyum tipis. Mata nya masih bengkak akibat terlalu banyak menangis. Di saat seperti ini tidak mengapa kan lelaki menangis. Tentu.
Setelah jenazah di sholat kan di masjid, mereka pun berbondong-bondong ke pemakaman.
Selesai pemakaman putra tidak langsung pulang, ia menyisakan air dan kembang untuk makam lain.
Satu persatu mereka pergi meninggalkan pemakaman.
Clara dari kejauhan melihat putra berjalan tidak ke arah keluar Pemakaman justru semakin ,masuk.
Putra berjalan menuju pemakan lain. Dan berhenti sesaat.
Ia memandang nisan itu.
Annisa adimarwan binti Indra adimarwan.
"Assalamu’alaikum ahlad-diyaar minal mu’miniina wal muslimiin. yarhamulloohul mustaqdimiina minnaa wal musta’khiriin. wa inna insyaa alloohu bikum la-laahiquun. wa as alullooha lanaa walakumul ‘aafiyah.
Artinya: "Semoga keselamatan tercurah kepada kalian, wahai penghuni kubur, dari (golongan) orang-orang beriman dan orang-orang Islam, semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang belakangan. Kami insya Allah akan menyusul kalian, saya meminta keselamatan untuk kami dan kalian" Doa putra ini sudah ia lakukan tadi sebelum masuk area pemakaman.
"Dek, bapak udah gak sakit lagi seperti mu, Semoga kalian termasuk ahli kubur, tunggu kakak yah" seru putra sembari menabur bunga sisa dari kuburan bapak nya, ia juga sedikit menyiram kan air ke nisan itu.
Clara datang dan memakai kan payung ke putra di siang yang terik itu.
__ADS_1
"Ini adik mu kan?" ujar Clara.
Putra hanya mengangguk.
Annisa adalah adik kandung putra. Ia meninggal lebih dulu karena sakit, sakit yang sama dengan bapak nya saat ini.
Usia nya masih sangat muda waktu itu, 7 tahun, bisa bahkan tidak sempat sekolah.
Yah begitu lah ajal, kita gak ada yang tau, itu semua misteri ilahi. Ajal tidak memandang usia. Karena syarat mati tidak harus tua dan tidak harus sakit.
Setelah itu Clara mengajak putra untuk pulang, putra pun menuruti nya.
Clara adalah sahabat yang selalu menyejukkan hati nya di situasi seperti ini. Apa lagi agama nya Clara yang semakin kuat membuat nya semakin mengagumi wanita itu.
Sesampai nya di rumah Clara pun sibuk membantu tante Luna dan nenek menyimpun rumah dan mempersiapkan konsumsi untuk malam pengajian warga yang akan datang. Sudah banyak sumbangan dari warga.
......🌺🌺🌺......
Aku memandang langit malam itu, putra tidak menjawab telepon Ku. Ia juga tidak mengabari ku sudah sampai atau belum di sana.
Semoga saja putra baik baik saja.
Aku turun ke bawah, ku lihat mama menangis lagi di kolam. Ada apa lagi ini.
Ku dekati mama.
"Ada apa lagi?" tanya ku.
"Bapak nya putra meninggal" jawab nya.
Aku terkejut.
"Innalillahi wainnailaihi rojiun" seru ku.
Aku baru tau kabar ini.
"Mama sedih, bagaimana pun juga dia pernah jadi suami ku, jangan katakan apa pun pada papa mu yah" seru mama dengan suara parau akibat menahan tangis.
"Menangis lah, tidak ada larangan menangis di sini, ini juga tempat ku menangis" ujar ku sambil menatap kolam renang yang gelap.
Mama mulai menangis lagi. Apa mama masih mencintai mantan suami nya? jika begitu kenapa mereka bercerai? putra pernah bilang karena kasus kdrt.
Ah aku masih remaja untuk tau percintaan orang dewasa. Batin ku.
Ku tatap langit malam itu penuh bintang, langit nya cerah.
Putra bahkan tidak menghubungi ku, mengabari ku perihal bapak nya sudah meninggal. Mungkin dia sangat sibuk dan hanya bisa menghubungi mama.
Memang nya aku siapa?
Aku termenung, entah mengapa sesak terasa di dada ku. Ku pegangi dada ku berusaha menepis nya. Menepis perasaan tidak enak yang menggelayut dalam hati ku.
__ADS_1
    Â