Jangan Panggil Aku Gendut

Jangan Panggil Aku Gendut
Bangkong.


__ADS_3

Selesai foto foto dan mengobrol hingga dini hari satu persatu kami pun masuk ke kamar masing-masing.


Ku rapatkan selimut ku, udara terasa sangat dingin.


Ku lihat Maharani juga sudah mulai tertidur.


......🌺🌺🌺......


Keesokkan hari nya.


Selepas sholat subuh aku kembali tidur.


"Li, bangun Li, udah pagi" seru Maharani membangun kan aku.


Ku lihat jam dinding di kamar itu.


7.15.


"Bentar lagi" seru ku sembari kembali tidur.


Maharani geleng geleng kepala sembari membuka jendela. Udara dingin menyeruak masuk.


Dengan kesal aku pun bangun sekedar untuk mengoceh.


"Tutup kembali tuh jendela dan gorden nya,Aku masih mau tidur" perintah ku.


Maharani menuruti ku.


Ia pun pergi untuk cuci muka dan menyapa teman teman yang sudah bangun.


Aku kembali memasang selimut ku dan tidur.


Maharani melangkah keluar kamar. Menghirup udara segar perkebunan teh.


Ternyata Adit dan bimo juga sudah bangun, Mereka sedang olahraga pagi. Maharani melihat mereka dari atas villa.


Senyum nya mengembang.


Roni terlihat menyusul mereka.


Wajah yang ingin di lihat nya pagi itu justru gak ada. Dimas. Apa dia masih tidur?


Maharani masuk kembali ke dalam villa.


Ia menuju kamar Dimas. Perlahan ia membuka pintu itu dan melihat Dimas masih tidur nyenyak di sana.


Hem pantesan gak keliatan, Batin Maharani.


Perlahan Maharani menutup kembali pintu itu.


"Lagi apa non?" tanya seorang pria paruh baya tiba tiba.


Sontak Maharani terkejut di buat nya.


"Astaga, bapak siapa?" tanya Maharani bingung, karena baru kali ini melihat nya.

__ADS_1


"Saya yang mengurus villa ini, apa tuan Dimas sudah bangun?" tanya nya


"Belum" jawab Maharani singkat.


"Ya sudah, sampai kan saja kalo saja mencari nya, makasih" seru bapak itu.


"Baik lah" jawab Maharani.


Bapak bapak itu pergi entah kemana.


Maharani kembali keluar melihat teman teman nya yang asik olahraga. Joging pagi.


Terlihat mulai berdatangan pekerja di kebun teh itu.


"Apa pak Yugo masih ada di villa?" tanya seorang wanita paruh baya pekerja di sana kepada rekan nya yang lain.


"Entah lah, seperti nya sudah pulang ke kota, soal nya aku tidak melihat mobil nya terparkir, syukur lah" jawab nya.


"Tapi masih ada adik nya itu, kita masih belum bisa santai" bisik yang lain.


"Ah, kalo adik nya itu mah cuek, mana mau dia urusin kebun ini, dia kan tau nya cuma main saja jika berkunjung kemari" balas yang lain.


"Bener juga sih, ah syukur lah pak Yugo gak ada, lega rasa nya. Jika ada dia kerjaan kita terasa berat karena kita tertekan. 11 12 deh sama pak Eric, papa nya. Pokok nya gak nyaman" seru Sumiati.


"Itu teman teman nya Dimas kan. Rajin yah olahraga pagi, tapi kok tuan Dimas nya gak ada?" kata sri.


"Ya jelas lah, tuan Dimas kan selalu Bangkong" jawab Sumiati.


"Kerja kerja wey, masih pagi udah gosip ajja" jelas pak damang, ketua pekerja di perkebunan teh itu.


"Lastri, kamu kan cantik, termuda di sini, kenapa gak godain pak Yugo, bisa jadi nyonya kamu di sini" goda Sumiati.


"Ah, gak mungkin lah Bu, siapa saya, lagian siapa yang mau sama pak Yugo yang killer itu" jawab Lastri.


"Yah gpp toh, banyak tuh, orang seperti kita nikah sama orang kaya seperti mereka, atau sama adik nya saja, adik nya baik, kamu kan seumuran dengan adik nya" balas Sri.


Lastri hanya menggeleng dan melanjutkan pekerjaan nya.


Ia cukup tau diri untuk mendekati majikan nya.


Selesai Olahraga, mereka pun balik ke villa.


"Astaga Dimas belum bangun? ckckckc" ujar Roni.


Adit diam saja karena sudah tau tabiat Dimas sejak dulu.


"Lidya juga belum bangun" Maharani mendatangi mereka.


"Cocok yah mereka" seru Adit.


"Buat sarapan apa kita pagi ini?" Maharani mengalihkan pembicaraan.


"Kita lihat dulu bahan bahan di dapur, Dimas bilang dia bebasin kita untuk masak atau buat sesuatu sesuka kita, karena memang villa ini hanya ada penjaga villa, tidak ada bibi tukang masak, tapi bahan makanan selalu ada karena kakak nya sering datang untuk mengecek, biasa nya Kakak Dimas juga masak sendiri, dia lah yang membeli bahan makanan ini" jelas Adit.


"Ih seram, jika kakak nya tau bahan makanan nya berkurang entar kena semprot deh kita" jawab Maharani.

__ADS_1


"Gpp kok, Dimas yang bilang, dia juga ada kok mengisi bahan makanan dan minuman di kulkas, apa lagi sebelum kita kesini dia sudah beli memang banyak bahan makanan dan cemilan, supaya kita gak bawa barang banyak banyak, dia bahkan beli daging loh buat nanti kita bakar bakar. Seru kan" jelas Adit.


"Wah seru dong, ayo deh kita eksekusi bahan bahan yang ada" jawab Maharani.


Mereka melihat ada roti tawar, mereka panggang sejenak lalu di beri mentega dan susu sesuai selera. Adit membuat nasi goreng.


Yang lain menyimpun dan bersih bersih agar villa itu tetap bersih dan rapi.


Jam 09.15 aku terbangun dari tidur ku. Ah segar nya.


Aku mengumpulkan nyawa untuk bangun, turun dari tempat tidur dan mencuci muka.


Ku buka jendela.


Angin pagi berhembus masuk. Lebih tepat nya bukan pagi sih, menjelang siang.


Matahari masuk melalui celah jendela. Pemandangan di luar hamparan perkebunan teh. Masya Allah indah nya.


Maharani kemana yah, aku pun melangkahkan kaki ku keluar kamar. Masih dengan penampilan yang berantakan. Rambut ku acak acakan. Bersamaan Dimas yang baru bangun tidur. Hanya menggunakan boxer ia melangkah ke ruang makan.


Dimas duluan sampai baru aku menyusul di belakang nya.


"Wah Mr dan Mrs Bangkong sudah bangun nih, haha" seru Roni.


Aku dan Dimas saling memandang.


Lalu kami tertawa.


"Itu rambut mu kenapa berantakan banget" kata dimas.


"Dari pada Lo masih pake boxer tuh" balas ku.


"Haha, ya udah gpp, sini sini sarapan dulu. Sarapan yang kesiangan nih gara gara kalian Bangkong" jelas Adit.


"Lah kenapa nda sarapan duluan" balas Dimas.


"Kami kan setia kawan" jawab Bimo.


Aku tersenyum. Pasti mereka kelaparan menunggu kami.


Selesai sarapan kami ngumpul lagi di ruang tengah.


"Apa rencana kita hari ini?" tanya Roni.


"Ke belakang kebun teh, ada waduk kecil pemandangan nya lumayan juga" Jawab Dimas.


Tiba tiba ponsel Dimas berdering.


"Halo, ada apa pah?" jawab Dimas.


"Kakak mu wisuda nih, kenapa kamu gak datang, kan papah sudah kabarin kemarin?" tanya papa nya Dimas.


"Aku gak ikut deh, papah ajja sama mamah" jawab dimas malas.


"Kamu bertengkar lagi dengan Yugo?" tanya pak Eric.

__ADS_1


__ADS_2