
Pertandingan di mulai lagi. Kami melawan SMA Nusa indah.
Seperti biasa kami unggul di babak pertama.
Dan finis dengan hasil yang memuaskan. Perjuangan masih panjang menuju final. Terkadang aku ingin menyerah dan berhenti saja bukan karena kalah tapi aku terlalu lelah.
"Semangat dong" ujar putra sambil memberikan ku minuman dingin.
"Ihh dingin tau" jawab ku karena putra nempelin minuman kaleng dingin itu ke wajah ku.
Putra membukakan minuman kaleng itu.
Lalu aku meminum nya.
"So sweet banget sih, mau deh jadi adik kamu" ujar Wulan saat melihat kami.
Putra hanya tersenyum memamerkan gigi nya yang menggemaskan.
Aku melangkah ke toilet. Tidak sengaja bertemu teman sekelas ku dulu di sekolah. Kalo di pikir pikir, dia satu satu nya anak gadis yang tidak pernah membully ku dulu, Nama nya Dinda.
Kami hampir bertabrakan di depan toilet, seperti nya dia buru buru.
Mata nya sembab seperti habis menangis.
Aku masuk ke toilet menyusul nya.
Terdengar isakan tangis dari sebelah toilet yang aku pakai.
Setelah keluar aku masih berdiri di depan westapel. Aku jadi penasaran Dinda kenapa.
Dia sosok yang pendiam di kelas. Apa mulai ada yang membully nya?
Ahk tidak mungkin, meski wajah nya biasa saja tapi ia memiliki tubuh yah bagus.
Lalu dia kenapa. Aduh ngapain juga aku kepo. Bukan urusan ku.
Ku langkah kan kaki ku menuju keluar toilet.
Terdengar pintu di toilet sebelah di buka.
Aku memberanikan diri menoleh ke arah nya.
Ia memandang ku sinis.
Karena tidak nyaman dengan pandangan itu, aku pun bertanya kepada nya.
"Kamu kenapa?" tanya ku.
"Bukan urusan mu, kamu siapa?" jawab nya.
"Eh, kan cuma nanya, siapa tau ada yang bisa aku bantu" jelas ku.
"Gak usah sok peduli, kita ajja gak saling kenal. Dari sekolah mana kamu!" tanya nya.
"SMA pelita", jawab ku singkat.
__ADS_1
Dinda diam. Ia lalu merapikan rambut dan seragam nya. Ku lihat ada bekas memar di lengan nya.
Ku lihat dari kejauhan, Dinda sedang bertengkar hebat dengan seseorang. Jauh dari keramaian. Aku memastikan siapa pria itu. Ternyata pak penjaga perpustakaan.
Ada apa di antara mereka.
Aku lalu kembali ke keramaian, putra menunggu ku.
"Lama banget habis bab yah?" ledek nya.
"Ihh, gak lah, eh putra, kamu akrab gak dengan dinda, teman sekelas mu" tanya ku.
"Gak, kenapa emang?" jawabnya.
"Aku tadi ketemu dia di toilet, dia sedang menangis, lengan nya memar, dan ku lihat lagi dia seperti bertengkar dengan pak Rio penjaga perpustakaan.
"Astagfirullah, Lidya, gak boleh berprasangka, itu gak baik, dosa ghibah itu besar loh" jawab putra.
"Haduh, niat ku kan mau nolong dia" protes ku.
"Apa dia butuh pertolongan? orang nya saja diam, doakan saja jika memang dia sedang ada masalah berat, semoga masalah nya cepat selesai" jawab putra.
"Ih putra, doa tanpa usaha itu bagai mobil tanpa bensin ,yah gak bisa jalan dong. Harus di barengi usaha. Aku kenal Dinda, dia anak nya pendiam, hampir tidak memiliki teman di sekolah ini, aku khawatir karena aku pernah nangis seperti itu di toilet dan itu menyesakkan banget ketika gak ada seorang pun yang bisa di ajak bicara, kalo aku sih dulu beruntung ada Bimo" jelas ku.
"Lidya, semua akan baik baik saja selama kita gak mencampuri urusan orang lain", tegas putra.
"Terserah kamu deh put, kamu kan gak pernah rasain jadi wanita itu kayak apa" seru ku.
Tiba tiba Bimo datang dan memberitahukan bahwa putra di panggil ke ruang BK(Bimbingan konseling).
"Nah kenapa tu" tanya ku.
"Nah kan, firasat ku memang tidak pernah salah, pasti ada yang gak beres", seru ku.
Putra tersenyum, masih dengan positif thinking nya.
Ku lihat putra melangkah menjauh, baju nya masih sama, keluar, tidak pakai sabuk, yah seperti putra berandalan yang aku kenal di sekolah. Maka nya aku heran ketika di rumah dia berbeda sekali.
Teman teman ku sudah pulang semua, sebagian murid dari sekolah lain juga sudah pulang karena pertandingan usai.
Aku masih di sini menunggu putra.
"Putra kenapa yah? di panggil ke ruang BK, apa dia melakukan kesalahan?", tanya ku pada diri sendiri, aku khawatir.
Bimo menepuk pundak ku.
"Bisa jadi, putra kan memang suka melanggar aturan" jawab Bimo.
Aku menepis tangan Bimo yang di pundak ku.
"Kamu gak pulang?, di tungguin Siska tuh" seru ku sambil melirik ke arah siska yang ada di belakang nya.
Bimo menoleh dan mereka pun pulang bersama.
Aku menuju koridor dekat ruang BK. Duduk dengan cemas. Masih ada saja siswa dan siswi yang belum pulang. Lalu lalang di depan ku.
__ADS_1
"Akhir nya ada kesempatan juga untuk bertemu dan ngobrol dengan bidadari SMA pelita" goda raja, teman Reno.
Aku mengabaikan nya.
"Neng, Abang boleh kenalan? cantik banget sih neng" seru nya lagi.
Aku masih tidak merespon nya.
"Sombong banget sih!!, tapi wajar kamu cantik banget, gak kuat" kata nya mulai melantur.
Aku berdiri dan menghindari. Tapi raja bersikeras untuk berkenalan dengan ku.
Ia juga mulai berani mencolek tubuh ku.
Aku menampar nya.
Raja marah dan menarik tangan ku ke suatu tempat di sekolah itu. Sekolah sudah mulai sepi. Aku berteriak minta tolong.
"Kurang ajar banget sih kamu!!!" pekik ku sambil memukul mukul raja.
Raja mulai melecehkan aku di balik tembok sepi belakang sekolah.
Reno datang dan menyelamatkan aku seperti dulu.
"Raja! Lepaskan dia" pekik Reno.
Raja terlihat kesal.
"Kau teman ku atau cewe sombong ini sih!!!" balas raja.
Reno menonjok muka raja.
"Kita memang nakal, tapi bukan sampah kayak kelakuan mu itu" jawab Reno.
Aku histeris melihat mereka bertengkar.
"Anjing!!!" pekik raja ke Reno, Mereka pun saling tonjok. Aku yang panik takut untuk melerai mereka.
Aku berusaha mencari bantuan seseorang.
Karena tidak menemukan seseorang aku pun memberanikan diri melerai mereka.
Ku tarik Reno menjauh dari raja.
"Udah udah, jangan bertengkar lagi", seru ku.
Putra sudah selesai dengan urusan nya di ruang bimbingan konseling, ia mencari ku kemana mana tapi tidak ketemu.
Ketika melihat ku dari jauh bersama Reno dan raja dalam situasi yang tidak baik putra pun berlari ke arah kami.
Putra berhasil melerai mereka.
"Berhenti! ada apa ini", pekik putra.
Raja yang sudah babak belur pun kabur duluan. Ia menunjuk nunjuk ke arah reno seperti kode bahwa urusan mereka belum seledai.
__ADS_1
Darah segar mengalir dari bibir nya.
Putra kebingungan melihat kami. Kami segera membawa Reno ke UKS.