
......🌺🌺🌺......
Sepulang sekolah.
"Kita kemana nih?" tanya ku.
"Ikut ajja deh" seru Dimas.
Aku pun diam saja menikmati pemandangan dari luar sana, semakin jauh dari kota. Hamparan sawah terlihat sangat cantik.
Lumayan memanjakan mata.
Perjalanan hampir 3 jam lama nya. Bahkan kami telah melewati pembatas kota. A
Apa tidak terlalu jauh? kami bahkan masih berseragam putih abu abu.
Kami telah sampai di kebun teh.
Indah sekali pemandangan nya. Dimas mengeluarkan bahan bahan piknik yang ia taruh di dalam ransel nya.
Pantas saja ransel nya terlihat sangat padat berisi.
Maharani juga mengeluarkan banyak cemilan dari ransel nya.
Ternyata mereka sudah menyiapkan ini semua.
Dimas mengambil tikar. Adit membantu membawakan sekotak minuman dingin. Kotak dari gabus berwarna putih.
Roni pun turut membantu.
Dan hanya aku satu satu nya yang tidak bergerak sama sekali untuk membantu mereka.
Aku hanya diam tanpa ekspresi.
"Lidya kenapa dari tadi diam saja?" tanya Roni.
"Entah lah, biarkan saja, mungkin dia butuh waktu" ujar Dimas.
Aku menatap mereka sesaat lalu melangkah menjauh menikmati indah nya pemandangan kebun teh ini.
Ada banyak pekerja di sini.
Eh tunggu tunggu. Kok ganjil. Kami kok bisa masuk kesini dengan bebas yah?
Aku berjalan agak jauh dari teman teman sibuk mempersiapkan piknik kami.
Dari kejauhan ku pandang seorang pria yang sedang asik ngobrol dengan pekerja pekerja di sini. Mungkin pemilik kebun teh? pikir ku.
Pakaian nya rapi, memakai baju kemeja formal berwarna cream dan celana formal coklat.
"Lidya!!!" teriak Dimas ke arah ku yang agak jauh.
"Sini deh makan dulu, awas tersesat loh, aku Ndak tanggung" seru nya.
"Iya!" teriak ku balik sembari sedikit berlari ke arah mereka.
Aku mulai mendekat, mereka sudah duduk santai di tikar.
"Lidya ayo duduk sini" ucap Dimas dan Roni hampir bersamaan.
Mereka menawarkan aku duduk di samping mereka, tapi aku justru memilih duduk di dekat Maharani dan Adit.
Bimo hanya diam sembari ikut menikmati pemandangan indah ini.
__ADS_1
"Apa kabar Maisaroh yah? setelah pindah tidak pernah ada kabar nya lagi" tanya Adit tiba tiba.
Aku dan maharani saling pandang.
Maharani menggeleng kepada ku.
Kode agar aku tidak memberitahu kan apa pun kepada yang lain sesuai permintaan Mai.
"Entah lah" jawab ku singkat.
"Setelah ini baru deh kita jalan jalan di sini, ada sebuah vila cantik di sana, selesai ujian nanti kita nginap di sana yuk" seru Dimas bersemangat sembari menunjuk ke arah vila yang letak nya lumayan jauh dari tempat kami piknik.
"Wah pasti seru. Mau mau" jawab Roni.
Dimas menatap tajam ke Roni.
"Dari sekian banyak orang di sini, kenapa harus kamu sih yang menjawab dan paling bersemangat, menyebalkan!" pekik Dimas.
Roni hanya tersenyum penuh kemenangan.
"Udah deh dim, gak usah benci benci , entar jadi cinta" seru Maharani.
"Apa?! ih najis, Lo kira gue gay, cuihh" ujar dimas jijik.
"Haha, maka nya gak usah bertengkar Mulu" seru Maharani.
Ku raih botol minuman orange segar dari kotak gabus, lalu meminum nya.
Ah segar nya. Rambut ku bergerak tertiup angin, Semua mata tertuju pada ku.
"Kalian kenapa?!" tanya ku.
Mereka pun tersadar dari kekaguman nya melihat ku.
"Gila, cara lo minum kayak iklan minuman loh, cantik banget" seru Dimas. Yang lain ikut mengangguk termasuk Maharani.
"Yuk jalan jalan, pake sepeda kayak nya lebih seru nih" ujar Dimas.
"Sepeda dapat dari mana di tempat seperti ini?" tanya Adit.
"Aman deh, Adit, Bimo ayo bantu aku ambil sepeda nya" ajak Dimas.
Roni melotot karena hanya dia saja yang tidak di sebuah sama Dimas.
Tapi tanpa di minta pun Roni ikut mereka.
"Gadis gadis tunggu di sini dulu yah" seru Dimas.
Aku hanya mengangguk.
"Iya dim, hati hati yah" jawab Maharani sembari melambaikan tangan seolah akan berpisah jauh dan lama. Dasar lebay.
Ups.
"Jalan jalan yuk. Rugi banget kesini gak jalan jalan menikmati pemandangan" ujar ku.
Maharani mengangguk setuju.
Ku bawa botol air ku yang tadi, masih ada setengah nya.
Berkeliling sejenak. Tak ku sangka langkah kaki kami sudah sampai pada pria dewasa yang ku lihat tadi. Dia masih terlihat sangat sibuk.
Jarak kami semakin dekat. Baru aku akan melangkah ke arah lain kaki ku tersandung sesuatu dan menumpahkan minuman ku ke pria itu.
__ADS_1
Bukkk.....
Aku terjatuh. Botol minuman ku tadi ternyata tutup nya tidak rapat dan terlepas saat aku jatuh.
Pria yang sedang sibuk itu pun menatap ku tajam karena aku membuat baju dan kertas yang dia pegang basah karena minuman ku.
Maharani panik dan segera membantu ku bangkit. Rok abu abu ku kotor kena tanah yang basah karena habis hujan semalam.
"Kau siapa? gak punya mata ya! lihat nih, baju ku jadi basah begini!" pekik nya.
"Maaf, saya tidak sengaja" seru ku.
Maharani pun turut menunduk.
Ia lalu menatap ku dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Dasar bocah ingusan, menyusahkan saja!!!" bentak nya.
"Heh, saya kan sudah minta maaf, jika ingin Ganti rugi bilang, gak perlu ngata ngatain" balas ku.
"Ih Li, jangan deh di lanjut, minta maaf ajja terus kita pergi" bisik Maharani.
"Apa?! ganti rugi kata mu?!, kamu gak tau kan kemeja ku ini harga nya berapa? kamu gak tau juga kertas apa yang aku pegang ini? ini masa depan kebun teh, kamu mau ganti rugi jika perkebunan teh ini bermasalah? kamu mampu?" balas pria itu.
Sombong banget sih ini orang.
"Cih, sombong sekali anda, ya sudah sebutkan berapa kerugian anda sekarang" jawab ku.
"Kamu gak akan mampu!" pekik nya.
Pria itu lalu menatap ke pekerja di sana
"Siapa yang mengijinkan anak anak ini masuk? saya paling tidak suka ada orang asing yang masuk ke perkebunan teh ini, ini bukan tempat wisata!!" bentak nya pada pekerja di sana.
Belum sempat mereka menjawab Dimas pun datang menghampiri mereka.
"Kak Yugo?!" pekik Dimas tiba tiba dari belakang ku.
"Oh jadi ini teman mu dim, siapa yang mengijinkan mu membawa teman teman mu ke sini?! kau tau sendiri, aku tidak suka ada orang asing di sini" pekik Yugo.
Dimas tersenyum manis.
"Hey, santai lah, Papa saja tidak pernah melarang ku kesini!" jawab Dimas.
"Ya sudah. Urus tuh teman mu yang menyusahkan!!!" pekik Yugo.
"Hari ini kau lolos karena teman nya dimas, awas saja jika kita bertemu lagi, aku tidak akan bersikap baik" Bisik Yugo pada ku sembari berjalan menjauh dari kami.
"Ada apa ini, kamu gpp kan Lidya?" tanya Dimas cemas.
Dimas memegang pundak ku.
Membuat Maharani merasa risih dan tidak suka melihat nya.
"Aku baik baik saja, ternyata itu kakak kamu? galak banget sih" protes ku.
"Hehe, iya dia emang galak, tapi asli nya baik kok, pasti dia di suruh papa deh untuk kontrol kebun teh di sini" jelas Dimas.
"Kebun teh ini milik keluarga kamu?" tanya ku.
Dimas mengangguk.
"Iya, hampir semua pekerja di sini mengenal ku, karena dulu aku suka mampir jalan jalan ke sini" jawab Dimas.
__ADS_1
"Pantas saja kita bebas masuk tidak ada yang melarang?" seru ku.
Terjawab sudah keganjilan yang ada di pikiran ku tadi tentang kenapa kami bisa bebas masuk kesini.