
"Gini amat yah punya istri bocil ,minta cium ajja kagak di kasi, huhuhu" ujar yugo seperti anak kecil yang minta permen gak di kasih.
"Apaan sih, gak usah drama deh, siapa suruh nikah sama bocil" balas ku.
Yugo tersenyum sesaat sebelum masuk kembali ke dalam villa.
Aku melihat punggung nya semakin menjauh ke dalam. Magrib tiba. Adzan magrib berkumandang dari kejauhan.
Ku lihat dari atas dia turun ke bawah lagi. Membawa mobil. Mungkin ke masjid lagi, pikir ku.
Aku pun masuk juga, putra selalu mengajari ku untuk sholat tepat waktu.
Selesai wudhu ku hampar kan sajadah ku dan mulai sholat.
Setelah itu aku mengambil ponsel ku.
Ada beberapa chat dari papa sekedar menanyakan kabar ku.
Dan aku selalu bilang aku baik baik saja, karena sekarang aku memang baik baik saja, sekali pun tidak aku tidak akan bilang karena tidak ingin membuat beliau khawatir.
Sudah jam Setengah 8 malam yugo belum pulang.
Bahkan Adzan isya sudah terdengar.
Ih ngapain juga aku menunggu nya.
Aku kembali mengambil wudhu dan sholat isya.
Jam 8 lewat akhir nya suara deru mobil yugo terdengar.
Aku berbaring di sofa sambil nonton televisi.
"Maaf lama pulang aku sekalian isya di Masjid, dan ini aku sekalian beli makanan kesukaan kamu" ujar yugo.
Dia ini tulus beneran gak sih. Kadang aku percaya kadang aku ragu. Masalah materi gak mungkin Yugo matre, karena keluarga nya juga orang berada. Masalah hati? apa dia suka pada ku atau hanya memaksakan diri.
Yugo duduk di samping ku.
"Kok diam" tanya nya.
Perut ku tiba tiba bunyi karena lapar. Haduh ini perut gak bisa di kondisi kan. Malu banget.
Yugo tertawa.
"Hahaha, kamu lapar? nduu kasian nya, pasti nunggu aku pulang dulu yah baru mau makan bersama. So sweet juga yah kamu ini meski gengsi hahaha" tawa renyah yugo membuat ku malu.
"Apaan sih, bisa gak, sehari ajja gak ge er" ujar ku.
"Gak bisa dong, ayo" ajak nya.
Ia menarik tangan ku mengikuti nya ke ruang makan. Ia memanggil bibi untuk mengambil kan piring dan sendok.
Yugo membeli nasi padang kesukaan ku. Lengkap dengan daging rendang. Ia juga memberikan nya pada bibi penjaga villa.
"Masih mau dengar kisah naira tidak?" tanya nya.
Aku tidak menjawab.
Selesai makan kami nonton tv di ruang tengah.
__ADS_1
"Yugo" panggil ku.
Yugo menoleh ke arah ku.
Langsung saja ku cium bibir nya sedetik kemudian dan aku lepaskan.
Yugo terkejut bukan main.
"Sudah kan syarat nya , ayo sekarang cerita tentang naira" seru ku.
Yugo masih terkejut.
Saat tersadar ia pun protes.
"Ih kurang, masa sedetik doang, gak berasa" ujar nya.
Aku mengerutkan kening.
"Loh, syarat nya kan cium doang, melunjak kamu yah, pasti kamu ngerjain aku kan, cerita tentang naira pasti bohong. Iya kan" pekik mu.
Bruukk!!!
Suara sesuatu terjatuh lagi di lantai 2 , nyaring sekali. Membuat kami berdua terkejut.
"Nah, hantu naira pasti marah tuh kamu bilang cerita tentang nya bohong, haha" ujar yugo.
Aku memukul lengan nya.
"Ah mungkin bibi sedang di atas lagi bersih bersih" jawab ku.
"Bibi di dapur kok tuh liat" tunjuk yugo ke arah dapur , sekilas terlihat bibi mondar mandir membereskan meja makan.
Seketika aku merinding.
"Tikus kali" ujar ku masih positif thinking.
Yugo menertawakan ekspresi ku.
"Makasih ciuman satu detik nya, lain kali yang lama yah" seru nya di sela ketakutan ku.
"Bukan saat nya bahas itu" jawab ku.
"Haha kamu takut, jadi gak nih dengar cerita tentang naira" seru yugo.
"Ya jadi lah, rugi dong aku kalau kamu gak cerita. Ayo cepetan cerita" jawab ku.
"Baik lah, tapi sebelum itu aku mau ngasi sesuatu buat kamu" ujar nya.
"Apa?" tanya ku.
Ia mengepal tangan nya. Lalu menyuruh ku untuk memiliki tangan kanan atau kiri.
"Kayak anak kecil ajja" protes ku.
Lalu aku memilih tangan kanan.
Saat dia buka kepalan tangan nya tidak ada apa apa di sana. Di tangan kiri pun tidak ada apa apa, apa dia mengerjai ku?
"Huu dasar penipu" seru ku.
__ADS_1
"Lidya, ini sesuatu nya, di sini" panggil yugo lirih.
Aku menatap nya.
Mana?
Belum sempat aku protes Yugo lalu balas mencium bibir ku lebih dari apa yang aku lakukan tadi pada nya.
Awal nya aku berontak hebat. Tapi Yugo menenangkan ku dengan kelembutan nya.
Otak ku berkata tidak namun raga ku menikmati nya.
Tidak!!!
Ku dorong tubuh yugo menjauh dari ku.
Aku menggeleng kan kepala ku sembari menjauh dari nya.
Yugo mengejar ku dan meminta maaf.
"Lidya, maafkan aku, aku khilaf" seru yugo.
Sebenarnya ini bukan salah nya. Tidak ada yang salah seorang suami mencium istri nya.
Tapi aku belum siap. Aku belum mencintai nya. Ia berjanji tidak akan menyentuh ku sampai ada perasaan di antara kami.
Apa dia punya perasaan pada ku?
Setiap aku bertanya tentang perasaan nya,dia menyangkal nya.
Apa hubungan ini sekedar untuk memuaskan ***** nya semata, tidak perlu cinta untuk melakukan nya. Tidak , aku tidak bisa.
"Lidya" teriak yugo.
Aku tidak menjawab nya. Aku kecewa. Bukan kah aku sudah memberi nya ciuman sebagai syarat agar dia mau bercerita tentang naira. Tapi bukan nya bercerita dia malah melakukan hal lebih.
"Aku janji tidak akan menyentuh mu lagi sampai kamu siap" teriak yugo.
"Aku tidak percaya" seru ku.
"Hey, untuk apa kita menikah jika aku tidak bisa menyentuh mu, kau pikir ada laki laki yang mau seperti ini? apa aku salah?" ujar yugo.
Aku terdiam.
"Jelas kan di mana salah ku" pinta yugo.
"Ok ,kamu tidak salah, normal nya laki laki memang seperti itu, makasih udah menahan diri, salah mu hanya 1, kenapa menikahi orang yang tidak mencintai mu" tegas ku.
"Jika aku bilang aku sudah mencintai mu apa kamu akan menerima ku?" tanya yugo.
Aku tidak menjawab.
Aku tidak tau, sungguh tidak tau.
"Ok, maafkan aku lidya wijaya, seharusnya aku tidak memaksa mu, baik lah, jika kamu ingin pernikahan ini hanya status, aku bisa mengerti, posisi mu yang terpaksa menikah Dengan ku. Aku akan menuruti apa mau mu" tegas yugo.
Yugo lalu masuk ke dalam kamar dan keluar membawa pakaian nya. Ia akan pindah kamar di kamar tamu.
Aku bingung harus berkata apa. Yugo mulai menunjukkan sikap dingin nya lagi seperti dulu saat kami belum menikah.
__ADS_1