Karena Cinta

Karena Cinta
SEPERTI HANTU PENGABDI SETAN


__ADS_3

"Cih.., dia duduk di kursi goyang itu seperti aku melihat film Pengabdi Setan, hantunya tak nampak kursinya goyang sendiri." ucap Daniel yang membuat Arina langsung menoleh.


Tentu saja wanita itu mendengar apa yang dikatakan oleh Daniel, seketika Arina berdiri mendekati Daniel.


"Apa kamu dibilang tadi? coba katakan lagi?" minta Arina.


"Memangnya apa yang aku katakan?" tanya Daniel.


"Tadi kamu bilang aku seperti pemain film Pengabdi Setan, kamu bilang aku ini setannya apa?" tanya Arina.


"Aku tidak bilang begitu Kok." jawab Daniel.


"Bohong, kamu bohong kan?" tanya Arina.


"Kenapa aku harus bohong." jawab Daniel.


"Jelas-jelas kamu bohong." Arina yang tidak mau kalah.


"Memangnya kenapa aku harus bohong sama kamu? Lagian aku tidak bilang apa-apa kok." jawab Daniel yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Arina benar-benar dibuat kesel oleh semua kelakuan Daniel, pria itu benar-benar membuatnya naik darah. lihat saja akan ku buat hari-harimu itu sangat menderita, kamu sudah membuatku seperti hantu di Pengabdi Setan. Baiklah kalau begitu aku akan menjadi setan gentayangan yang akan menggentayangi hidupmu." ucap Arina yang kemudian masuk ke dalam kamarnya.


Wanita itu membuka laptopnya kemudian melihat beberapa pekerjaan yang memang masih diberikan oleh ayah Ma'ruf. sesaat kemudian terlihat ponsel Arina mulai berdering, wanita itu segera mengambil ponselnya dan menata ponsel itu. di sana terpampang jelas nama Tuan Ma'ruf.


TUT...


Arina menjawab panggilan telepon dari ayah Ma'ruf.


"Halo Tuan." jawab Arina.


"Halo Arina." jawab ayah Ma'ruf.


Sesaat kemudian kelihatannya Ayah Ma'ruf malah sedikit penasaran dengan jawaban yang diberikan oleh Arina.


"Halo Arina." ucap Ayah Ma'ruf kembali.


"Ya Tuan." jawab Arina.


"Kok dipanggil Tuan sih?" tanya ayah Ma'ruf.


"Maaf tuan, Memangnya ada yang salah ya?" tanya Arina yang sedikit kebingungan

__ADS_1


"Tentu saja ada yang salah, Aku ini sudah menjadi ayam mertuamu, Arina. seharusnya Kamu memanggilku dengan panggilan ayah bukannya memanggil Tuan. Nanti kalau kita pergi kemana-mana dan ada salah satu temanku bertemu malah Mereka bilang aku ini menyia-nyiakanmu. aku memintamu untuk memanggilku Tuan." jawab Ayah Ma'ruf.


"Maaf tuan, masih belum terbiasa." ucap Arina yang terlihat tersenyum.


"Sekarang kamu harus belajar memanggilku Ayah bukan memanggil ku tuan, kamu sudah ingat kan selama 2 tahun ini kamu akan menjadi menantuku. Jadi kamu bersikaplah sebagai menantu." minta ayah Ma'ruf yang membuat Arina menganggukkan kepalanya.


"Baik Tuan, eh.., maaf Ayah." ucap Arina yang kemudian menutup mulutnya.


"Oh ya Arina, Bagaimana kabar di sana?" tanya ayah Ma'ruf.


"Kabarnya di sini baik-baik saja Ayah, Memangnya ada apa?" tanya Arina


"Kamu masih ingat kan bagaimana dan apa yang harus kamu lakukan?" Tanya ayah Ma'ruf.


"Tentu saja Ayah, aku tahu apa pekerjaanku dan apa yang harus aku lakukan." jawab Arina.


"Kamu harus tahu Arina, kamu tidak boleh sampai kalah dari Putraku itu, kamu harus membuat Putraku itu berubah menjadi seorang pria baik. Aku tidak ingin Putraku itu terus-menerus menjadi pria brengsek yang selalu saja menghina orang lain, mulutnya itu benar-benar tajam beracun berbisa mungkin waktu dia lahiran itu dia meminum racun ular kobra. kalau tidak racun seluruh dunia dia minum semuanya." ucap Ayah Ma'ruf yang membuat Arina tersenyum.


"Mungkin saja Ayah benar, pria itu waktu ada di kandungan kemungkinan besar dia kebanyakan minum racun. hingga waktu dia keluar mulutnya itu benar-benar sangat berbisa, ayah. mungkin kalau aku wanita-wanita pada umumnya aku akan sakit hati merana frustasi dan mungkin juga aku akan menangis sejadi-jadinya.l jawab Arina


"Kamu tidak boleh melakukan hal itu, Arina. kamu harus kuat kamu harus pandai kamu harus menggunakan otakmu itu. lawan dia semampumu buat dia kalah telak, Aku benar-benar ingin membuat dia dipermalukan." jawab ayah Ma'ruf yang membuat Arina menganggukkan kepalanya.


Tak berselang lama pintu kamar Arina sudah diketok seseorang.


Tok..


Tok..


pintu kamar Arina di ketok.


"Iya siapan!?" teriak Arina.


"Ini aku mbok Sri." jawab Mbok Sri.


"Iya Ada apa Mbok." jawab Arina.


"Kamu keluar sebentar, Ayo kita makan ini sudah pukul tujuh, kamu belum mau makan ya?" tanya Mbok Sri.


"Ya mbok Sebentar aku mau mengerjakan beberapa tugasku." jawab Arina.


"Ayo sebentar saja kamu makan jangan sampai tubuhmu itu tidak mendapatkan asupan gizi sama sekali. kalau kamu seperti itu nanti kamu sakit loh!" seru Mbok Sri.

__ADS_1


Entah mengapa kata-kata yang diucapkan oleh Mbok Sri seperti kata-kata yang sering dikatakan oleh ibu Arina. Hal itu membuat Arina seketika meneteskan air matanya, dia melangkahkan kakinya dia membuka pintu dan menatap wanita tua yang ada di depannya itu.


"Terima kasih ya Mbok." ucap Arina.


"Kok Terima kasih sih?" tanya Mbok Sri.


"Terima kasih karena Mbok selalu mengingatkan apa yang sering dikatakan Ibuku dahulu." jawab Arina.


"Ya sudah kalau begitu cepat kamu makan jangan sampai perutmu itu keroncongan, kalau buatmu keroncongan tidur pun tidak nyenyak.l ucap Sri panjang lebar yang membuat Arina langsung memberikan pelukan hangat kepada wanita tua tersebut.


Langkah kaki Arina berjalan keluar dari kamarnya, wanita itu memeluk Mbak Sri wanita itu seolah sudah mengenal lama wanita tua yang dia peluk itu.


"Mbok itu baik banget deh..," ucap Arina.


"Benarkah?" tanya Mbok Sri.


"Tentu saja, pasti waktu muda suami Mbok itu mencintai mbok ya?" tanya Arina.


"Tentu saja, tapi sayangnya Tuhan mengambil segalanya dariku ketika masih berusia muda." jawab Mbok Sri.


"Memangnya kenapa Mbok?" tanya Arina.


"Ya Ada sebuah insiden yang membuat Mbok Sri harus patah hati sampai sekarang ini." jawab Mbok Sri.


"Ya sudah kalau begitu daripada patah hati mendingan Mbok Sri sama aku makan aja." ucap Arina.


"Ya udah kalau kita makan enak Daniel juga sudah makan terlebih dahulu." jawab Mbok Sri.


"Ya tentu saja dia makan terlebih dahulu, Mbok. mana mungkin dia menunggu seseorang, pria itu seorang pria yang tidak tahu diri. dia itu pria yang benar-benar sangat egois." ucap Arina yang kemudian terus mengekor di belakang Mbok Sri.


Ketika berada di ruang makan terlihat Daniel makan makanan sederhana yang ada di meja makan, tatapan mata Arina menatap pria super menjengkelkan itu, terlihat kalau diam pria itu benar-benar sangat tampan bahkan terlihat lebih berwibawa daripada dia harus berbicara dan mengeluarkan jurus mautnya itu.


* Bersambung *


Mohon dukungannya pada novelku yang lainnya 😊😊😊


- Mawar berduri


- Terlempar ke dunia sang kaisar


- karena cinta

__ADS_1


__ADS_2