
Terkadang di saat hati sudah yakin dengan keputusan yang diambil ternyata belum tentu menjadi tindakan akhir. Dilema atas kebenaran, kenyataan dan tipuan bisa menggoyahkan kepercayaan diri sendiri meski sudah menyadari akan adanya kegagalan atau bahkan kemenangan sekalipun.
Tidak masalah jika seseorang melakukan kesalahan, lalu mau mengakui dan memperbaiki serta berjanji tak mengulang kesalahan sama. Akan tetapi, jika sudah tahu berbuat jahat dan masih kekeh meneruskan langkah salah. Bagaimana akan mendapatkan pengampunan?
Akbar mengepalkan tangan mencoba melampiaskan perasaan kalut yang menyerang kesadarannya, "Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan Anggun. Sampai kapanpun Ara cuma jembatan menuju kesuksesan hidup kami. Pernikahan ini bukan untuk dipertahankan."
"Secepat mungkin aku harus mengirim Ara ke tempat mamca dan dengan begitu beban hubungan dari pernikahan kedua langsung berakhir. Ngomong-ngomong, apa dia sudah pulang dari luar negeri?" gumamnya meneruskan keputusan mutlak sembari memikirkan seorang wanita yang mencuri sedikit ketenangan hati.
Sebenarnya Anggun bukanlah wanita pertama yang bisa membuat dirinya menikmati surga dunia karena istri pertamanya itu hanyalah seorang pemain kecil. Akan tetapi berbeda dengan dia yang memiliki usaha rumah bordil. Mamca, seorang wanita perkasa dengan topeng manusia tua.
Garis pesona menawan pemilik wajah ayu dengan alis tebal, hidung mancung, bibir merona semanis strawberry berpadu senyum nan menggoda. Sikap dingin di luar tetapi hangat ketika sudah bisa menaklukkan sang tuan rumah hiburan para kaum adam. Meski tak semua orang mengetahui di balik topeng wanita tua ternyata seorang wanita cantik apa adanya.
"Permisi, mas mau nambah lagi minumnya?" tiba-tiba saja seorang pelayan datang mengagetkan Akbar, membuat pria itu kembali ke dunia nyata melihat sekitarnya.
Tidak begitu banyak pelanggan bahkan orang yang baru saja melakukan sesi ceramah dadakan sudah menghilang. Melihat hari mulai beranjak petang, ia bangun lalu mengambil selembar uang merah dari saku kemejanya, kemudian meletakkan ke atas meja sebelum benar-benar pergi dari tempat peristirahatan.
Padahal hari ini, ia sengaja meliburkan diri hanya untuk menikmati waktu sendiri. Siapa sangka justru mendapatkan tamparan rohani yang membawa ingatan kembali menyapa keegoisan hati. Mungkin orang akan menyebut ia sebagai munafik. Dimana hati berkata kebenaran tetapi bibir mengungkapkan kebohongan.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nisa ayat 145 bahwa orang munafik akan ditempatkan pada neraka tingkatan paling bawah. Berikut firman-Nya:
Innal-munāfiqīna fid-darkil-asfali minan-nār, wa lan tajida lahum naṣīrā
Artinya: "Sungguh, orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka." (QS. An-Nisa: 145)
Sementara perbuatan munafik sendiri juga disebut Nifaq amali yaitu melakukan sesuatu yang merupakan perbuatan orang-orang munafik, tetapi masih tetap ada iman di dalam hatinya. Sungguh disayangkan ketika manusia terjebak oleh kehidupan fana. Terlebih lagi karena demi kepuasan diri sendiri hingga melupakan makhluk ciptaan Allah yang masih bernapas di alam sama.
__ADS_1
Langkah kaki berjalan menyusuri setapak depan kompleks kedai yang tak jauh dari desa tempat dirinya tinggal. Pria itu menikmati setiap langkah dengan pikiran yang kacau. Ada banyak pertanyaan tetapi tidak memiliki tempat mengajukan setiap keraguan hati. Harus diapakan semua titik kebosanan di dalam dirinya?
Sementara itu, Ara yang tengah sibuk menyiapkan makan malam masih bersenandung riang. Setelah beberapa hari kedatangan Anggun yang tinggal di rumahnya, ia lupa membuat acara syukuran. Jika salah satu pekerja tidak mengatakan mungkin terlewat begitu saja tanpa ada peringatan hari kematian.
"Bu, apa berasnya sudah bisa dimasak sekarang?" seorang pekerja meletakkan dandang yang baru saja dia lap hingga kering setelah dicuci bersih pagi tadi.
Sesaat mengalihkan perhatian dari tungku yang membakar kuali berisi ungkepan ayam, "Boleh, Teh. Makasih sudah mau direpotin Ara, nanti jangan lupa taruh daun salam dan pandan di atas berasnya."
"Siap, Bu. Ini juga bau kuah lauknya makin bikin lapar, pantas pak Akbar betah makan di rumah karena istrinya pintar masak," goda Bu Cici yang memang memiliki pekerja sebagai tukang adang atau sebagai sinom.
Namun pekerjaan kali ini lebih ringan sebab tuan rumah sendiri hanya meminta untuk dimasakin nasi, sedangkan lauk pauk sudah menjadi tugas majikan sendiri. Seperti biasa Ara lebih menikmati pekerjaan rumah dengan begitu wanita itu bisa mengasah kemampuan memasaknya.
Secercah harapan selalu menjadi penerang di tengah kegelapan. Bagi Ara pernikahan merupakan hubungan sakral yang harus dipahami tanpa pamrih meski terkadang ada kejanggalan. Ia tetap percaya semua akan baik-baik saja. Kebahagiaan datang tanpa diminta bukan?
Obrolan antara dua insan itu ternyata juga didengar orang ketiga yang baru saja berniat masuk ke dapur untuk mengambil segelas air dingin, "Ramenya, apa hari ini ada acara? Tumben banget kamu masak porsi banyak, Ra."
"Eh, Anggun udah pulang. Sini, aku masak buat hari peringatan ayah nanti malam. Bagaimana dengan pekerjaan barumu?" sahut Ara begitu bersemangat melihat kedatangan Anggun yang tampak semakin cantik setelah melakukan perawatan.
Sebagai pekerja klub yang melayani para pelanggan, ia tahu sang sahabat harus selalu menampilkan penampilan terbaik. Jadi tidak heran ketika melihat gaya pakaian Anggun sangat terbuka atau kekurangan bahan. Ia tidak masalah karena sudah sangat mengenal kawannya itu.
__ADS_1
Akan tetapi berbeda dengan Bu Cici, wanita berusia empat puluh tiga tahun itu bisa merasakan keanehan dari tatapan mata tak suka Anggun yang tertuju pada Ara. Jika tidak salah tebakan, maka sang tuan rumah telah memelihara duri mawar beracun. Hanya saja, apakah seorang suami akan tergoda wanita lain?
"Oalah, aku hampir lupa kalau hari ini peringatan kematian untuk paman. Gini aja, aku ambil cuti malam ini dan tetap di rumah bantuin acara. Sebelum suamimu pulang, mendingan kamu bersih-bersih!" ujar Anggun begitu manis, ia akan selalu berusaha terlihat baik di depan Ara agar sahabat lemahnya itu buta siapa dirinya.
Ara menggelengkan kepala menolak saran Anggun, baginya Akbar akan selalu memahami kondisi tanpa menilai dari penampilan fisik saja. Tentu karena selama mereka menikah sang suami belum pernah mengomentari cara dirinya membawakan diri. Meski juga menyadari kesibukan urusan rumah tangga bukanlah alasan untuk melalaikan menyenangkan suami.
"Sebentar lagi masakan siap, habis ini baru aku balik ke kamar. Jangan cemas, kamu tahu kan kalau mas Akbar masih di luar mencari beberapa keperluan kebun. Anggun, pasti semalam kamu lembur kerjanya. Istirahat saja di kamarmu!" Ara tidak ingin melihat wajah di depannya itu kelelahan setelah bekerja keras semalaman.
Kepedulian nyata dari Ara, membuat Anggun menyembunyikan tangan kanannya di balik punggung. Hawa panas menjalar menguasai emosi hati, ia benar-benar muak dengan sikap sok baik dari anak seorang pria yang berani menolak mentah-mentah keberadaannya. Dendam sudah mengakar tetapi masih belum terbalaskan.
Tangan mengepal melampiaskan kekesalan berteman seulas senyum persahabatan, "Hehehe, santai aja. Libur sehari juga tidak masalah, tapi aku balik kamar mandi dulu, bau asem ini."
"Heem, mandi yang bersih, ya!" balas Ara sedikit lebih keras karena Anggun sudah melarikan diri.
Tanpa wanita itu sadari, sikap baiknya hanya memicu rasa frustasi dari dalam diri Anggun. Topeng dari wajah seorang sahabat begitu melekat sempurna menutupi aroma pengkhianatan. Akankah pernikahan segitiga di antara mereka bertiga berakhir baik-baik saja?
Tentu saja badai sudah mengintai siap menerjang hati lemah tanpa ampunan. Setiap sudut pandang akan dipertaruhkan dalam ketidakberdayaan yang merupakan kelemahan umat manusia. Sama halnya dengan bukti perbuatan di persidangan yang menguatkan tuduhan.
"Tuan muda, gadis yang Anda cari sekarang tinggal di sebuah apartemen tapi seluruh lantai teratas sudah dibeli oleh satu orang bahkan penjagaan begitu ketat," lapor seorang pengawal yang baru saja menyelesaikan tugasnya memata-matai sasaran pengintaian.
Haruskah bersyukur atau mengeluh? Tidak tahu kenapa semakin rumit dan sulit hanya untuk meminta maaf. Apapun yang sudah terjadi memang tidak bisa diubah dan sepenuh kesadaran diri siap mengakui kesalahan, tapi jika yang bersangkutan enggan memaafkan. Bagaimana dia bertahan di kubangan rasa bersalah?
__ADS_1
"Thanks untuk informasinya, kamu bisa pergi!" putusnya mengakhiri perjuangan hari ini, tangan menyambar handuk dari tepi ranjang bersambut peregangan kepala seraya beranjak dari posisi ternyamannya, "Otakku perlu istirahat, mandi bisa mendinginkan isi kepala yang hampir meledak."