
Akhirnya tidak ada lagi keraguan hati yang menggoyahkan keinginan sederhana nan memaksa dari seorang Bunga. Kedua orang tua pun mengalah karena putri mereka sudah menetapkan pilihan kemana arah perjalanan hidup di fase remaja menuju kedewasaan. Tidak salah hanya saja harus bersabar memahami arti pendewasaan dengan caranya sendiri.
Ketiga insan itu meninggalkan kediaman Bima ke asrama yang sudah dipilih. Dimana tempat tersebut memang dekat dengan Universitas Yasri. Kampus yang memang sudah menjadi pilihan gadis itu sebagai tempat menimba ilmu. Sesuai dengan wacana yang ada hingga papa Bima sendiri yang menentukan tempat asrama.
Bahkan pria itu juga sudah berbicara dengan pemilik asrama tersebut agar bisa menerima Bunga dengan baik. Semua tindakan dilakukan dalam sekali terjang karena setelah pindah ke asrama, maka ia tidak memiliki banyak kesempatan untuk ikut campur dengan apapun yang menjadi keputusan sang putri.
Sementara mama Milea dengan senang hati membantu putrinya membereskan ruangan yang menurut wanita itu cukup luas untuk seorang gadis. Sekaligus membuat kamar terlihat lebih baik dengan ikut membantu menata isi di dalamnya, membuat Bunga senang hanya saja heran sebab bukan hanya sekedar fasilitas biasa.
Papa Bima ternyata sudah menyiapkan segala sesuatunya dengan baik di mana kamar asrama yang ia tempati merupakan kamar termewah dari kamar penghuni lain. Bagaimana tidak? Biasanya asrama anak kuliah apa adanya kecuali flat apartemen, tapi berkah kegigihan seorang ayah kamar biasa disulap menjadi hotel.
Bunga bersyukur bisa mendapatkan semua itu. Akan tetapi kini, ia merasa apa bedanya di rumah dengan asrama ketika fasilitas pun tetap lengkap! Sayangnya tidak bisa mengeluh sebab itu sudah tertulis dalam surat perjanjian di mana untuk meringankan hati orang tua. Meski terkesan diam dan tidak mempermasalahkan hal itu.
Bunga sudah memiliki beberapa rencana selama tiga bulan ke depan agar kehidupannya bisa berwarna seperti pelangi setelah hujan datang menyapa. Rencana yang ia tuliskan menjadi three-month classic trips. Bisa dibayangkan akak seperti apa dunia menanti aksinya dalam berpetualang.
"Alhamdulillah, akhirnya semua sudah beres! Nah, sekarang kamu bisa istirahat dan mama akan temui papa," ucap Mama Milei begitu menutup lemari yang sudah terisi oleh pakaian yang mereka bawa.
Bunga menghela napas lega karena setelah ini, dia bisa menikmati ruangannya sendiri. Bukan bermaksud ingin mengusir mamanya, tapi ia sudah tidak sabar untuk hidup mandiri dan bagaimana pandangan orang-orang di luar sana. Apa akan menjadi kendala dan tidak membiarkan dirinya hidup secara mandiri atau justru sama-sama berjuang.
"Terima kasih, Ma. Padahal Bunga sendiri, tapi masih juga dibantuin mama. Ayo, aku juga mau ikut bertemu sama papa sekalian pamitan!" tegas bunga dengan semangat beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan menghampiri sang mama.
Bunga merengkuh tubuh wanita yang telah melahirkannya. Kemudian mereka berdua keluar dari kamar tak lupa mengunci pintu terlebih dahulu. Setiap kamar memiliki kamar mandi yang langsung ada di dalam dan juga kunci masing-masing. Sehingga tidak ada alasan orang lain memiliki akses untuk masuk ke kamar setiap penghuni asrama. Termasuk pemilik asrama yang hanya memiliki duplikat sebagai alat emergency saja.
Asrama Bunda Widya itulah namanya. Di asrama ini memiliki tiga tipe penginapan yang bisa dikatakan sangat sesuai dengan isi dompet para mahasiswa. Akan tetapi satu tipe asrama yang hanya terdiri dari 5 kamar saja dihargai dengan harga yang cukup mahal sebab luas ruangan dan juga perlengkapan lebih memadai bahkan juga memiliki wi-fi masing-masing.
__ADS_1
VVIP asrama merupakan tipe pertama dan memang baru dihuni oleh tiga orang saja dan itu termasuk Bunga, sedangkan tipe 2 adalah VIP. Dimana memiliki lima belas kamar dan berada di area depan rumah pemilik asrama. Fasilitas yang bisa dikatakan lengkap hanya saja tidak tersedia Wi-Fi masing-masing, tetapi satu Wi-Fi untuk ke lima belas kamar.
Sementara tipe ketiga yang disebut juga asrama ngirit oleh para penghuninya terletak di sisi lain area asrama dua tipe. Dimana pemilik asrama membangun deretan kost kamar dengan kamar mandi terpisah. Kamar yang disediakan sekitar tiga puluh dan bisa dikatakan hanya cocok untuk sekedar melepas rasa penat alias tidur. Harga yang ditawarkan menyesuaikan dengan kondisi ekonomi beberapa mahasiswa.
Entah kenapa papa Bima memilih asrama tipe pertama, sedangkan menurut Bunga sendiri tipe manapun itu tidak dipermasalahkan, tapi seperti biasa. Namanya orang tua tidak akan memberikan yang terpuruk ketika memiliki kesempatan untuk selalu memberikan yang terbaik bagi anak mereka. Apalagi untuk pertama kalinya seorang putri keluar meninggalkan rumah tanpa pengawasan.
Bisa dikatakan harap maklum dengan posisi masing-masing yang tengah berusaha untuk saling melengkapi, "Assalamualaikum, boleh kami masuk?" ucap tanya Mama Milea beserta Bunga yang serempak.
Suara salam yang terdengar lembut, membuat ketiga orang di dalam ruangan menoleh ke arah pintu masuk yang memang terbuka lebar, "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Mari, masuk aja, Bu, De!"
Bunda Widya sebagai pemilik asrama mempersilahkan istri dan putri dari tuan Bima untuk masuk sebab kepala keluarga dari penghuni baru asrama juga masih duduk di depannya. Wanita berhijab dengan tatapan mata teduh itu tanpa sungkan mempersilahkan para tamu agar menikmati minuman yang sudah dihidangkan oleh pelayan.
Obrolan terus berlanjut seperti orang-orang Indonesia kebanyakan yang memang ramah dan juga selalu berusaha untuk mengenal satu sama lain tanpa memperdulikan status masing-masing hingga papa Bima beranjak dari tempat duduknya, lalu menatap Bunda Widya dengan sopan.
"Semoga Bunga bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya, bapak jangan khawatir karena kami tidak akan memarahi anak-anak asrama. Seperti yang sudah diterapkan pada visi misi di mana kemandirian dan juga kedewasaan itu memiliki jalan masing-masing." jawab bunda Widya meyakinkan papa Bima agar tidak ragu meninggalkan putri mereka yang ada di asrama VVIP.
Mama Milea tak lupa memberikan pelukan hangat dan juga kecupan kening sebagai tanda perpisahan. Berat rasanya tetapi harus tetap dilakukan, "Sayang jaga dirimu! Ingat selalu shalat tepat waktu, makan teratur dan jangan begadang! Dokter melarangmu untuk tidak tidur terlalu larut sebab itu tidak baik untuk kesehatan, paham?"
"Insya Allah, Ma. Love you, jangan khawatir Bunga sudah besar dan pasti bisa menjaga diri. Terima kasih untuk semuanya. Papa dan mama memang yang terbaik!" Bunga dengan senang hati mengecup pipi kanan dan kiri mama Milea, lalu beralih ke pelukan papanya yang terlihat diam.
Sikap sang papa memang tidak seperti biasanya. Sudah pasti ayahnya itu belum bisa merelakan, apalagi harus meninggalkan putri semata wayang berada di luar rumah seorang diri. Sayang sekali kenyataannya semua harus dilakukan sesuai dengan apa yang sudah ditetapkan. Tidak ingin terus berbasa-basi hingga semakin menambah tidak rela.
__ADS_1
Papa Bima akhirnya membawa mama Milea meninggalkan asrama Bunda Widya. Kali ini ia tidak berani menoleh ke belakang sebab hati masih belum siap, tapi sang istri dengan senang hati melambaikan tangan yang bersambut laju kendaraan. Kepergian kedua orang tuanya, membuat Bunga juga undur diri dan kembali ke kamar sendiri.
Senandung kecil terdengar keluar dari mulut yang terus bergumam. Tentu saja gadis itu bahagia karena akhirnya bisa sedikit mendapatkan waktu serta kesempatan untuk melihat dunia yang luas. Semua sesuai dengan rencana dan ia tidak akan menyia-nyiakan satu waktu pun di tempat tersebut.
Pintu kamar ia buka, lalu masuk dan tak lupa menutupnya kembali. Niat hati ingin istirahat sejenak sebab sudah mengambil cuti kuliah agar bisa menyiapkan segala sesuatunya. Akan tetapi mendadak ia memikirkan rencananya sekali lagi. Dimana langkah pertama ia ingin bisa bekerja paruh waktu untuk menghasilkan uang sendiri.
Membayangkan mendapat gaji sendiri, tapi itu tidak semudah yang dibayangkannya. Meski begitu tetap saja ia harus mencoba agar tahu bagaimana kerasnya orang-orang di luar sana mencari selembar kertas untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukankah semua hal harus di coba?
"Sepertinya di sekitar sini ada cafe dan aku bisa coba melamar di sana, tapi tunggu dulu, deh!" Bunga memutar tubuhnya di depan cermin dengan tatapan mata menelusuri dari atas kepala hingga kaki, "Penampilanku saat ini terlalu mencolok, kurasa mereka juga akan berpikir tiga kali menerima gadis manja bekerja di cafe."
Dari segi penampilan memanglah Bunga selalu cantik dengan pakaian apapun, tapi gadis itu terlihat seperti gadis rumahan yang memiliki banyak uang sebab apa yang dipakainya memanglah bermerek. Jika dipikirkan ulang, maka pemilik cafe bisa berpikir ia ingin nongkrong sebagai pelanggan.
Penampilannya justru menjadi kendala terbesar saat ini. Gadis itu berpikir sejenak apa yang akan dilakukannya kali ini agar bisa memenuhi semua keinginan hati tanpa harus bersusah payah. Tentu saja bukan dikarenakan memiliki koneksi yang luas. Sebab ia hanya ingin dianggap sebagai manusia biasa yang juga harus berusaha untuk mendapatkan selembar kertas.
Sungguh ia ingin tahu bagaimana rasanya mendapatkan gaji sendiri dan bisa membeli sebungkus nasi padang. Hanya saja sekarang ia bingung karena masih berusaha untuk menemukan solusi hingga sebuah ide muncul di dalam benaknya, "Aha, benar juga aku bisa membeli pakaian murah di pasar terdekat atau di supermarket yang biasanya juga menjual beberapa kaos polos."
__ADS_1
"Ide bagus, tapi aku tidak yakin papa benar-benar meninggalkan diriku sendiri seperti sekarang," Bunga menautkan jemari di depan wajahnya seraya memikirkan ide lain yang lebih mudah dan paling simpel agar tidak harus bersusah payah hingga tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar. "Tunggu!"