
Obrolan kembali berlanjut tetapi tidak ada yang bisa mengubah keputusan seorang Bryant. Pria satu itu telah menetapkan tindakan demi menemukan setitik cahaya yang menjadi harapan masa depan meski untuk mendapatkan tujuan, ia sendiri justru bersiap merenggut kebebasan seorang wanita. Entah takdir yang mempermainkan dirinya atau ia sendiri memainkan garis kehidupan.
Andaikan saja tidak ada pertengkaran antara ia dan sang istri, mungkin hari ini tak datang menghampiri kehidupan singkatnya. Di tengah kebisuan yang melanda perjalanan tiba-tiba teralihkan suara laporan dari wanita di depan dimana Ocy memberitahu bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan. Bangunan yang tampak megah menjadi pusat pemberhentian setelah menikmati separuh waktu dalam keterasingan.
"Tuan, kita sudah sampai," lapor Oci seraya melirik ke kaca spion, dimana bossnya masih melamun.
Paman Alkan memberikan kode agar Oci keluar terlebih dulu. Sehingga Oci paham dan keluar menunggu di samping mobil, sedangkan sang paman berdehem hingga membuat keponakannya itu kembali sadar. "Bawa wanita itu, Nak! Semua sudah siap di dalam."
"Hmm." Bryant membuka pintu, kemudian menggendong Ara tanpa menatap wajah Ara meskipun sesaat.
Tidak ada tanya jawab tetapi keempat insan itu memasuki lift bersama. Dimana Ocy dan paman Alkan di belakang sementara Bryant yang menggendong Ara berada di depan. Tujuan mereka jelas yaitu satu flat apartemen Anggrek menjadi tempat Bryant untuk menenangkan diri bahkan tempat itu sebenarnya hanya paman Alkan serta Oci yang tahu.
Bisa dibilang sebagai tempat perenungan dengan kesendirian di waktu-waktu tertentu. Apartemen yang menggunakan teknologi cukup canggih dimana untuk masuk ke kamar sendiri setiap pemilik flat harus melakukan pemindaian retina agar pintu apartemen terbuka. Nuansa mewah dengan banyaknya dinding kaca dimulai dari pintu masuk yang langsung disambut ruang tamu minimalis dan berseberangan dengan ruang makan.
Begitu masuk, Bryant meletakkan Ara didalam kamar tamu, lalu kembali ke ruang tamu untuk melakukan rencana selanjutnya. Ia tidak ingin menunda apapun agar semakin meminimalisir kesalahan apalagi tindakan di luar batas apalagi mengingat status sebagai seorang pebisnis sekaligus suami seseorang. Jujur saja jika bukan karena tekanan maka ia memilih tetap setia.
__ADS_1
"Kapan penghulu datang?" Rasa tidak nyaman semakin dirasakannya tetapi ia hanya bisa menahan diri agar tetap tenang sehingga membuat keadaan semakin tampak terencana tanpa banyak aturan.
Padahal setiap detik terasa menyesakkan dada. Ia merasa seluruh oksigen di renggut secara paksa, bagaimana bisa meneruskan perjalanan hidup yang tampak tenggelam di dalam badai. Sadar benar jika setiap langkah dengan sengaja berjalan di atas bara api. Lalu mungkinkah akan ada hujan yang menyejukkan rasa sakit di hatinya?
"Sebentar lagi, tapi wanita itu masih pingsan." tukas paman Alkan mengingatkan agar keponakannya sedikit bersabar dengan keadaan yang memang terkesan buru-buru.
Bryant memberikan kode pada Oci, dimana Oci memahami keinginan tuan muda sehingga wanita itu mengangguk dan bangun dari tempatnya. Langkah kaki si wanita rambut sebahu itu berjalan memasuki kamar tamu, dimana Ara berada. Entah apa yang dilakukan olehnya hingga dalam hitungan menit terdengar suara panggilan sang pengawal dari dalam yang membuat Alkan dan Bryant menyusul.
"Silahkan, Tuan! Saya, permisi," tutur Oci yang bergerak dari tempatnya begitu melihat kedatangan tuan muda dan sang tuan besar kedua, tapi tiba-tiba ada tangan yang menahannya dimana itu menghentikan pergerakannya.
Tangan yang gemetar, tatapan mata tak berdaya dengan wajah menundukkan pandangan. Betapa menyedihkannya si wanita malang yang ia bawa sebagai calon istri siri. Melihat ketidakberdayaan Ara, Bryant mengangkat tangan kanan membiarkan Oci tetap bersama calon istri sirinya itu, "Paman berikan kontrak itu padanya!"
"Kamu bisa membaca kan? Baca map ini!" perintah paman Alkan yang tak ingin banyak berargumen meski menyadari wanita di hadapannya tengah mengalami guncangan dalam hidup.
Oci membantu menerima map lalu membukanya, ia membiarkan Ara membaca tanpa perlu memegang map dengan tangan yang gemetar. Tatapan mata membulat sempurna yang semakin menunjukkan netra coklat Ara tenggelam menyelami kesedihan menyorotkan ketidakpercayaan. Bibir kelu dengan sisa kedamaian yang tak lagi bisa digenggam.
Langit runtuh atas pengkhianatan Akbar telah menghancurkan kepercayaan hatinya, sedangkan kini dengan selembar kertas menyapu sisa harapan yang bahkan belum ia rajut. Betapa menyedihkan kehidupan yang dijalani kini, apa semua orang memiliki hak meremukkan semangat dan juga keyakinannya? Dimana ia mencari keadilan setelah semua kecurangan yang menimpa takdir kehidupan miliknya.
"Pilihanmu hanya dua, menjadi istri siri atau menjadi wanita malam!" tegas Bryant memperjelas jalan yang sebenarnya bukan sebuah pilihan melainkan ketetapan.
Dunia begitu kejam pada Ara, wanita itu bahkan belum usai menikmati rasa sesak dan rasa sakit di hatinya. Kini hidupnya terjun bebas ke dasar jurang yang dalam. Bagaimana ia melanjutkan kehidupan ketika belum genap satu jam dari diceraikan dan dikhianati, kini hidupnya sudah masuk ke dalam hubungan tanpa kejelasan.
__ADS_1
Akan tetapi jika tidak menikah dengan pria yang sudah membayar kehidupannya. Lalu sanggupkah ia menjalani hidup sebagai wanita malam yang melayani berbagai jenis pria hidung belang, "Aku siap menikah dengan Anda." Ara memejamkan mata setelah mengucapkan kalimat pemberontakan dari dalam hati kecilnya.
Paman Alkan memberikan pulpen kepada Ara dan menunjukkan tempat Ara untuk tanda tangan. Tangan gemetar si wanita mencoret kertas perjanjian hitam diatas putih. Coretan terakhir tinta, membuatnya pasrah. Kini hidup tak ubah seperti boneka. Setidaknya ia tidak harus melayani banyak pria setiap malam dan kehormatan seorang wanita masih terjaga, meskipun menjadi istri siri dari seorang pria asing.
Persetujuan Ara, membuat Bryant tersenyum di balik topeng. Kedua pria itu keluar dari kamar tamu dan membiarkan Oci menyiapkan mempelai wanitanya. Setelah menunggu tiga puluh menit, Oci keluar bersama Ara dengan penampilan sederhana. Balutan kebaya putih lengan pendek dan rambut tersanggul seadanya, wajah dengan riasan tipis.
"Bisa kita mulai?" tanya Bryant bahkan masih memakai topeng, pria itu tak memberikan kesempatan pada calon istrinya untuk melihat wajahnya yang mungkin bisa mengubah keterpaksaan menjadi persetujuan sukarela.
Oci membiarkan Ara duduk di samping Bryant. Suasana tampak tegang dengan hawa dingin menyebar. Pak penghulu memulai do'a sebelum melakukan pernikahan dan menjabat tangan Bryant dengan kuat, "Saya nikahkan dan kawinkan ananda Bryant Angkasa Putra dengan saudari Ayesha Ramadhani binti Machmud dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sepasang cincin emas dua puluh karat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Ayesha Ramadhani binti Machmud dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Bryant mengikrarkan janji suci dan menghentakkan tangan penghulu.
"Bagaimana saksi, sah?" tanya pak penghulu yang mengedarkan pandangan ke kanan, lalu ke kiri beralih menatap beberapa orang yang sengaja didatangkan sebagai saksi bisu pernikahan siri kedua insan di depannya.
"Sah ...,"
Ucapan para saksi yang terdiri dari empat orang, membuat Ara sadar dari pikirannya. Berpikir semua yang terjadi hanyalah mimpi, tapi semua yang terjadi adalah nyata. Setelah ditalak, kemudian kata sah terdengar seperti cambukan di dalam kehidupannya. Apalagi yang tersisa?
"Mulai hari ini kamu tinggal disini dan jangan pernah keluar dari pintu itu! Semua keperluan mu sudah tersedia, jika membutuhkan sesuatu hubungi Oci." Bryant memberikan ultimatum setelah satpam, pak penghulu keluar meninggalkan apartemen miliknya.
Tanpa pria itu sadari jika bukan hatinya saja yang patah. Ara bahkan merasa terjatuh begitu dalam, dimana berawal dari cinta yang ia agungkan seketika menjadi ledakan. Bagaikan hidup tanpa jiwa lalu takdir menjadikannya sebagai boneka. Semua orang berlomba-lomba mempermainkannya tanpa perasaan hingga rasa sesak sakit dan luka tak lagi terobati.
Kebenaran akan selalu menjadi pahit ketika itu memanglah sebuah pengkhianatan tetapi setiap tindakan menghadirkan karma yang pasti tidak bisa disingkirkan. Begitulah akhir dari setiap keputusan di dalam kehidupan yang mana di balik penderitaan masih terselip kenangan dari sebuah peristiwa milik semua insan. Takdir bukanlah apa yang dikatakan tetapi sesuatu dalam garis ketetapan.
__ADS_1
Tidak peduli sejauh apa pikiran melayang, kenyataannya akan tetap kembali pada kebenaran yang ada di depan. Sama seperti sekelebat kenangan yang melintas tetapi singgah bahkan menari bak khayalan dalam separuh kehangatan. Kehidupan kembali pada masa dimana dunia berjalan sebagaimana mestinya.