
Bingung, itulah yang saat ini di rasakan oleh mandor perkebunan, semua kecurangan yang selama ini dia lakukan sudah terbongkar oleh Daniel.
"Tuan Daniel." Panggil mandor perkebunan.
"Aku tidak suka memaafkan siapapun, jadi jangan pernah kamu mencoba untuk meminta maaf padaku."
Daniel yang kemudian pergi dari perkebunan, pria itu nampak menyusuri setiap perkebunan yang dimiliki oleh ayahnya. di tempat lain Arina ternyata juga berada di perkebunan, wanita itu sedang memakan buah durian bersama dengan Haris.
"Ngapain itu wanita ada di sini." ucap Daniel yang menatap Arina sedang memakan buah durian bersama dengan Harris.
"Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku." Arina yang sedang berbicara dengan Haris.
"Maksudmu?" tanya Haris.
"Kamu tahu sendiri kan bagaimana sikap pria itu padaku? sebenarnya sih...," ucap Arina yang tidak dilanjutkan. wanita itu menatap hari dengan tatapan mata yang sedikit kebingungan.
Arina ingin menceritakan namun dia sedikit takut jika harus mengatakan pada orang lain.
"Memangnya ada apa? Apakah ada sesuatu yang membuatmu kebingungan?" tanya Haris.
"Kalau aku mengatakan hal ini apakah Mas Haris mau menyimpannya dan tidak mengatakan kepada siapapun?" tanya Arina.
"Tentu saja, memangnya kenapa." jawab Haris.
"Mas tahu sendiri kan bagaimana sikap pria itu padaku sebenarnya? kami menikah itu bukanlah pernikahan berdasarkan cinta atau perjodohan." ucap Arina.
"Maksudmu?" tanya Haris.
"Maksudku itu adalah kami menikah secara perjanjian saja, pria itu begitu angkuh. Ayah Ma'ruf ingin aku mengubah putranya." jawab Arina.
"Lalu apakah kamu menyetujuinya?" tanya Haris.
"Ya bagaimana lagi Mas, Ayah Ma'ruf itu begitu baik padaku. dia selalu membantuku di saat aku kesusahan." jawab Arina.
"Lalu?" tanya Haris yang mulai menanyakan kembali.
"Sebenarnya pernikahan ini hanyalah sebuah konspirasi, konspirasi yang aku tanda tangani bersama dengan ayah Ma'ruf. tapi pria itu malah memberikan aku perjanjian pernikahan selama 1 tahun Setelah itu kami hidup sendiri-sendiri." jawab Arina.
Haris tersenyum, pria itu memakan buah durian kemudian menatap Arina.
"Hidup itu berjalan tidak sesuai keinginan kita, Arina. hidup itu berjalan karena kita harus menjalani hidup bukan hidup yang berjalan sesuai keinginan kita." jawab Haris.
__ADS_1
"Maksudnya?" tanya Arina.
"Entahlah, aku pantas mengatakan hal ini atau tidak. Tapi yang jelas kamu harus menjalani semuanya jika itu menurutmu bagus. tapi jika itu tidak bagus ya kamu harus berhenti, sesuatu yang tidak bagus dan terpaksa di jalan itu akan menyakitkan." jawab Haris.
"Terima kasih ya Mas, karena kamu membuat perasaanku begitu lega. aku tidak punya teman untuk berbagi Kesedihanku, aku tidak punya teman untuk berbagi semua pikiranku." ucap Arina.
"Kalau kamu mau kamu bisa datang ke rumah Atau kamu bisa ke pondok bagi pekerja." ucap Haris.
"Maksudnya?" tanya Arina.
"Aku tidak mempunyai rumah untuk tempat tinggal semenjak kecil, Mbok Sri sudah mengambilku membesarkanku dan memberikan aku kehidupan Haris." jawab Haris.
"Bukankah kamu itu adalah keponakan Mbok Sri?" tanya Arina.
"Sebenarnya aku bukanlah keponakan Mbok Sri, tapi jika boleh jujur aku adalah anak haram yang dihasilkan dari perbuatan yang tidak baik dari suami Mbok Sri dan ibuku. Mbok Sri benar-benar begitu tulus, membesarkanku dia tidak pernah sekalipun meminta balasan atas apa yang dia lakukan. Dia merawatku semenjak aku masih berusia begitu kecil, ketika itu usiaku sekitar 2 tahun." jawab Haris.
"Lalu kenapa kamu tidak memanggil Mbok Sri dengan panggilan ibu?" tanya Arina.
"Aku ingin sekali memanggil Mbok Sri dengan panggilan ibu, tapi karena cibiran dari orang-orang yang selalu memanggilku dengan panggilan anak haram Mbok Sri membawaku pergi jauh dari tempat kami. Dia membawaku kemari, dia mengatakan kalau aku adalah keponakannya. Mbok Sri tidak ingin aku tersakiti dengan cibiran orang-orang." jawab Haris.
Pembicaraan dua orang itu nampak membuat Daniel sedikit penasaran.
Langkah kaki Daniel hendak mendekati Arina dan Haris.
"Mas Daniel." Panggil Lisa.
Seketika langkah kaki Daniel harus berhenti karena panggilan seseorang.
"Kamu ngapain lagi sih ke sini?" tanya Haris.
"Mas Daniel Ini kenapa sih, aku kan cuma mau bicara sama Mas Daniel." jawab Lisa.
"Kamu itu selalu saja menggangguku, apa tidak ada waktu sehari untuk kamu tidak menggangguku? aku itu selalu terganggu dengan Kehadiranmu." ucap Haris yang langsung pergi meninggalkan Lisa.
Nihat hati ingin mengetahui apa yang dibicarakan oleh Haris dan Arina, karena kedatangan Lisa Hal itu membuat Daniel harus mengurungkan niatnya gara-gara wanita pengganggu itu.
"Aku tidak bisa mendengarkan pembicaraan mereka berdua." ucap Haris yang sudah melajukan motornya berkeliling Desa melihat pemandangan perkebunan yang terhampar begitu luas.
"Selamat pagi Mas Daniel." siapa para gadis muda yang sedang panen di perkebunan.
Daniel tidak menjawab, pria itu hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mas Daniel itu tampan banget ya." ucap salah satu pekerja.
"Iya Mas Daniel itu tampan baik, tapi sayangnya dia itu benar-benar sangat dingin." ucap salah satu pekerja kembali.
"Seandainya Mas Daniel kemari tidak membawa istrinya..., Mungkin kita bisa menggodanya." ucap beberapa gadis.
"Yal nggak mungkinlah kita menggodanya, Mbak Arina aja ada di sini. kalau kita menggodanya dan mbak Arina marah, bisa-bisa kita dilempari buah durian itu." cibir beberapa gadis.
Tak ada kata yang bisa diucapkan oleh para gadis muda itu, mereka benar-benar mengagumi Daniel dengan ketampanan dan keangkuhannya namun membuat mereka terpesona.
Beberapa jam kemudian akhirnya Haris kembali ke rumah, pria itu menatap Arina yang sudah ada di ruang tamu.
"Aku kira kamu nggak bakal pulang." cibir Daniel
"Memangnya kalau aku tidak pulang aku mau ke mana?" tanya Arina.
"Cepat sana buatkan aku makanan, aku lapar perintah Daniel.
"Kamu kira aku ini pembantumu, kalau kamu makan buat sendiri kalau tidak minta sama bibi yang ada di dapur." jawab Arina yang begitu kesal.
"Wanita ini benar-benar sangat menyebalkan, dia susah sekali diperintah. dia itu menikah denganku karena apa ya? kalau dia menikah karena uang seharusnya dia menurut padaku, kok malah dia menentang aku." ucap Daniel yang terlihat juga ikut kesal karena Arina tidak mematuhi perintahnya.
Langkah kaki Arina memasuki dapur, tatapan mata wanita itu menatap beberapa pekerja yang sudah ada di dapur.
"Mbak Arina." Panggil salah satu pembantu.
"Oh ya Bi, tolong kamu buatkan majikanmu itu makanan apapun." minta Arina.
"Iya mbak, Apakah Mbak Arina juga ingin dibuatkan sesuatu?" tanya salah satu pembantu.
"Nggak usah nanti aku buat makanan sendiri saja." jawab Arina.
* Bersambung *
Mohon dukungannya pada novelku yang lainnya 😊😊😊
- Mawar berduri
- Terlempar ke dunia sang kaisar
- karena cinta
__ADS_1