Karena Cinta

Karena Cinta
Part 59#Farhan Ziyad Raif


__ADS_3

Langkah kaki sengaja tidak dipercepat sebab di depan sana, pemuda itu masih bisa melihat keberadaan Bunga. Bukannya peduli, tapi ia tidak ingin si gadis mata hazelnut tau bahwa mereka tinggal di asrama yang sama. Entah dirinya yang memang terlalu overthinking atau memang takut dan ragu akan hal lain.


Akhirnya kedua Insan itu kembali ke kamar masing-masing dan beristirahat dengan tenang. Malam yang semakin larut membawa keheningan bersambut kesenyapan tanpa ada seruan. Kedamaian itu ada Ketika hati dan pikiran tak terus berjaga. Hanya saja tak semua Insan merasakan hal yang sama di waktu yang sama pula.


Sama seperti emosi milik seorang pria yang tengah duduk di depan segelas wine tanpa niat ingin meneguknya, "Sampai kapan kamu hanya diam dan tidak mau bicara. Apa begini caramu protes?"


"Hei, Bung! Pria itu tidak akan mendengarkan dirimu. Asal kau tau saja, dia sudah gila," ujar seorang pengunjung club menunjuk ke arah pria yang berpenampilan alim tetapi memiliki kebiasaan minum kelas atas.


Jika ada yang menantang maka siap-siap saja kalah karena seorang Ziyad tidak akan membiarkan lawannya menang. Nama lengkapnya adalah Farhan Ziyad Raif yang bermakna bahagia memberi kasih sayang yang lebih. Nama indah dengan arti nan dalam, bukankah seharusnya bisa menjadi seorang panutan dengan kemurahan hati?


Sebab ketika nama dipisah menjadi setiap kata akan memiliki arti masing-masing. Farhan bermakna bahagia, Ziyad bermakna suatu kelebihan, dan Raif bermakna penyayang. Orang tua memberikan nama indah penuh harapan agar kelak anak-anak bisa menjadi contoh yang baik.


Namun, tak seorangpun akan menyangka bagaimana masa depan nanti. Jika hidup dapat diprediksi, maka hidup akan terhenti dan tidak ada rasanya. Benar bukan? Sama seperti yang terjadi pada si pria pemabuk. Dimana pria itu hanya tengah terperosok ke dalam dunia gelap tanpa ada uluran tangan yang membantu.


Si pria pemabuk beranjak dari tempat duduknya. Lalu dengan langkah kaki gontai berjalan menghampiri pria buncit yang telah mengolok-olok dirinya, bahkan tanpa tahu tentang kehidupan yang ia lalui. Seulas senyum lebar nan sinis menatap nyalang sekedar ingin menguji nyali lawan tanpa perkenalan.


"Wah, wah, pria buncit, apa kau tidak ngaca, ya? Coba lihat dirimu dicermin! Siapa yang gila, aku atau kamu? Seingatku tempo hari ada wanita yang memaki bahkan melukaimu karena ketahuan selingkuh. Hahahaha, apa harus kusebut dirimu bandit?"


Suara tawa Ziyad terdengar begitu keras hampir saja mengalahkan suara musik yang bergema menemani para pengunjung club dan membuat si pria buncit tersudut. Memang benar bahwa tempo hari ia didatangi istri sah di saat bermesraan dengan lima wanita malam sekaligus. Meski begitu bukan berarti gila, ya.


Lagipula seorang pria yang memiliki banyak harta ketika tidak mendapatkan kepuasan dari istri di rumah. Apa salahnya mencari kesenangan di tempat lain? Ia hanya ingin menuntaskan hasrat yang tidak bisa dilakukan dengan pasangan sahnya sendiri.


"S!al! Apa urusanmu dengan kesenanganku, hah? Enyah kau dari hadapanku!" pria buncit mendorong Ziyad sepenuh hati dengan kekuatan maksimal hingga tubuh si pria pemabuk terdorong ke belakang. "Ck, dasar pria tidak berguna!"


Ziyad yang kehilangan keseimbangan hampir saja terantuk meja bar tetapi tarikan tangan berhasil menyelamatkan dirinya. Kemudian membimbing ia agar duduk di atas kursi dengan benar. Niat hati ingin memberontak tetapi tangan kekar yang memiliki kekuatan besar mengunci pergerakannya.


__ADS_1


"Aish, ngapain ikut campur, sih. Aku bisa atasi bedebah itu sendiri!" Ziyad berusaha untuk terus meloloskan diri, tapi tetap tidak bisa berkutik hingga tangan kekar mencengkram dagunya bersambut tatapan serius.



Apa yang pria didepannya pikirkan? Ia tidak tahu, hanya saja satu hal sudah pasti yaitu tidak ingin dibantah. Entah apa yang akan terjadi. Ia sendiri mulai merasa kepalanya berputar karena pusing. Entah kenapa tiba-tiba pandangan mulai buram hingga samar berakhir kegelapan tanpa mampu berkata-kata lagi.



Suara tepuk tangan yang mengetuk gendang telinga menghapus sisa kesadaran. Tidak tau apa yang terjadi selanjutnya karena ia menikmati kegelapan di dalam kesendirian. Sekelebat bayangan tanpa rasa sungkan menyambut kesepian dalam mimpi tanpa batasan.



Suara hinaan yang bergema kembali terdengar menyentak ketidaknyamanan. Sakit ketika hati dan harga diri tidak bisa dipertahankan. Apalagi ketika identitas sendiri terenggut tanpa ada pembelaan yang membuat dunia menatap ia sebagai bentuk dosa tanpa tempat untuk berpulang.




"Calm down! Dokter hanya menyuntikkan obat pereda rasa sakit. Jadi kamu bisa istirahat lagi!" Pria yang berdiri di depan jendela dengan tangan bersedekap menatap ke arah luar. Dimana pemandangan kota terlihat begitu ramai oleh bangunan-bangunan gedung pencakar langit.



Setelah menunggu selama hampir dua puluh dua jam. Akhirnya si pria pemabuk sadar dan itupun karena obat yang diberikan dokter setelah melakukan pemeriksaan secara berkala agar tidak mengalami kesalahan saat memberi pengobatan pada pasien. Semua tes dilakukan tanpa meminta izin dari si pemilik raga.



"Kalian siapa dan mau apa dari pria pemabuk sepertiku?" Ziyad berusaha membenarkan posisi duduknya dengan tangan menahan denyutan di kepala. Ia merasa ada yang salah tetapi tidak tahu dimana letak kesalahannya.

__ADS_1



Semakin berusaha mengingat apa yang terjadi. Justru kepala terasa kian sakit seolah ada tali kekang yang menarik dari arah berlawanan. Sakitnya sangatlah luar biasa hingga jeritan terdengar bergema di penjuru ruangan. Tak mampu menahan diri dari gejolak yang memberontak di dalam ingatan.



"Dok, tinggalkan kami berdua!" Si pria di depan jendela mengibaskan tangan kanan, membuat dokter yang melihat perintahnya beranjak dari tepi ranjang.



Dokter itu membungkukkan setengah badan sebagai bentuk penghormatan pada sang tuan, "Tuan, berhati-hatilah! Saya pamit undur diri."



Derap langkah kaki tanpa tekanan terdengar semakin menjauh. Penantian kian singkat membawa rasa tidak sabar dari dalam hati. Setelah melakukan pencarian selama satu jam, ia menemukan bukti nyata yang bisa menjadi kunci utama. Akan tetapi ia tidak menyangka akan fakta yang terungkap di depan mata.



Kali ini keputusannya akan sangat sensitif. Apa harus menjadi seorang penyelamat atau justru pelenyap. Bukan bingung atau dilema, melainkan ia tidak bisa bertindak gegabah hanya karena satu kebenaran yang mencuat di antara kepalsuan dan ketidakberdayaan. Sulit tetapi harus memutuskan untuk kebaikan semua orang.



Ziyad menatap ke arah pria di depan jendela dengan begitu serius meski kedua tangan masih memegangi kepala agar tidak lepas begitu saja. Ia tidak tahu alasan pria itu masuk ke dalam kehidupannya yang sudah berantakan. Terlebih lagi orang-orang saja sudah menganggap dia sebagai sampah masyarakat.



"Kamu itu siapa dan kenapa membawaku kemari?" tanya Ziyad mencoba untuk mencari tahu situasinya agar bisa mencari cara meloloskan diri dari perangkap orang asing.

__ADS_1


__ADS_2