
Rasa penasaran menyapa hati membuat bibir mengajukan pertanyaan begitu saja. Jujur saja, setelah beberapa hari hanya ketegangan akhirnya bisa menikmati kebahagiaan seperti semula. Terlebih lagi setelah keputusan suaminya yang memutuskan tinggal hanya berdua saja di rumah.
Senyum terus tersungging menghiasi wajah sederhana tanpa polesan, sorot matanya menyatakan kebahagiaan yang tak bisa diperhitungkan. "Mas, kita mau kemana, apa jalan ini ke taman yang kamu janjikan?"
"Sayang, aku akan membawamu ke tempat yang menjadi kehidupan barumu. Disana kamu bisa mendapatkan banyak cinta dan juga kesenangan, sabarlah karena sebentar lagi kita sampai." jawab si pria dengan perasaan tak karuan, ia sadar hati mulai bimbang tetapi tujuan yang sudah di genggaman tangan bagaimana mungkin dilepaskan.
Setelah menunggu cukup lama dengan berbagai upaya akhirnya hari yang dinanti tiba dimana ia bisa melepaskan kehidupan palsunya dan menyambut kehidupan bahagia bersama orang tercinta. Akan tetapi kenapa hati tersiksa seakan langkah kaki enggan meneruskan perjuangan atas nama cinta. Apa dunia ingin menghukum dirinya?
Waktu yang berlalu hanyalah berakhir menjadi kenangan tanpa arti. Apapun itu harus ditinggalkan di belakang tanpa izin memperhitungkan setiap jejak persimpangan yang dipenuhi benih tipu daya permainan. Seharusnya senang karena kini bisa melepaskan beban yang menjadi penghalang kebahagiaan, lalu kenapa jiwa terkoyak oleh tatapan mata polos sang buruan.
Tangan yang bergelayut manja dilepaskan, kemudian mengalihkan perhatian memperhatikan jalanan luar. Dimana hanya ada pepohonan rindang menuju pemukiman tetapi anehnya tak banyak orang yang lalu lalang. Sekilas ingatan, ia pernah mendengar pembicaraan tentang lingkungan yang sedang dilalui oleh kendaraan tempat dirinya dan sang suami menumpang.
Kenapa hatiku gelisah, perasaan macam apa ini? Wilayah ini bukannya ke tempat orang-orang yang suka bersenang-senang tapi kenapa mas Akbar membawa ku kesini? Atau cuma perasaanku saja.~gumam batin Ara mulai tidak tenang dengan jalanan yang dilewati kendaraannya.
Firasatnya mengatakan untuk tetap waspada tetapi setiap kali mengingat keberadaannya bersama sang suami, maka seluruh pemikiran dengan kecurigaan disingkirkan begitu saja. Ia percaya bahwa Akbar akan selalu menjaga dirinya meski berada di tengah hiruk pikuk dunia yang memiliki banyak ketidaknyamanan. Kepercayaan itu menjadi kekuatan dalam pikiran.
Lagipula hubungan mereka berdua sudah kembali baik bahkan tidak memiliki keluhan apapun. Begitulah pikir Ara yang masih tidak menyadari kegelisahan Akbar dimana suaminya siap melancarkan serangan terakhir dari tujuan menjadikan dirinya sebagai pasangan halal. Kini kehidupan hanya memiliki dua pilihan, mengabaikan atau meninggalkan tanpa belas kasihan.
"Ara, semoga setelah hari ini, kita mendapatkan kebahagiaan yang layak. Aku berharap tidak ada penghalang yang bisa merenggut kedamaian dan ikhlaskan semuanya demi kehidupan baru. Apa kamu bersedia?" ujar Akbar dengan ucapan melantur yang tak bisa dimengerti Ara.
Wanita satu itu hanya menganggukkan kepala tanpa mengajukan tanya. Tidak peduli dengan isi hati serta pikiran sang pasangan halal, baginya semua akan baik selama mereka berdua hidup bersama tetapi kepolosannya sungguh menjadi jembatan kepalsuan yang selalu siap menjadi bibit pengkhianatan. Sayangnya ia tidak sadar atas permainan yang siap menenggelamkan ke dalam ruang kegelapan.
Obrolan yang terdengar ringan terselesaikan tanpa perpisahan begitu mobil taksi dihentikan di depan halaman luas sebuah rumah penginapan di depan. Ditahannya pergerakan menunggu kesiapan hati yang mendadak tak bisa membedakan belas kasihan. Apa ia masih harus melanjutkan rencana awal atau melupakan balas dendam?
"Mas, kok malah diem. Apa kita sudah sampai atau mas mau ketemu teman?" Ara yang memperhatikan gelagat Akbar merasa bahwa prianya sedang kebingungan, apalagi sorot mata terlihat tidak tenang.
__ADS_1
Pertanyaan pelan nan lembut menyentak kesadaran, tetapi ia sadar tidak berhak menyudahi persiapan atas perpisahan yang sudah menjadi kesepakatan. Dengan perasaan tak karuan, hati meyakini akan tindakannya sebagai keadilan atas hubungan yang tak bisa dilanjutkan. Semua menjadi penghakiman tanpa tuduhan.
"Kita turun, ayo!" ajaknya seraya mendorong pintu mobil, lalu mengulurkan tangan kanan yang bersambut genggaman tangan Ara sebagai akhir dari kebersamaan.
Langkah kaki berjalan pelan tanpa membiarkan taksi pengantar meninggalkan tempat pertemuan. Akbar mengubah emosi hati tanpa belas kasihan, pria itu mulai menunjukkan jati dirinya tanpa menunggu persetujuan. Apalagi melihat kedatangan dua pria kekar dari arah dalam penginapan yang menjadi rumah tujuan.
"Wow, tumben pria kesayangan mamca nongol siang hari. Ada apa gerangan?" goda salah satu pria kekar dengan kelakarnya yang tidak mempan di telinga Akbar.
Akbar memperhatikan sekitar dimana tidak ada banyak orang selain mereka berempat yang berdiri di halaman depan di bawah sinar mentari. Tatapan mata yang terus memperhatikan dirinya semakin terasa merisaukan. Tidak lagi ingin menikmati ketegangan apalagi ketidaknyamanan, ia hempaskan tangan yang tergenggam di dalam genggaman hingga terhuyung ke depan dibawah tahanan dua pria kekar.
Lalu ia menaruh telapak tangan kanannya di atas kepala sang istri dan melepaskannya setelah memberikan senyuman manis. "Ini rumah barumu. Mulai detik ini, aku Akbar Wijaya mengharamkan Ayesha Ramadhani menyentuh raga ku. Ku jatuhkan talak tiga untukmu!"
Tubuh ambruk dengan butiran air mata runtuh, Ara seorang gadis dengan pemikiran sederhana terkulai lemah di bawah lantai. Mata bahagianya berubah menjadi tangisan penuh luka. Tatapan nanar melayang ke arah pria berwajah oval dengan rambut ikal pemilik hatinya. "Kenapa mas Akbar memberi talak? Apa salahku? Jika Ara melakukan kesalahan. Ara minta maaf, tapi Ara mohon jangan ceraikan Ara."
Suara pilu dengan deraian air mata Ara tak dipedulikan Akbar, pria itu justru memberikan isyarat pada dua preman di depan rumah susun tiga untuk mendekat agar menahan sang mantan istri, "Bawa anak baru mami kedalam rumah! Katakan, Akbar menukar hutangnya dengan wanita baru."
Namun Ara menatap Akbar bahkan matanya tak berkedip, bibir begitu kelu tetapi masih meluncurkan satu kata tanya, "Kenapa?"
"Kamu hanyalah penebus hutang judi ku. Tidak lebih." tegas Akbar dan mengabaikan kesedihan di dalam sorot mata wanita yang selama ini selalu memberikan cinta padanya.
Sesak dan hancur impian ketika menyadari keberadaannya tak lebih dari dari alat pertukaran. Apa salahnya selama setahun ini? Semua diberikan tanpa syarat bahkan beberapa waktu lalu ia pun memberikan peninggalan terakhir orang tua yang tersisa demi menuruti keinginan pria yang menjadi pasangan halal.
Lalu secara tiba-tiba dengan alasan jalan-jalan, pria itu justru membawaku ketempat yang orang-orang menyebutnya dengan *Rumah Pojok*. Langit siang dengan sengatan matahari, tak sepanas bara api di hati. Apalagi dengan mengingat kenangan demi kenangan pernikahan harmonis kami selama satu tahun, seketika secara perlahan hangus terbakar.
Di tengah uka hati yang tak berdarah karena tusukan belati kebenaran seorang suami tercinta, luka yang menganga justru tersiram air garam. Dimana kedatangan seorang wanita dengan langkah gemulai mendekati mas Akbar dengan manjanya menghamburkan diri menunjukkan kemesraan tanpa ada penyesalan.
__ADS_1
"Sayang, sudah kan, bisa kita pergi? Aku sangat lapar," Anggun bergelayut manja di lengan mas Akbar.
Lebih menyakitkan lagi melihat balasan sang suami yang dengan santainya merengkuh bibir Anggun dan mengecupnya posesif tanpa memperdulikan perasaan yang tercengang, "Anggun, apa maksud dari semua ini? Mas Akbar itu, suamiku! Kenapa kamu…,"
"Suami? Mas, katakan siapa aku!" tukas Anggun dengan tangan menjelajahi dada bidang Akbar.
Pengakuan Anggun begitu pahit tetapi yang menyiksa justru tatapan mata Akbar. Pria itu menatapnya dengan jijik, lalu dengan angkuh menunjuk jari ke wajah sembab yang tak kuasa menahan kehancuran hati, "Anggun adalah Istriku, sedangkan kamu hanya penebus hutang. Apa kamu dengar! Ayesha Ramadhani, aku menikahimu demi Anggun."
Ketika keinginan hati tak menjadi penghalang nyata. Lalu apa gunanya rasa yang tersisa? Kehidupan ini dipenuhi kepalsuan tanpa memiliki tempat untuk kebenaran seperti kenyataan yang menjadi milik beberapa orang di tengah kepercayaan. Ada kalanya terhempas karena pengkhianatan yang tak bisa dihentikan.
"Istri? Bagaimana ... " cicit Ara dengan ketidakpercayaan atas kenyataan pahit hidupnya.
Tanpa memperdulikan Ara, Akbar merengkuh tubuh Anggun kedalam pelukannya. Seolah menunjukkan bahwa keduanya pasangan terbaik. "Kamu itu bod0h, naif dan jelek. Lihatlah penampilanmu, jika bukan karena perkebunan pria bangka itu. Sudah pasti aku tak sudi menikah denganmu!"
Rasanya semakin hancur dengan tikaman demi tikaman yang tepat menusuk di jantung bahkan tiada hentinya menambah luka. Bagaimana bisa dirinya tidak tahu akan status sahabat sendiri yang bersuamikan suami sama. Kebenaran pahit yang menyayat hati menjadikan raga bak mayat hidup dan setiap kata dari bibir pria pemilik tahta hati seketika menjadi serpihan kaca.
Perlahan tak mampu menahan rasa sesak di dada hingga kesadaran semakin pudar bersambut rasa sakit yang mendera di kepala. Embusan semilir angin tak mampu menyentuh ketenangan apalagi setelah semua keyakinan dihancurkan tanpa belas kasihan. Samar-samar seluruh pemandangan tampak mulai menghilang dari pandangan bersambut kegelapan tanpa ujung kepastian.
"Astaga pingsan," ujar seorang preman di sisi kiri yang terkejut mendapati wanita taruhan pingsan akibat serangan dua insan tak bermoral.
"Bawa saja masuk! Lebih gampang kan," Akbar dengan santainya memberikan saran.
Anggun tersenyum puas dengan keadaan Ara. Apalagi selama setahun ini dirinya harus rela berbagi. Meskipun Ara istri pertama Akbar, tapi hanya dirinya yang berhak atas Akbar. Tidak seorang pun boleh memiliki miliknya, "Ayo, kita pergi dari sini, Mas! Biarkan Ara diurus duo K. Kita makan saja di cafe favorit."
"Tentu, apapun keinginanmu. Ingat malam ini pelayananmu," Akbar mencolek dagu Anggun dengan kerlingan mata.
__ADS_1
Seperti kehidupan seseorang dimana separuh hati meyakini cinta atas hubungan sakral tetapi tiba-tiba tertampar oleh kebenaran di dalam kisah nyata miliknya seorang. Semua terjadi begitu saja tanpa pemberitahuan sehingga ia sendiri tak memiliki ruang mengungkapkan keluhan atas ketidakadilan yang dirinya rasakan. Apa semua orang memiliki hak untuk menyingkirkan kebahagiaan dalam hidupnya?