Karena Cinta

Karena Cinta
Part 96#MEMENUHI SURAT PANGGILAN


__ADS_3

    Bagaimana seorang ayah tak terkejut dengan kedatangan pihak kepolisian yang datang di pagi hari dengan membawa surat panggilan untuk anggota termuda keluarganya. Adyatma Mahavir Alister, sang putra yang merupakan sekaligus keponakannya itu tiba-tiba tersandung kasus, lagi. Padahal sudah diingatkan jangan membuat masalah baru jika memang mau tinggal di Indonesia.


    "Bi, bangunkan tuan muda!" tuan Ardian yang merupakan paman dari Vir harus segera menyelesaikan masalah di depan mata.


   Suka atau tidak, ia sebagai anggota tertua harus bersikap kooperatif dengan membiarkan pihak kepolisian melakukan tugas negara. Meski setelah ini harus mencari tahu akar dari permasalahan sang keponakan. Entah bagaimana ia harus membersihkan nama keluarga jika sampai awak media tahu.


    "Pak, boleh jelaskan secara singkat kasus apa yang membuat Vir harus dipanggil secara mendadak?" tatapan mata lurus terpatri pada netra pak kepala Polisi.


    Sementara yang ditatap justru tersenyum tipis, "Anak muda zaman sekarang kurang bisa mengontrol emosi, Pak. Semua hal dijadikan bahan postingan media sosial. Terlihat sepele, tapi sangat merugikan untuk korban yang merasa dicemarkan nama baiknya. Kasus ini menjadi pasal berlapis jadi tuan Ardian bisa membicarakan pada pengacara."


    Pencemaran nama baik? Sebelumnya sudah dijelaskan mengenai pasal, undang-undang dan juga hasil akhir ketika seseorang melakukan hal ini, jadi othoor gak jelasin lagi, ya. ☺


    "Anak ini," Ardian mengepalkan tangan menahan rasa kesal hatinya, di saat bersamaan bibi datang membawa tuan muda ke depan.


    Wajahnya yang tampan tak berkurang meski sudah seperti muka bantal dengan rambut acak-acakan. Semalaman begadang menyelesaikan urusan yang menumpuk sampai harus menginap di rumah utama. Entah takdir atau kesialan karena pagi hari sudah mendapatkan kejutan besar.


    "Vir, bisa jelaskan ke paman. Sebenarnya ada apa?" Ardian mengalihkan perhatiannya menuju Vir yang kini sudah berdiri tegak di dekatnya.

__ADS_1


    Vir yang masih setengah mengantuk mencoba mencari sisa kesadarannya dan meminta pak polisi menyerahkan surat panggilan. Perlahan ia baca secara teliti tanpa ketegangan hingga terdiam oleh alasan di balik pemanggilan. Apa surat di tangannya memang benar atau hanya manipulasi saja?


    "Aku akan ikut ke kantor polisi, tapi biarkan ganti pakaian dulu. Sepuluh menit, permisi," Vir bergegas kembali ke kamar karena ia juga tak ingin menunda pekerjaan pihak berwajib, apalagi melihat sikap toleransi yang diberikan tanpa penolakan.


     Niat hati ingin bergerak cepat tetapi kedatangan sang paman yang mengunci kamarnya berhasil menunda waktu lebih lama. Sambutan tatapan tajam menelisik jelas membutuhkan penjelasan darinya, hanya saja ia sendiri masih belum yakin. Jika pun ingin menjelaskan, apa yang bisa dijelaskan?


    "Vir! Diammu tidak memberi paman jawaban. Apa kata orang kalau tahu putra keluarga ini masuk jeruji besi? Jadi cepat katakan apa yang kamu lakukan sampai dipanggil polisi!" tukas paman Ardian tak mau melepaskan keponakannya.


    Rasa kantuk yang awalnya masih bertahan terhentak begitu saja, raga jatuh duduk di tepi ranjang dengan tatapan tak tahu arah. Ia merasa dunia kembali berguncang, "Ntahlah, aku sendiri juga tidak tahu. Paman bisa ikut datang ke kantor polisi bawa pengacara dan cari tahu sendiri."


    "Astaga, kok malah jadi gitu, Vir? Ya sudah, cepat keluar dan pergi sama pihak berwajib! Paman panggil pengacara biar langsung ke kantor polisi sekarang," putus Ardian tak bisa berkata-kata lagi setelah mendapatkan jawaban dari sang keponakan.


    Akhirnya Vir meninggalkan kediamannya dengan menikmati perjalanan ke kantor polisi ditemani pihak berwajib. Pemuda itu teramat diam bahkan mengabaikan semua pertanyaan yang diajukan. Satu hal paling penting adalah ketika tersandung sebuah kasus, maka berbicaralah bila sudah ada pengacara.


    Selain bukti, saksi juga diperlukan sehingga mendapatkan jaminan dari kecurangan. Meski begitu terkadang hati manusia mudah dibolak-balikkan. Jarak dari rumah hingga kantor polisi pusat hanya memerlukan satu jam lebih lima menit yang mana membuat perjalanan terasa cukup panjang. Apalagi tidak ada obrolan selain ketegangan.


    Suara sirine khas yang membelah jalanan mempermudah kendaraan pemerintah itu melewati semua jalur aman sampai pada akhirnya memasuki sebuah halaman luas dengan dinding pagar sebagai pembatas area luar bangunan. Kantor polisi pusat cabang Jakarta Selatan. Satu per satu turun dari kendaraan besi begitu juga dengan Vir.

__ADS_1


    "Bawa pemuda ini ke ruang pimpinan!" titah kepala polisi yang langsung disambut hormat oleh anak buahnya.


    Meski kasus pencemaran nama baik bisa membuat seseorang mendekam di penjara. Ia masih mempertimbangkan status dari kedua belah pihak yang sebenarnya sama-sama kuat hanya saja pihak pelapor memang ingin kasus dibicarakan secara kekeluargaan terlebih dahulu. Permintaan tersebut tentu saja di sambut dengan tangan terbuka.


    Namun, apakah pihak terlapor mau menerima syarat yang akan diajukan pihak pelapor? Entahlah. Apa yang akan terjadi nanti pasti cukup menjadi pemanasan dunia para keluarga orang kaya. Apalagi yang mengajukan laporan adalah pengacara handal dan memiliki nama istimewa di hati banyak kliennya.


    "Permisi, Pak. Kami antarkan pemuda yang dilaporkan oleh saudari Bunga Angela," lapor seorang polisi setelah mengetuk pintu ruang pimpinan tiga kali.


    Polisi satunya membukakan pintu dan mempersilahkan Vir masuk seorang diri tanpa teman. Pemuda itu terlihat begitu diam meski hati mulai berkecamuk memendam rasa geram. Ucapan dari polisi pertama menyadarkan dirinya bahwa semua kekacauan di pagi hari akibat ulah sugar baby.


    Dirinya tak menyangka gadis seperti Bunga yang sudah jelas melakukan tindakan di luar batas sampai berani melaporkan dengan pasal pencemaran nama baik. Jika menjadi sugar baby adalah fakta. Kenapa gadis itu ingin sekali mempermalukan diri sendiri? Begitulah isi pikiran Mahavir yang masih buta akan kebenaran nyata.


    Lirikan mata tajam menelisik memperhatikan wajah pemuda yang baru saja masuk ke dalam ruangan. Memang tampan tapi sayang kurang bisa menjaga tangan. Sepertinya memang tidak memikirkan masa depan sebelum bertindak ceroboh sampai harus masuk ke dalam daftar musuh keluarganya.


    Tidak peduli juga jika sampai harus membebankan hukuman tanpa ada jaminan hanya saja mengingat keinginan sang keponakan. Ia berusaha menurunkan ketegasan tanpa mengurangi batasan. Terlebih lagi keluarga yang akan dihadapi masih jauh berada di bawahnya.


    "Mahavir, duduk! Tuan Al, bisa tunggu sebentar karena pengacara pemuda ini masih dalam perjalanan." ucap kepala pimpinan yang menjadi kepala utama di kantor polisi pusat tersebut.

__ADS_1


    Al mengangguk tanpa mengucapkan sepatah katapun, sedangkan Vir enggan duduk di dekat pria dewasa yang auranya begitu dingin bahkan bulu kuduk saja meremang. Ia pikir, dirinya sudah sedingin es batu, tapi ternyata masih ada si kulkas dua belas pintu. Perbandingan begitu jauh jika memang sikap tegas disetarakan.


__ADS_2