
Tidak peduli seberapa kejam cara akhir mengakhiri bisnis di antara mereka berdua, si wanita menganggap semua adil dan bisa menjadi pengecualian untuk terakhir kalinya. Setidaknya jika menyetujui rencana kali ini, maka kehidupan kembali tenang tanpa gangguan kecemasan. Bisnis miliknya juga aman karena tidak ada ancaman.
Namun jauh di sudut hati terdalam, ia merasa begitu kejam. Sebagai seorang wanita yang memiliki masa lalu tak menyenangkan tetapi harus melakukan sesuatu di luar dugaan. Meski bisnis yang dijalaninya bisa dikatakan sejalan dengan rencana si pria gila.
"Apapun keinginanmu lakukan saja! Seperti biasa aku cuma mau terima beres dan tidak peduli bagaimana caramu menyelesaikan masalah rumah tangga yang seperti neraka itu," balas si wanita dengan persetujuan yang memang hanya dijadikan syarat perpisahan antara ia dan pria gila.
Seperti malam gelap nan menjelaga dan waktu berlalu begitu saja hingga tak terasa kehidupan seminggu berjalan tanpa ada ketegangan yang menyita. Suasana dunia tampak baik-baik saja tetapi tidak dengan ketenangan anggota keluarga Bima. Dimana kedua orang tua telah memutuskan menjaga puteri mereka di rumah utama.
Tangan terangkat mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat semenjak kemarin siang. Gadis di dalam sana mengurung diri, entah apa yang terjadi sehingga tidak keluar menemui anggota keluarga bahkan makan malam yang di antar pun kembali ke dapur tak tersentuh sedikitpun. Rasa khawatir pasti ada mengingat wajah manis hilang berganti ketakutan di dalam mata.
"Bunga, boleh mama masuk, Nak?" mama Milea berusaha tetap bersikap tenang meski pada kenyataannya hati gelisah tak menentu.
__ADS_1
Sebagai seorang ibu, ia bisa merasakan rasa takut yang dialami putrinya. Meski benak menyimpan banyak tanda tanya akan kepulangan Bunga yang tiba-tiba, ia dan suaminya masih mencoba memberikan waktu pada gadis mereka agar menenangkan diri terlebih dahulu.
Akan tetapi setelah hampir delapan belas jam berlalu, hati tak sanggup menahan diri lagi. Sehingga pagi ini dengan perasaan tak karuan mendatangi kamar putrinya, "Bunga! Apa kamu masih tidur, Nak?"
Sekali lagi mengetuk pintu kamar tetapi sayang tidak ada jawaban dari dalam ruangan. Keheningan yang melanda membawa separuh ketenangan hatinya. Di tengah usaha seorang pria datang menghampiri, lalu merengkuh bahu kanannya. Sorot mata tanya juga menjadi milik mereka berdua.
Menurut dengan apa yang diminta sang suami, mama Milea memilih meninggalkan depan pintu kamar putrinya. Ia menjalankan permintaan dari orang tersayang tanpa menambahkan perlawanan. Hati masih gelisah tak menentu tetapi harus bertahan mencoba mengulur waktu dan berharap semua baik-baik saja.
__ADS_1
Suara langkah kaki terdengar menuruni anak tangga yang semakin samar hingga membuat papa Bima kembali mengetuk pintu kamar Bunga. Sayangnya masih tidak ada jawaban yang bisa membawanya pada ketenangan. Apa di dalam sana, semua baik-baik saja?
"Astafirullah, anak ini," gumamnya mulai kehilangan kesabaran, ia tidak habis pikir kenapa Bunga sampai mengurung diri.
Padahal masalah yang sedang dihadapi bisa dibilang berjalan tanpa ada ketegangan bahkan Al juga selalu memberikan perlindungan ketat. Rasa penasarannya akan tetap menjadi pertanyaan, tetapi yang sedang dipikirkan masih duduk terdiam menatap sepucuk surat tanpa tanda tangan.
Ia tahu benar siapa pengirim pesan yang menjadi awal kegundahan hatinya hanya saja kenapa terlalu begitu frontal. Bahkan kesalahan yang lalu belum termaafkan dan kini malah membuat dirinya semakin geram. Niat ingin membuat perdamaian tetapi setelah kedatangan surat ditangannya.
Tentu sudah diputuskan, tidak akan ada lagi perdamaian. Apa pemuda itu tidak memiliki akal pikiran atau memang lupa daratan. Sungguh benar-benar tidak bisa dipercaya dengan memberikan surat ancaman. Secarik kertas menjadi akhir dari seluruh hubungan semua orang.
__ADS_1
"Tega bener kamu gituin aku, Vir. Gak nyangka banget sama akal licikmu," ucap pelan Bunga semakin mengepalkan tangan kanannya.