
Langkah kaki terburu-buru turun dari ranjang, lalu ia bergegas mengambil pakaian yang berserakan tak karuan di atas lantai. Entah sudah berapa lama teronggok tanpa diperhatikan tetapi kini menjadi jaminan dirinya keluar setelah mempersulit alur kehidupan hanya demi karir yang cemerlang.
"Hazel, buruan! Jangan sampai Bryant pulang kantor kamu masih di luar," ucapnya sambil membenarkan gaun yang baru saja ia kenakan.
Sebenarnya tidak masalah meski harus beralasan menginap sebab tuntutan pekerjaan. Akan tetapi beberapa alasan membuat hati tidak tenang. Ia merasa semakin hari justru kebersamaan dari hubungan sepasang suami istri terbengkalai dan tentu bukan hal baik meninggalkan suami tampan larut dalam kesendirian.
Semua pria yang bersuami memiliki kesamaan yaitu membutuhkan kehangatan dari pasangannya. Meski selama ini Bryant bukan pria penuntun, ia cukup mulai sadar ketika hubungan semakin hambar. Akan tetapi bukan karena mengharapkan kebersamaan melainkan ia tak ingin kehilangan tambang kemewahan.
Singkat cerita setelah begitu cekatan mengganti pakaian, wanita itu memilih meninggalkan hotel tempat kesenangan. Ia pikir semua aman tetapi di balik setiap kegiatannya selalu mendapatkan pengawasan. Tanpa ia sadar segala tindakan menjadi bukti sebuah kenyataan yang membuat seseorang marah bukan main.
Gebrakan meja tak terelakkan mengejutkan semua orang yang ada di ruangan pertemuan, "Dasar jal@ng!" umpat orang itu dengan giginya yang saling bersinggungan menimbulkan gemeretak tak berkesudahan.
"Tuan Al, apa perlu kita eksekusi wanita itu sekarang?" celetuk salah satu informan yang juga tidak tahan dengan kelakuan menantu pertama dari keluarga sang majikan.
__ADS_1
Siapapun pasti marah ketika mengetahui sisi buruk dari anggota keluarga sendiri. Jika itu mengenal hak pribadi maka tidak ada yang bisa melarang meski mau menjadi wanita malam atau pembunuh bayaran. Akan tetapi bila tindakan dari seseorang sudah menyalahi aturan bahkan bisa merusak reputasi baik keluarga terpandang. Bukankah lebih baik langsung dibasmi?
Yang namanya hama perusak lingkungan tentu memiliki tempat peristirahatan sebagai buangan. Siapa yang mau menyimpan hama? Tidak seorangpun maka dari itu lebih baik dihancurkan sebelum semakin merusak pemandangan.
Bukannya senang atas kesiapan sang informan untuk melenyapkan menantu pertama keluarga Putra. Al justru menatap tajam anak buahnya karena kurang perhitungan, "Bunuh saja! Apa kalian ini tidak bisa mencerna informasi yang sudah dikumpulkan?"
"Siluman itu bukan lawan tapi lingkaran tempat dia menjual diri harus diperhitungkan. Orang-orang ini," Al menunjuk ke atas meja yang mana banyak foto fantasi olahraga ranjang berserakan, "Mereka harus bisa tutup mulut dan untuk itu, aku sendiri yang akan turun tangan. Kalian pastikan jadwal pertemuan dalam dua kali dua puluh empat jam. Paham?"
"Siap, Tuan Al." jawab serempak para informan yang tanpa banyak pertanyaan langsung membubarkan diri dari kebersamaan. Mereka meninggalkan Al di ruangan tanpa satupun kawan.
"Bry, kok bisa kamu nikah sama wanita model b@jingan." Al menghela napas panjang berusaha mengurangi ketegangan di dalam benak pikirannya, ia merasa tidak habis pikir dengan pilihan sang keponakan.
Jika menantu pertama meski seorang wanita malam, ia tidak masalah asalkan wanita itu mau memahami kehidupan haruslah lebih baik dan bukan semakin jatuh ke dalam jurang. Kali ini tidak ada lagi kesabaran dan ia harus melakukan sesuatu agar kehidupan Bryant bisa lebih baik. Jika mungkin terlepas bebas dari hubungan tak sehat saat ini.
__ADS_1
Namun untuk meyakinkan Bryant juga sulit, pria itu keras kepala. Jika mengatakan langsung pada intinya maka kemungkinan langsung ditentang kecuali menciptakan suasana yang menghadirkan tuntutan melaksanakan kewajiban. Yah, sesuatu bisa dilakukan tanpa harus turun tangan terlalu jauh.
Tangan beralih haluan menyambar benda pipih yang sempat ia abaikan, lalu mencari sebuah nomor langganan dan tanpa menunda menekan ikon panggilan. Suara dering dari seberang menandakan si pemilik nomor tidak mematikan layanan datanya. Hingga beberapa nada dering barulah terdengar suara sapaan dari seberang.
"Waalaikumsalam, dengarkan aku dulu sampai selesai bicara," Al tengah tidak sabar sengaja memotong pertanyaan yang diajukan dari seberang. Pria itu tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi sehingga tanpa basa-basi menjelaskan rencana awal untuk menyadarkan Bryant.
Obrolan terlihat cukup serius bahkan jemari Al terus memainkan nada ketukan meja hanya untuk mengusir ketegangan. Selain berusaha menjadi seorang paman, ia benar-benar harus memposisikan diri sebagai seorang ayah dan juga pebisnis. Jika tidak maka bisa saja menjadi senjata makan tuan.
Lima belas menit berlalu begitu saja, "Aku tutup telepon sekarang. Sukses untuk misinya, assalamu'alaikum."
"Ya Allah, semoga ini jalan terbaik untuk keluarga kami. Hamba hanya berharap Bryant memiliki kehidupan baik dengan pasangan yang bersedia menemani di setiap suka maupun dukanya. Tidak ada yang tau hari esok dan jalan ini agar kehidupannya bisa tetap baik-baik saja. Aamiin."
Ponsel kembali di letakkan ke atas meja tetapi tatapan mata enggan mengalihkan perhatiannya. Di antara lembaran foto yang berserakan tiba-tiba ia tak sengaja menemukan wajah lama. Diambilnya kertas yang selama beberapa waktu tertimpa foto lain, lalu ia amati lebih teliti lagi.
__ADS_1
"Pria ini," Al mencoba mengingat nama yang sebenarnya sudah hampir terlupakan hingga sekelebat kenangan datang menyapa menyentak kesadaran. "Pitter!"