
Sindiran halus terdengar tak berperasaan terlontar begitu saja dari bibir mungil yang menunjukkan kesombongan diri si gadis kota. Gaun putih nan panjang dengan belahan dada rendah dan liontin bulat biru laut menghiasi leher jenjangnya. Wajah cantik dengan paduan khas orang Korea bercampur Amerika membuat pesonanya kian terasa.
Bukan hanya si gadis muda yang memiliki penampilan luar biasa sebab si wanita paruh baya juga menunjukkan kecantikan alami meski usia tak lagi muda. Wajah yang selalu terawat sehingga menampilkan inner beauty penuh karisma, hanya saja enggan menggertak lawan tanpa belas kasihan. Kedua insan itu terlihat mirip meski beberapa hal bisa dipastikan tak sama rupa.
Mengulurkan tangan kanan, lalu mengambil cangkir porselen di atas meja kemudian menyibukkan diri meniup uap panas nan putih lembut agar minuman pesanannya bisa dinikmati tanpa takut kepanasan. Perlahan menghirup aroma kopi pekat tetapi bercampur susu dan vanilla, baginya citarasa selalu bisa mengubah suasana hati.
"Minumlah jus favoritmu! Aku sudah memesan sesuai dengan menu sarapan di setiap pagimu dan tidak usah buru-buru karena disini hanya ada kita berdua." ujar si wanita paruh baya yang dengan sengaja membimbing gadis muda di depannya agar tetap tenang menikmati pagi bersama.
Jujur saja, ia tak berniat buruk apalagi hanya fokus memenuhi keegoisan diri sendiri apalagi yang dilakukannya demi memenangkan hati seorang putri. Sikap maupun sifat yang sangat dirinya pahami tentu sudah dipertimbangkan bahkan sebelum melakukan pertemuan. Terlebih lagi mengingat kehidupan di masa lalu hanya ada jarak pemisah antara mereka berdua. Kini sudah tanggung jawabnya mengembalikan kasih seperti sedia kala.
__ADS_1
Namun, di satu sisi ia pun sangat sadar telah berlaku tidak adil kepada putri bungsunya. Sebab itu pertemuan pertama hanya mereka berdua tanpa menggabungkan pihak lain meski juga anggota keluarga. Lagi pula ia sendiri harus memenuhi tanggung jawab pertama sebelum menunaikan kewajiban terakhirnya.
"Apa nyonya bercanda dengan saya?" delik si gadis muda yang membuang muka tak senang mendengar pernyataan tamu asing di matanya.
Tak menggubris penolakan dari si gadis muda karena sebagai orang tua, ia memiliki hak untuk tetap menghabiskan waktu bersama setelah sekian lama tidak berjumpa, "Li Wei, sepenting apapun posisimu di perusahaan keluarga, hal itu tidak berpengaruh untukku. Apa kamu bisa tenang supaya kita lebih mengenal satu sama lain, bagaimana?"
Suara lembut berusaha meraih kepercayaan si gadis muda dimana waktu akan menjadi milik mereka berdua. Hubungan yang selama ini tersimpan rapat mulai terungkap meski bukan kebetulan seperti disengaja. Wanita paruh baya itu tak mau meninggalkan kesempatan pertama untuk meluruskan kesalahpahaman dari permasalahan internar yang ada di dalam keluarga mereka.
"Selama beberapa tahun kami berpisah dengan kesepakatan sebagai mantan suami istri, aku memang bersalah karena meninggalkanmu, Li Wei. Kepergianku bersama Li Mei yang sebenarnya adalah kakakmu tidak bisa dihindari sehingga keluarga menjadikan mawar indah sebagai pewaris tahta bisnis. Kebenaran ini membuat kalian berdua kehilangan kasih sayang orang tua, maafkan mama untuk itu, Nak."
__ADS_1
Cerita yang menjabarkan bagaimana masa lalu tragis si wanita paruh baya hanya didengarkan tanpa jawaban sepatah katapun dari Li Wei. Gadis itu terdiam seribu bahasa dengan emosi bergejolak di dalam jiwa. Ia tidak mengira tiba-tiba bara api di hati menyala begitu saja, apa amarah menguasai dirinya?
Bahkan kedua tangan mengepal erat hingga suara tulang bergeser tak menyudahi ketidaknyamanan yang membelenggu kedamaian hatinya. "Hentikan omong kosong Anda, Nyonya!" bentak Li Wei seraya beranjak dari tempat duduk, lalu ia pergi berlalu begitu saja tanpa menoleh ke arah wanita paruh baya yang mengaku sebagai mama kandungnya.
Kebenaran memang pahit tetapi lebih baik daripada kebohongan di tengah rajutan masa depan. Hati lega akhirnya bisa mengungkapkan seluruh kenyataan dari keluarga yang menjadi lingkaran penyesalan selama sisa hidupnya meski ia sadar harus berjuang mendapatkan kepercayaan sang putri kedua. Entah apa yang akan terjadi dan menjadi keputusan gadis pemilik separuh jiwanya.
"Nyonya, apa Anda akan mengembalikan barang milik keluarga almarhum ...," niat hati ingin menghilang tanya dari benaknya tetapi tangan kanan sang nyonya terangkat sehingga menghentikan pengajuan rasa ingin tahunya.
Si wanita paruh baya berbalik menghadap bawahannya, tatapan mata tajam tak tergoyahkan menatap seorang pria yang terlihat masih cukup muda meski usia menginjak usia tiga. "Lancang! Apa kamu bosan hidup?" geram dengan aksi yang tidak seharusnya apalagi mempertanyakan hal di luar batas.
"Jangan sekali-kali kamu ikut campur urusan keluarga. Ingat jika tugasmu itu hanya mengawal dan bukan menggurui majikan. Pergilah jaga putriku!" sambung tegas si wanita paruh baya memastikan sang bawahan tetap pada batasan yang ada.
__ADS_1