Karena Cinta

Karena Cinta
Part 123#PANGGILAN, MANSION TERATAI


__ADS_3

      Kebahagiaan Ara terlihat begitu jelas menambah semangat dalam diri wanita itu sedangkan di sisi lain seorang pria sibuk memikirkan sesuatu yang mengganjal pikiran. Tidak tahu kenapa, ia merasa ada yang salah di dalam dirinya terlebih rasa pusing yang mendera di kepala cukup menyiksa. Apa sudah terjadi sesuatu yang ia tidak tahu?


    Di tengah lamunan yang disibukkan tenggelam menikmati rasa sakit tiba-tiba teralihkan oleh suara dering ponsel dari atas nakas. Rasa enggan diabaikan, lalu bergegas menjawab panggilan yang ternyata dari sang paman. Nama di layar mengingatkan dirinya akan beberapa pekerjaan yang tidak terlupakan.


    "Assalamu'alaikum, Om Al." Bryant menyapa sang paman sebelum mendapatkan ceramah panjang kali lebar. Pria itu merasa bersalah karena mengabaikan pekerjaan tapi benar-benar tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya.


    Sementara Al yang sengaja menelepon Bryant bukan berniat menceramahi keponakannya. Bahkan pria itu sedang duduk tenang di ruang kerja dengan pemandangan menjijikkan di depan mata yang memenuhi layar laptop. Ia sengaja mematikan suara jeritan dosa yang pastinya memuaskan sepasang kekasih gelap.


    "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, apa keponakanku sudah lupa jadwal rapat seminggu ini? Jika iya, mau diingatkan atau langsung aku turunkan jabatanmu. Cepat bersiap dan datang ke kantor!" tegasnya dan tanpa menunggu jawaban dari seberang ia akhiri panggilan.


Meski yang menjadi CEO perusahaan adalah Bryant tapi bukan berarti sebagai wakil tidak bisa menarik jabatan sang keponakan. Bagaimanapun ia juga pemilik saham yang juga memiliki kekuasaan hanya saja tidak menunjukkan posisi sebenarnya agar semua orang bisa menghormati keponakan pertamanya tanpa ada omongan di belakang.


    Setelah memastikan sudah mengingatkan Bryant, barulah ia beralih mendial nomor lain yang ternyata sudah beberapa kali menghubungi dirinya, entah ada apa karena ia sendiri beberapa waktu lalu masih sibuk menyelesaikan pekerjaan. "Katakan!" Al mendengarkan suara penjelasan dari sebarang. Ketenangan yang memberikan kesadaran perlahan terhempas merengkuh kekesalan dengan tangan mengepal menahan emosi hati.


    Pengakuan yang mengejutkan tetapi cukup berani membuat dirinya tak ingin bersikap berlebihan. Namun harus tetap memutuskan langkah selanjutnya agar masalah bisa terselesaikan tanpa bisa diungkit lagi. Dan untuk itu maka harus membersihkan permasalahan dari akarnya.


    "Kumpulkan semua yang terlibat ke mansion sekarang! Aku datang dan pastikan semua tanpa terkecuali bahkan jika itu seorang pelayan." Al beranjak dari tempat duduknya, ia tak lupa mematikan laptop sekaligus memastikan tidak ada yang bisa membuka miliknya tanpa izin.


    Tidak ada kesempatan kedua. Itu yang diyakini Al tapi berkat permintaan sederhana dari orang terkasih maka prinsipnya sengaja dikesampingkan dan setelah apa yang ia dengan. Maka semua sudah melewati batas kesabaran. Jika orang berani berpikir buruk tentang anggota keluarga Putra. Siapapun tidak bisa selamat dari murkanya.


    Ia sendiri bertindak setelah memastikan jika yang melakukan kesalahan bukan anggota keluarga sendiri. Harga diri serta kehormatan bahkan sikap arrogant harus dipertanggungjawabkan dan tidak sekalipun ia berusaha merendahkan seseorang jika memang tidak melakukan kesalahan apapun. Segala sesuatu pasti memiliki sebab dan bisa mendapatkan jawaban ketika ada yang meragukan.

__ADS_1


    Singkat waktu, Al memilih meninggalkan perusahaan dan semua pekerjaan. Pria itu beralih tempat dengan mendatangi sebuah mansion yang ada di tengah kota tetapi memiliki luas bangunan tak terkira. Mansion Teratai yang merupakan kediaman utama milik pemimpin mafia sendiri.


    Namun mansion tersebut jarang di datangi hanya saja seluruh anak buah bisa menempati karena fasilitas pelatihan juga sangat memadai. Al sendiri lebih menikmati kehidupan bersama keluarga daripada harus menempati bangunan mewah tanpa kehangatan sedikitpun meski semua anak buah memiliki kesetiaan yang patut dihargai.


    Mobil sedan hitam terparkir sempurna di tempat biasanya yaitu di bawah pohon sakura yang sengaja ditanam oleh tukang kebun profesional. Sakura atau cherry blossom (Prunus serrulata) adalah bunga berwarna putih atau merah jambu yang biasanya mekar di awal musim panas di Jepang.


    Di Jepang, bunga sakura biasanya ditanam di sekeliling sekolah atau di tempat-tempat umum lainnya. Bunga sakura adalah tanaman berbentuk pohon yang sering dijadikan tanaman hias di tepi jalan, yang dapat ditanam dari biji.


    Bahkan terdapat lebih dari dua ratus jenis bunga sakura yang dikembangkan di Jepang, yang paling terkenal adalah yang berjenis Somei Yoshino (Prunus x yedoensis). Namun dalam perkembangannya, ternyata bunga sakura tidak hanya bisa ditanam di Jepang.


    Kini bunga sakura bisa juga ditanam dan dibesarkan di Cina, Korea, Eropa, Siberia Barat, India, Kanada, Amerika Serikat, bahkan di Indonesia. Bunga sakura berkerabat dekat dengan almond, persik, plum, dan aprikot. Penanganan khusus oleh ahlinya menghasilkan tanaman yang berkualitas.


    "Bos Altra, mereka semua ada di ruang isolasi. Apa mau dipindahkan?" lapor seorang bawahan yang bertugas melakukan penjemputan.


    Al hanya mengibaskan tangan menolak tawaran yang diajukan anak buahnya. Langkah kaki berjalan meninggalkan tempat parkir menyusuri halaman depan yang tampak lenggang tanpa banyak penjaga. Mungkin orang-orang sedang melakukan pekerjaan di luar karena ia sendiri memang tidak membatasi gerak para bawahan.


    "Pisahkan pemuda itu dari yang lainnya dan pindahkan yang lain ke kamar pengawasan umum. Biarkan siang ini membakar panas dunia. Aku tunggu di ruang pertemuan, tugasmu antar si biang onar menemuiku. Pergilah!"


    Satu perintah yang menyangkut seluruh ketetapan langsung dijalankan dimana si pemberi laporan berlari menjauh meninggalkan Al di belakang. Sang pemimpin bisa menemukan tempat pertemuan tanpa pengawalan tapi tidak dengan si biang onar. Sehingga kewajiban harus ditunaikan tanpa memicu keributan.


    Al sendiri tidak membuang waktu walau hanya satu detik dimana pria itu mengabaikan semua anak buah yang menyapa kedatangannya. Langkah kaki tegas trus berjalan maju melewati beberapa ruangan dengan beberapa lorong temaram yang biasa digunakan sebagai jalan terobosan hingga berhenti tepat di depan pintu kaca buram tanpa penjagaan.

__ADS_1


    Dibukanya pintu kaca dengan mendorong ke depan tanpa bantuan pengawal, udara dingin menyapa hawa panas yang membakar jiwanya. Sepertinya AC sengaja di nyalakan begitu rendah derajatnya. Jadi sudah pasti ada yang menghandle pekerjaan di mansion sebelum dirinya turun tangan.


    "Zack, apa anak itu sudah di Indonesia lagi?" tanyanya pada diri sendiri, ia ingat jika tangan kanannya harus tinggal di luar negeri untuk menyelesaikan masalah formalitas terakhir sebagai persetujuan kerjasama.


    Satu nama yang bisa memberikan ketenangan setiap kali ada ketidakberesan di setiap kesempatan. Ya cuma tangan kanannya yang memahami tanpa banyak mengajukan pertanyaan dan berkat kemampuan sang tangan kanan juga, dirinya tidak perlu banyak melakukan tindakan kecuali urusan dimana perwakilan dilarang.


    "Hay, Bos. Aku bawa roti bakar pesananmu, mau dilemparkan atau cuma dipanggang?" suara sapaan datang dari belakang tetapi tidak mengalihkan perhatian Al yang masih berdiri membelakangi pintu.


    Tangan terangkat menunjukkan jari telunjuk ke arah kursi tawanan yang membuat pria di belakang tertawa pelan dan tidak sabar melihat pertunjukan. Suara rintihan dari seseorang menambah kehebohan yang bersambut perlakuan kasar tanpa perasaan. Diikatnya tangan sang tahanan yang sebenarnya sudah tidak bisa melawan karena pengaruh obat bius semasa penjemputan.


Satu tarikan tangan menarik lakban yang membungkam bibir seorang pemuda tampan tetapi sayang wajahnya sedikit lebam akibat pemberontakan sebelum dilumpuhkan tim penjemputan, "Have fun, ya. Bos Altra, silahkan!"


Langkah kaki berjalan menjauh dari kursi sang tawanan, ia tidak perlu turun tangan karena melihat situasi tuannya sendiri sudah gatal ingin memberi pelajaran pada pemuda yang telah menjadi penyebab bangkitnya kemarahan seorang Alkan Putra. Kenapa orang kehilangan akal dan tidak mau berpikir ulang sebelum menyinggung seseorang yang bisa membalikkan dunia dalam hitungan detik saja.


Tangan menyambar remote yang tergeletak di atas meja. Remote dengan sepuluh tombol dan warna berbeda itu memiliki fungsi masing-masing dan orang-orang yang pernah duduk di kursi tawanan hanya merasakan beberapa tombol saja. Setiap warna memiliki hukuman dan bisa menjadi penyiksaan tanpa harus menyentuh lawan.


"Si ... apa ... kaa ... mu ... " si pemuda yang terbata-bata berusaha menatap pria di depannya yang terlihat samar tetapi aura dingin menyerang sisa ketenangan jiwanya.


Ia tidak tahu kenapa orang asing datang dan langsung menculiknya bahkan tega memberikan obat bius dengan dosis yang tinggi. Akan tetapi begitu sampai tempat tujuan diberikan penawar agar kesadaran kembali datang menyapa meski tidak sepenuhnya. Tetap saja masih memiliki tanda tanya atas perlakuan yang tidak biasa.


"Seorang tahanan tidak punya hak mengajukan pertanyaan menurut peraturan pertama. Hey, anak muda! Simak dan dengar apa yang akan dikatakan Bos Altra." celetuk sang pembawa tahanan yang berdiri di dekat pintu ruang pertemuan dengan tubuh bersandar mendekatkan diri menyentuh dinding.

__ADS_1


__ADS_2