
Suara tanya bersambut tawa nan menggelegar dari seberang. Sang pemanggil tak menyangka jika umpan yang ia lemparkan begitu cepat ditemukan oleh pemimpin mafia sendiri. Meski begitu, pada kenyataannya sudah melewati batas waktu yang ditentukan sebab kambing hitam sudah memasuki area yang diharapkan.
"Tuan besar, Anda kini sudah terjebak. Cobalah selamatkan diri jika bisa, hahaha," girang dengan hasil perencanaan yang sudah lama ia rencanakan bahkan tidak sedikit pun mendengar kecurigaan dari pihak lawan. Padahal jelas yang ia susupi adalah markas musuh besar meski hanya menggunakan persembahan.
Dengan penyanderaan seorang wanita yang merupakan kepercayaan dari seseorang, maka kini nasib dari sekelompok orang-orang sok pintar bisa dihapuskan keberadaan serta identitasnya sekaligus. Begitulah pikir si penelepon tapi ia tak akan pernah mengerti, apalagi memahami seperti apa seorang Altra. Dimana sebagai pemimpin memiliki banyak akal untuk menyelesaikan peliknya sebuah masalah yang menghalangi pekerjaan.
"Anda terlalu percaya diri," Al tersenyum tipis dengan aura dingin yang mengintimidasi, "Dalam dua puluh empat jam, akan kupastikan memenggal kepalamu di depan kambing hitam."
Ancaman yang menjadi peringatan untuk lawan terdengar seperti candaan di telinga pemilik benda pipih di seberang. Akan tetapi memberikan kepuasan pada Zack yang membayangkan perburuan nyata. Pria satu itu tidak sabar ingin berkeliling dunia seharian dan membawa pulang kepala seorang pengkhianat meski memiliki kemungkinan menemui banyak kendala mengingat siapa lawannya.
Panggilan diakhiri begitu saja, lalu melambaikan tangan membuat Zack mendekatinya. Suara samar tersampaikan menjadi pesan bisikan dengan memberikan kepercayaan untuk menuntaskan pekerjaan sesuai keinginan hati dan pikiran. Dirasa sang tangan kanan memahami rencananya, ia biarkan pamit meninggalkan ruang pengawasan.
Suara pintu tertutup bersamaan dengan raga yang menyandar ke belakang, tatapan mata masih fokus ke depan layar memperhatikan sang tahanan. Untuk pertama kalinya klien mempermainkan orang-orang yang bekerja di bawah naungannya, jika hal ini tidak langsung di bereskan maka akan ada kasus lain dan lebih meremehkan kekuasaannya.
__ADS_1
"Tidak seharusnya wanita itu berada di ruang tahanan, lebih baik dipindahkan sebelum menambah tekanan mental." gumam Al, lalu memainkan ponsel yang masih ia genggam sekedar mengirim pesan yang menyatakan perintah pembebasan untuk seorang tahanan pintu hitam.
Apa yang sudah terjadi maka biarlah. Ia hanya bisa menuliskan sesuatu yang belum terlewati. Satu sisi harus menyelesaikan pekerjaan dari beberapa klien tetapi masih berusaha mengutamakan hal yang ia anggap sebagai pemicu perkara besar. Entah siapa yang memulai, pada akhirnya ia sendiri harus mengakhiri.
Meninggalkan Al yang sibuk melanjutkan pekerjaan di mansion markasnya, di sisi lain seorang pria dengan gelisah menunggu kepulangan istrinya. Sudah sejak dua jam terakhir mengabari akan pulang tetapi sampai lelah berdiri di halaman depan, nyatanya tak kunjung menampakkan batang hidung sebagai tanda kehidupan. Apa perjalanan dari tempat kerja ke rumah memerlukan waktu yang begitu lama?
"Tuan, makan malam sudah siap." lapor seorang pelayan yang baru saja keluar dari dalam rumah dan mendekati pria di teras. Untuk kedua kalinya, ia melaporkan hal sama tetapi masih saja tuannya tak memperdulikan.
Semua orang yang menjadi penghuni rumah mewah itu tahu bahwa majikan mereka termasuk orang sibuk tapi ketika sudah menyangkut keluarga maka selalu memiliki banyak cara untuk bisa menghadirkan waktu bersama. Hanya saja kehidupan tidak ada yang sempurna sebab itulah penantian lebih sering berubah menjadi pemisah kebahagiaan.
Apa yang salah dengan kesabarannya sehingga selalu dipermainkan oleh istri sendiri. Ingin mengeluh tapi untuk apa? Lagi dan lagi, alasan klasik pasti menjadi akhir dari perjuangan atas keinginan hati untuk mempertahankan hubungan rumah tangga. Kenapa setiap kali berpikir bisa memperbaiki justru hasil berbanding terbalik dengan harapan.
Merasa tidak bisa lagi menunggu, akhirnya pria itu melangkahkan kaki kembali masuk ke dalam rumahnya. Tak seorang pun berani bertanya sehingga membiarkan sang tuan melewati waktu makan malam dan memilih masuk ke dalam kamar. Kemarahan yang tergambar begitu jelas dan semua hanya bisa diam.
__ADS_1
Namun di area dapur yang berisi beberapa pelayan sibuk bertukar pikiran seolah tak memiliki pekerjaan. Empat pelayan yang tampak asyik membicarakan suasana hati sang tuan tanpa memikirkan perasaan dari majikan. Namanya juga manusia, pastilah banyak melakukan kesalahan.
"Aku kasian sama tuan muda, tiap malam dianggurin trus ama bininya. Apa nyonya gak takut ditinggal nikah lagi, ya," ujar pelayan dengan rambut dicepol bawah tanpa tusuk bambu.
Sontak saja seorang pelayan lain mengangkat tangan kanannya menepuk pundak si pelayan pertama hingga menimbulkan suara rintihan pengaduan, "Kowe nek ngomong asal, mbok kira tuan iku playboy. Tuan muda itu, orangnya setia."
"Sabar, tho. Sek nglakoni rumah tangga sopo, iki sek ribut sopo. Dewe iki kan mung kerjo, dadi ojo melu urusan bos. Wes bubar wae!" ajak pelayan yang lain dengan bahasa jawa biasa.
Apa yang diucapkannya memang benar. Bagaimanapun mereka hanya seorang pelayan yang sedang bekerja di rumah majikan. Maka sudah sepantasnya tidak ikut pusing masalah rumah tangga sang atasan, maupun terus membicarakan hal-hal yang dianggap tidak wajar. Seorang bawahan seharusnya memiliki pengetahuan untuk menjaga lisan agar tidak melewati batasan.
"Sttt, mending kita beresin sisa pekerjaan. Kalian dengar suara mobil di depan kan? Pasti itu nyonya yang pulang. Ayo, jangan sampai kena semprot sama nyonya!"
Para pelayan membubarkan diri kembali ke tempat masing-masing dan seperti dugaan, dimana setelah beberapa menit terdengar suara derap langkah kaki berjalan cepat menyusuri ruangan depan, lalu berlanjut menaiki anak tangga. Dari suara saja, jelas sedang terburu-buru seperti dikejar hantu tapi bedanya dikarenakan waktu sampai berhenti dengan suara pintu yang terbuka, kemudian tertutup kembali.
__ADS_1
Tidak ada yang bisa mereka dengarkan lagi sebab kamar majikan selalu dalam mode kedap suara. Apa yang akan terjadi di dalam sana? Tentunya hanya dua insan di dalamnya saja yang tau. Biarlah malam tanpa bintang bergelora menghadirkan sisa rasa yang tak kuasa menahan gejolak di jiwa. Mungkin esok akan menjadi awal baru bagi kehidupan raga yang tak lagi berkuasa.
Seiring embusan angin yang menerpa melewati luasnya benua tanpa ada kata tetapi menghadirkan cerita. Arak awan yang bergulung memanjakan lentera dunia dalam puisi manja tanpa seruling cinta. Bukankah setiap garis kehidupan mengukir nama dalam mimpi tak bertahta?