Karena Cinta

Karena Cinta
Part 212#FIRASAT, DENIS KEKEH


__ADS_3

Menu makanan yang begitu menggugah selera akhirnya dinikmati seorang diri. Pria dewasa nan tampan itu terlihat sangat senang mendapatkan hidangan yang memuaskan rasa laparnya. Perjalanan kali ini, ia merasa lebih berharga meski masih memikirkan sesuatu yang terus mengusik pikiran.


Entah kenapa firasatnya menghadirkan rasa takut yang tertuju pada orang-orang kesayangannya. Apa semua baik atau hanya sebatas rasa rindu yang menumpuk? Ia sendiri tidak bisa memahami tetapi jauh di lubuk hati ada perasaan tak tenang membelenggu jiwa.



Perasaan yang terasa familiar sayangnya ia bukan seorang peramal dimana akan memahami firasat hati. Akan tetapi sebuah nama tiba-tiba saja datang merenggut separuh ketenangan, "Denis, apa kamu baik-baik saja? Sudah berapa lama kita tidak memiliki waktu untuk saling bertemu, mungkinkah di sana adikku membutuhkan bantuan ku?"



Denis yang lebih sering tinggal di negara asing setelah melanjutkan bisnis keluarga membuat hubungan kakak adik terhalang jarak dan waktu. Pertemuan terakhir bahkan sudah terlewat lebih dari dua tahun, jadi emosi hatinya kali ini pastilah disebabkan kerinduan seorang kakak. Hanya saja informan dari orang kepercayaan baru saja mengirim kabar jika sang adik kembali ke Indonesia.



Seluruh pekerjaan yang tertunda sepenuhnya terselesaikan dan saat ini merupakan waktu istirahat bagi Denis. Jika sang adik sibuk menikmati waktu senggang lalu kenapa hati merasa tidak nyaman? Di tengah lamunan menjabarkan keadaan, Darren tenggelam dalam angan tanpa sandaran.



Ikatan sedarah yang memiliki emosi hati dari dalam jiwa akan menyatukan rasa di luar bayangan manusia. Orang tanpa kasih sayang selalu menganggap sebagai kelemahan tapi bagi pemilik ikatan merupakan sebuah berkah. Kenyataannya di dunia nyata masih ada insan yang memperjuangkan hak keluarga tanpa diminta.



Sama seperti yang dilakukan seorang pemuda dimana meski sudah mendapatkan tekanan dari banyak pihak, ia masih saja kekeh pada keputusan finalnya. Padahal orang-orang yang menghadiri rapat dewan direksi sangat ingin menggulingkan tahta milik pewaris sah keluarga si pemuda. Perdebatan sengit bahkan tak terelakkan dan itu menambah hawa panas suasana.



"Bod0h! Apa kalian yang memiliki hak memutuskan siapa pemimpin perusahaan?" bentak si pemuda melampiaskan kekesalan hatinya. Ia tidak habis pikir dengan orang-orang yang berpikir dangkal, "Kursi kebesaran itu milik papaku dan akan selalu menjadi hak putra pertama yaitu ka Darren. Apa kalian sudah gila, hah?"

__ADS_1



"Sampai kapanpun hanya kakak yang pantas memimpin perusahaan! Kalian terlalu sombong hanya karena memiliki lencana pembuat keputusan dan itu adalah kesalahan terbesar ka Darren karena terlalu percaya pada manusia serakah." Denis benar-benar muak melihat beberapa karyawan yang berani menunjukkan taring dan tanpa ragu memberi saran gila hanya untuk merebut tahta perusahaan.



Baginya kekuasaan dan kekayaan bukan satu-satunya hal paling bernilai di dunia apalagi sampai mengorbankan persaudaraan. Sejak awal bahkan kursi kepemimpinan sudah diwariskan untuk sang kakak tercinta, ia tak peduli dengan hal sepele yang bisa menyebabkan kehancuran dunia. Apapun bisa berlaku tapi tidak dengan pengkhianatan.



"Tuan muda kedua, tolong pertimbangan saran para tetua. Selama beberapa tahun ini kita semua yang hadir di rapat juga tidak buta. Bagaimana tuan bisa mengesampingkan urusan perusahaan dan lebih memihak hubungan keluarga?" tetua pertama masih berusaha meyakinkan tuan muda kedua yang di matanya lebih mudah dikendalikan daripada tuan muda pertama.



Orang bilang meski memiliki darah sama nyatanya tidak selalu dianugerahi keberuntungan yang sama pula. Semenjak kepergian pemimpin sebelumnya memang benar perusahaan langsung diambil alih oleh anak pertama bahkan di usia muda mampu menjadi panutan banyak karyawan. Akan tetapi setiap pemimpin memiliki masa dan itu sudah berlalu cukup lama.




Geli mendengar pembelaan tetua pertama, ia masih ingat ketika beberapa tahun lalu seluruh pujian hanya ditujukan untuk sang kakak. Sayangnya kini berbanding terbalik hanya karena hal-hal tak berguna di matanya, apa para tetua layak mempertaruhkan kesejahteraan seluruh karyawan dengan melakukan pemberontakan? Bukankah terlalu kejam ketika memeluk keegoisan hati.



"Hahahaha, lucu sekali, para tetua sekalian apa kalian sudah bosan mengabdikan diri pada perusahaan keluargaku atau memang hati yang tercemar harus dibersihkan secara keseluruhan? Jika kalian tidak buta, lalu mungkinkah tuli?" tatapan mata sinis menyerbu seluruh pemandangan di depannya.


__ADS_1


Ia benar-benar tidak peduli jika harus menimbulkan keributan besar atau justru dianggap sebagai anak tak kompeten. Apapun akan dirinya lakukan selama sang kakak masih menjadi pemimpin perusahaan bahkan ia bisa menghilang dari dunia demi kebaikan keluarga. Sebab setiap insan di dunia memiliki tujuan hidup yang harus diselesaikan.



Tetua ketiga menghela napas panjang, lalu berdiri dari tempat duduk kemudian menggeser sebuah dokumen yang sudah dipersiapkan sebelumnya. "Tuan muda pertama dan tuan muda kedua sepertinya tidak memahami masalah perusahaan kali ini, silahkan tuan baca dengan teliti isi wasiat tuan besar dan juga dari nyonya besar sebelum memutuskan tindakan selanjutnya."



"Kami, para tetua tidak berniat lancang apalagi berusaha memulai perang saudara. Selama kalian sanggup memikul tanggung jawab sebagai pemimpin maka itu menjadi kelegaan kami." sambung tetua kedua yang akhirnya angkat bicara setelah keributan besar di antara penghuni ruang rapat.



Sebuah dokumen yang tampak tak asing tergeletak di atas meja tapi tangannya bahkan merasa ragu. Apa yang akan terjadi jika ia membaca isi surat wasiat dari kedua orang tuanya? Jika tidak salah ingat di hari kesepuluh ketika berduka, sang kakak juga membaca dokumen berisi wasiat untuk mereka berdua hanya saja saat itu ia sendiri masih terlalu polos.



Keraguan yang tiba-tiba datang menyeruak berusaha menguasai hati dan itu semakin besar hingga ia merasa dokumen di atas meja berubah menjadi penjara nyata. Sekelebat bayangan menyambar kesadaran secara spontan menghempaskan ke danau kenangan masa lalu yang tak bisa diulang. Seulas senyum tulus dengan pelukan hangat memberikan kenyamanan hanya saja kepalan tangan tak luput dari pandangan.



"Denis, jangan khawatirkan apapun selama aku masih bersamamu. Kamu harus tumbuh menjadi pria sejati dan sampai saatnya nanti, kakakmu ini tidak akan berhenti melindungi semua milikmu. Ini janji seorang kakak!"



Janji saudaranya selalu membakar hati dan ia belajar segala sesuatunya tanpa memperdulikan perkataan orang-orang. Setiap kali jatuh menemui kegagalan di saat yang sama ia mendapatkan semangat untuk terus berjuang. Apa yang dirinya punya saat ini berkat bimbingan Darren sang kakak tercinta.


__ADS_1


Sepintas kenangan kembali menghampiri kenyataan hanya untuk mengingatkan bahwa ia masih harus belajar memahami luasnya dunia. Jika dengan membuka dokumen semakin memperjelas keraguan hati, maka ia sendiri tidak berhak membaca wasiat kedua orang tuanya. Lagipula takdir masih bisa mengalami perubahan jika kehendak hati melewati batas langit, begitulah pikirnya.


"Singkirkan surat wasiat ini dari hadapanku! Kalian memang memiliki hak untuk ikut campur urusan di perusahaan tapi tidak satupun diperbolehkan turun tangan menangani persaudaraan antara aku dan ka Darren. Ingat ini selamanya di kepala kalian!"


__ADS_2