Karena Cinta

Karena Cinta
Part 100#KEPUTUSAN VIR, TATAPAN TAK SUKA


__ADS_3

Derap langkah kaki meninggalkan ruangan pertemuan dari sidang mandiri yang baru saja dilakukan. Yang mana menyisakan kegelisahan mendalam di hati si pemuda. Rasa bersalah merayap mencoba memeluk dirinya erat mengatakan kesalahan yang dia perbuat.



Betapa mirisnya ketika pikiran sudah ternodai oleh rasa yang tak bertuan. Sadarkah atas kejahatan yang menyakiti orang tak bersalah? Bagaimana bisa seperti itu, padahal akal sehat masih menetap. Lalu kenapa rasa kecewa mengoyak kepercayaan diri milik orang lain?


Rasanya begitu menyesakkan dada ketika kesadaran kembali akibat tamparan kebenaran yang menyajikan kenyataan. Mungkinkah masih ada ruang untuk mendapatkan satu kata maaf dari gadis yang sudah dia sakiti? Hati tak menyangkal penyesalan benar-benar menyiksa diri.


"Vir!" Nyonya Panwar menggoyangkan tubuh tuan muda yang termenung tanpa memiliki semangat hidup, "Kamu baik-baik saja kan? Bibi antar pulang saja, ya. Ayo!"



Dilepaskannya tangan sang pengacara dengan rasa tak berujung, ia masih berusaha menggapai asa yang tersisa. Mungkinkah semua adil bila hanya memberikan kompensasi? Syarat dari pihak lawan tidaklah salah karena bagi seorang wanita yang penting kehormatan serta harga diri. Tidak bisa diganggu gugat.



"Aku mau kasus ini sampai disini. Jadi, semua syarat dari pengacara Bunga aku siap melakukannya. Jangan khawatir soal karirku," putus Vir dengan tangan mengepal tetapi hati ikhlas akan semua jalan di depannya nanti.



Orang bilang setiap perbuatan pasti akan mendapatkan karma. Mungkin, inilah karma yang harus dirinya terima. Andai sejak awal tidak mengedepankan ego, rasa kecewa dan berpikiran sempit. Maka tidak ada pertemuan di kantor polisi. Selain itu, ia juga tidak mau membahayakan bisnis keluarga.



Bisnis is bisnis, tetapi ketika sudah menyangkut relasi maka sebagai tuan muda dirinya paham harus bertindak bijaksana. Terlebih lagi selama ini sudah mendapatkan kebebasan hidup tanpa harus memikirkan masalah perusahaan keluarga. Bukankah ia sendiri juga memiliki hak serta kewajiban sebagai seorang putra?



"Apa ini sudah keputihan final? Vir, bibi tahu kamu sangat suka menjadi model dan namamu bukan lagi anak kemarin sore. Coba pikirkan sekali lagi," pinta nyonya Panwar.



Wanita itu bukannya tidak peduli dengan masalah orang lain hanya saja bagi seorang Mahavir menjadi model adalah detak jantung kehidupan. Perjuangan pemuda itu juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Selain meninggalkan keluarga, Vir bahkan rela menjalani kehidupan susah di negara lain hanya untuk memulai karier sebagai model. Kesuksesan pemuda itu karena kerja keras sendiri.

__ADS_1



Vir menganggukkan kepala pasti seraya menyunggingkan seulas senyum tulus, "Karirku tidak lebih penting dari kehormatan seorang wanita. Aku tahu, bibi khawatir dengan cita-cita ku tapi bagaimanapun masa depan Bunga tidak sebanding untuk dipertaruhkan."



"Aku salah, maka tanggung jawab meluruskan kesalahan ini ada pada pundakku. Di rumah masih ada anak perempuan, bagaimana aku bisa merenggut dunia demi kepentinganku sendiri. Seperti kata bibi, keluarga Putra bukan lawan keluargaku. Aku siap mengakui kesalahan dan berjuang mendapatkan maaf dari Bunga.



"Bibi bisa pulang dulu, aku mau langsung ke kampus untuk melakukan sesuatu. Pamit dulu, ya," ucap Vir kemudian melangkahkan kaki berjalan menjauhi sang pengacara yang tersenyum menatap kepergiannya.



Bagi wanita memanglah sangat penting memiliki harga diri serta kehormatan sebab itu identitasnya. Jika wanita mendapatkan tuduhan yang menyangkut jati diri maka orang-orang sibuk bergunjing bahkan bisa berlaku semena-mena tanpa ingin menjadi pihak netral. Di dunia yang semakin modern masih banyak manusia berpikiran kolot.



Bahkan beberapa negara memiliki peraturan ketat yang tidak bisa ditoleransi. Misalnya mengenai status seorang wanita. Disaat masih memiliki suami maka tentu dikenal sebagai istri seseorang. Akan tetapi ketika sudah berpisah baik karena perceraian atau memang terpisahkan maut, wanita ini biasa dipanggil janda.




Bukankah selama tidak merugikan orang. Tidak seharusnya membuat kehebohan kecuali memang itu menyerang kehidupan pribadi yang bersangkutan. Seperti yang terjadi pada Vir, pemuda itu terlalu terbawa perasaan. Dimana penolakan Bunga sebagai awal datangnya rasa kecewa.



Bodohnya tidak memanfaatkan kekuasaan untuk mencari tahu kebenaran terlebih dahulu sebelum mengungkapkan uneg-uneg dari dalam hati serta pikiran. Kesalahan yang ia buat dilakukan karena belenggu ego yang berselimut kekecewaan. Untuk pertama kalinya menatap seorang gadis tetapi berakhir tak diperhatikan.



Kembali lagi pada dunia nyata dimana Vir memilih masuk ke mobil taksi yang terparkir di depan kantor polisi. Pemuda itu ingin segera menyelesaikan masalah antara ia dan Bunga, sedangkan yang ingin dituju baru saja keluar dari kelas karena mendapatkan panggilan darurat dari sang paman tercinta. Si gadis mata hazelnut berlari terburu-buru menghampiri anggota keluarga yang datang menjemputnya.

__ADS_1



Gadis itu tidak tahu tentang hasil sidang mandiri yang sudah dilakukan oleh sang paman. Akan tetapi hati selalu yakin bahwa jalan dari kebenaran tidak pernah buntu. Apalagi saksi dan bukti sudah bisa dipastikan akan menutup jalan keluar bagi pihak lawan. Setidaknya nama keluarga tetap aman.



"Om, Ka, kamu?" sambut Bunga begitu sampai di dekat parkiran dan tanpa menunggu perintah langsung membuka pintu mobil depan yang terlihat kosong.



Lirikan mata ke belakang terpatri menatap wajah yang sebenarnya jarang dia temui, "Tumben gak sibuk, apa dunia model sudah berakhir atau ... "



Ingin sekali melanjutkan tetapi kedipan mata sang paman menghentikan seluruh kata-kata yang siap meledak menjadi sindiran pedas. Ia memang tidak akur dengan istri kakaknya itu, terlebih lagi setelah yang terjadi saat makan malam. Rasanya siap mencekik wanita yang duduk dibelakang.



Namun ia juga masih sadar seberapa pentingnya si biang onar di dalam kehidupan kakaknya. Andai boleh meminta jodoh pada Yang Maha Esa untuk sang kakak, pastilah ia akan berdoa wanita sederhana dengan jiwa keibuan yang bisa mengayomi seluruh anggota keluarga dan bukan cuma sibuk travelling serta merias diri saja.



Wanita dinilai bukan cuma dari tampang saja kan? Harapan akan kehidupan bahagia setelah pernikahan didasari dari banyak aspek pondasi penahan tiang ikatan. Lalu ketika hanya ada keegoisan satu pihak, bagaimana akan memiliki kehidupan normal? Pastilah kakaknya itu terjebak di dalam sangkar rayuan penuh tekanan mental.



"Bry, aku antar kamu ke kantor atau pulang ke rumahmu?" Al menyadari tatapan tak suka Bunga yang dilayangkan pada Hazel. Ia tidak ingin gadis kecil itu ikut larut dalam permasalahan orang dewasa yang bisa menjadi masalah di kemudian hari.



Sedangkan Bryant merasakan dilema. Hati ingin menemani keluarga agar bisa menenangkan sang mama karena bisa dipastikan sudah mendengar berita mengenai kasus Bunga hanya saja jika datang bersama Hazel. Maka kemungkinan justru dirinya sendiri alasan keluarga semakin kecewa. Serba salah tetapi harus tetap memutuskan saat ini juga.


__ADS_1


"Antar aku ke lokasi pemotretan ya, Om." Hazel menyela sebelum suaminya berkata-kata, ia harus menunjukkan sikap santai tanpa niat buruk agar bisa menaklukkan hati sang paman.


__ADS_2