
Kepergian Gauri memberikan Vir waktu untuk memikirkan langkah selanjutnya menyelesaikan masalah yang tengah pemuda itu hadapi. Meski harus menjadi seorang kakak yang memanfaatkan adiknya mungkin cara itu lebih aman tanpa resiko berlebihan dan tentu saja bisa memberi kepastian lebih akurat.
Akhirnya sepasang kakak adik memiliki kesempatan duduk bersama di tepi kolam renang. Memang bukan saudaranya sedarah karena kedua insan itu dipertemukan ketika menginjak usia sepuluh tahun oleh pertemuan keluarga besar. Ikatan terjalin begitu lama hingga terus berlangsung sampai keduanya sama-sama menginjak fase setelah remaja.
"Koko, kapan mau ngomong sih, ini udah sepuluh menit masih aja jadi orang bisu," tegur Gauri seraya memainkan kakinya di dalam ketenangan air kolam renang.
Kekesalan yang dirasakan Gauri juga bisa dipahami Vir yang mana membuat si pemuda tergerak hatinya mengangkat tangan mengusap kepala sang saudari, "Kebiasaan tidak sabaran. Lagian kamu pulang tanpa kabar, jadi yang perlu penjelasan itu aku, donk. Sekarang jelasin dulu gimana urusan pekerjaanmu dengan para klien bengis itu!"
"Eits, bukan bengis. Mereka cuma begundal jalanan tapi punya banyak uang, sih," kelakar Gauri terkekeh pelan mengingat beberapa wajah asing yang berhasil dia tinggalkan dan kembali ke Indonesia tanpa harus memikirkan pekerjaan tambahan.
Andai saja semua kontrak bisa diputuskan secepat kilat maka kemungkinan ia sudah pulang bersama Vir beberapa bulan yang lalu. Sayang sekali pekerjaan tertunda dan menyebabkan kemacetan transaksi sampai-sampai mengorbankan waktu hanya untuk lembur setiap malam. Pepatah di dunia ini semua harus bayar memanglah benar.
"As you wish, aku cuma mau tau bagaimana keadaanmu dan apa semua masalah sudah teratasi atau masih harus memiliki bayaran hutang pekerjaan baru. Jangan bertele-tele!" tegas Vir memprovokasi Gauri supaya berbicara terus terang karena keingintahuannya semakin terguncang.
Gauri mengalihkan perhatian menoleh ke samping kanan dimana Vir berada. Wajah tampan yang selalu mencuri ketenangan malamnya kini benar-benar ada di depan mata. Impian kembali memiliki waktu bersama akhirnya terwujud dan hati berharap kebersamaan akan selalu milik mereka berdua.
"Aman kok, Koko. Aku cuma lembur selama sebulan menyelesaikan pekerjaan jadi para klien tidak punya pilihan. Si merah saja harus ngalah dan menandatangani kontrak akhir karena sudah tidak bisa mengikuti kegilaanku. Ck, ingat itu hatiku masih kesal," tangan mengepal menahan rasa amarah dari dalam hati yang terpendam.
__ADS_1
Obrolan keduanya semakin panjang kali lebar hingga tanpa sadar menghabiskan banyak waktu hanya untuk mengetahui keadaan satu sama lain. Ikatan kakak beradik tetapi lebih tampak seperti sahabat karib. Begitulah antara Vir dan Gauri dimana kedua insan itu selalu berbagi suka duka milik bersama.
Selain Gauri yang menceritakan seluruh perjuangan atas suksesnya penyelesaian masa kontrak kerjasama. Vir sendiri ikut menceritakan kisah salah paham berujung pengadilan. Jeratan hukum di depan mata dengan syarat pembebasan yang menyulitkan langkah tindakan untuk mengubah masa depan.
Keseriusan Vir mengungkapkan tentang perasaan di hati untuk Bunga tanpa terasa menyakiti Gauri. Tatapan mata sendu tak bertenaga berusaha mempertahankan diri agar tetap terlihat baik-baik saja. Meski ingin sekali menghentikan bibir kakaknya agar tak lagi membicarakan cinta di hadapan dirinya.
"Koko bisa jatuh cinta juga, ya?" kerlingan mata nakal menggoda Vir yang langsung mengusap kepalanya, "Hehehe boleh lah kasih lihat gadis pencuri kesayangan ku. Ya, ya, please."
"Yakin cuma mau lihat fotonya, nih? Kamu tega sama koko, ayolah bantuin aku buat minta maaf sama Bunga," bujuk Vir sepenuh hati.
Gauri mengeluarkan kedua kakinya dari kolam renang, lalu berusaha berdiri dengan pandangan mata lurus kedepan. Sesaat melepaskan tekanan menghela napas dalam-dalam, "Aku setuju bantu koko tapi dengan satu syarat. Apa koko mau?"
"Syarat? Sejak kapan adikku bersikap profesional," Vir ikut bangun dari tempatnya. Pemuda itu memposisikan diri berdiri di samping Gauri yang tampak begitu serius, ia bisa merasakan perubahan suasana hati dari gadis di sebelahnya. Apa ada sesuatu yang disembunyikan sang adik?
Ketika sudah berbicara tentang hati maka orang bisa berkata ada saatnya memanfaatkan hubungan. Akan tetapi hal ini terjadi di saat sama-sama memiliki kepercayaan kecuali transaksi bisnis yang lebih mementingkan keuntungan. Entah benar atau salah, setiap insan pasti mengutamakan mencoba terlebih dahulu.
Direngkuhnya kedua bahu Gauri hingga mereka berdua saling berhadapan tetapi sang adik memalingkan pandangan mata darinya, "Katakan syaratnya!"
__ADS_1
"Kisah cinta yang koko bicarakan mungkin tanpa sengaja membuat hatiku ingin bersikap egois. Selama ini, aku pikir hubungan kita bisa lebih dari kakak adik karena itulah perjodohan dari orang tua sudah kuterima. Koko bisa menolaknya tapi beri aku kesempatan untuk mempertahankan selama dua bulan.
"Semua keegoisan ini sudah aku pikirkan. Koko pasti tahu kondisi kakek saat ini bisa dikatakan kritis dan berita perjodohan memberikan harapan semangat hidup baru. Gauri siap membantu tuan muda Mahavir tapi balasannya jangan hancurkan usahaku membahagiakan kakek.
"Silahkan Koko pikirkan dulu mau setuju atau gak, mungkin kebenaran tentang perjodohan juga bisa di konfirmasi. Tanya saja paman karena beliau sudah memberikan izin agar aku tetap tinggal di rumah ini," jelas Gauri tanpa melebihkan situasi kehidupan antara ia dan Vir yang sudah ditetapkan keluarga besar.
Satu kebenaran yang membawa ketidaknyamanan menghadirkan rasa penasaran. Ia tidak mengerti kenapa tiba-tiba ada jalur perjodohan, apalagi dengan Gauri yang jelas dirinya anggap sebagai seorang adik. Jika hubungan dibentuk berdasarkan keuntungan bisnis, maka kemungkinan lebih masuk akal.
Selain itu, sadar benar kalau kakek dari Gauri masih dirawat intens di rumah sakit dan menurut informasi terakhir memang kondisi tidak stabil. Seluruh usaha sudah dilakukan tapi belum menemukan pengobatan yang tepat. Akhirnya hanya bisa bergantung dengan peralatan medis dari rumah sakit saja.
Menghela napas panjang seraya melepaskan kedua tangan dari pundak Gauri. Sudah pasti adiknya memiliki banyak beban pikiran, lalu apa yang dia lakukan? Hanya menambah kesedihan dengan masalahnya tanpa memikirkan orang-orang yang selama ini ia sayang. Sungguh memalukan.
"Lupain permintaan konyolku, kita bisa berpura-pura di depan keluarga dan jangan khawatir, aku pasti bantu kamu buat kakek selalu tersenyum bahagia. Sekarang jangan sedih lagi, ya," diusapnya air mata yang mengalir dari sudut kedua mata adiknya.
Seberat apapun masalahnya masih bisa dipikirkan sembari jalan. Akan tetapi ketika sudah menyangkut kesehatan keluarga, bagaimana bisa mempertaruhkan dengan hal tidak seberapa. Ia sadar masih mengharapkan balasan cinta dari Bunga tapi sebelum meminta maaf maka harus fokus pada kehidupan dunia di depan mata.
"Makasih karena Koko selalu di sisi Gauri," dipeluknya raga tegap di depan mata tuk mencurahkan seluruh rasa dari dalam hatinya.
__ADS_1