Karena Cinta

Karena Cinta
Part 45#PERTEMUAN DUBAI


__ADS_3

Bait Qorisu Quratu'ain seorang pebisnis sekaligus salah satu pemilik saham di kilang minyak FaZi Company di Dubai hanya saja pria berusia empat puluh tahun itu meminta bantuan orang-orang untuk menetapkan dirinya di dalam pemilihan kursi kepemimpinan. Sehingga secara keseluruhan data anggota sudah di manipulasi.



Padahal sesuai dengan aturan perusahaan semua pemilik saham hanya boleh menjabat sebagai pemimpin ketika memang memenuhi syarat dan ketentuan. Satu alasan saja sudah cukup untuk membuat seseorang hilang arah tujuan. Siapa yang tidak melongo dengan hasil usaha kilang minyak?



Kilang minyak (oil refinery) adalah pabrik atau fasilitas industri yang mengolah minyak mentah menjadi produk petroleum yang bisa langsung digunakan. Pabrik ini juga bisa mengolah produk lain menjadi bahan baku industri petrokimia.



Produk utama kilang minyak, antara lain bensin (gasolin), minyak diesel, minyak tanah (kerosin). Kilang minyak adalah fasilitas industri yang sangat kompleks dengan berbagai jenis peralatan dan fasilitas pendukung.



Pembangunan kilang minyak membutuhkan biaya yang sangat besar. Namun, pada pelaksanaannya, pabrik ini bisa menjadi pusat keunggulan ekonomi negara. Adapun, yang dimaksud minyak mentah adalah campuran yang kompleks dan tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon.



Minyak mentah yang dipompa keluar dari tanah dan belum diproses, umumnya tidak begitu bermanfaat. Agar dapat dimanfaatkan secara optimal, minyak mentah harus diproses terlebih dahulu dalam kilang minyak.



Nah, tuan Bait hanya mengharapkan kursi pemimpin agar bisa mengeksplorasi bahan utama dari hasil kilang minyak agar menambah kesejahteraan pribadinya. Satu hal yang paling di benci oleh Al yaitu keserakahan sebab dengan serakah maka manusia kehilangan hati nurani.



"Assalamualaikum, tuan Bait Qorisu Quratu'ain." Al masuk ke dalam ruang pertemuan tanpa ada yang menemani dan disambut hangat oleh tiga orang pria dengan penampilan serupa.

__ADS_1



Tuan Bait Qorisu Quratu'ain bangun dari tempat duduk seraya mengangkat tangan memberikan salam khas orang Dubai, "Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, senang bertemu dengan Anda tuan Altra. Mari silahkan duduk!"


Altra duduk di tempat yang sudah disediakan, ia berpura-pura seolah dirinya datang menjadi tamu dan bukan ketiga pria yang memang memiliki kekuasaan di Dubai. Ia hanya ingin melihat sejauh mana tiga kliennya ingin mengatakan keinginan hati. Supaya tidak perlu repot menjelaskan metode perjanjian dengan bicara panjang kali lebar sesuai dengan peraturan yang akan membuat bisnis memudahkan langkah kakinya.


Salam perkenalan menjadi awal perbincangan di mana tuan Bait menjelaskan apa maksud pemanggilan yang dia lakukan secara mendadak, "Maaf atas ketidaknyamanannya, Tuan Altra karena kami tidak tahu lagi harus bagaimana selain memanggil Anda."


"Tidak masalah. Silahkan Anda katakan apa yang harus saya lakukan untuk membantu kalian kali ini!" jawab Al yang membuat tuan Bait dan kedua rekannya saling pandang, lalu salah satu diantara ketiga mengeluarkan sebuah dokumen yang diletakkan ke atas meja.


Dokumen dengan sampul warna merah merona membuat tuan Bait mempersilakan Altra untuk memeriksa apa yang menjadi alasan pria tersebut datang ke Dubai secara dadakan dan tanpa perlu menjelaskan panjang kali lebar juga. Sebab mereka menggunakan bahasa asing yang akan lebih runyam ketika sampai salah paham.


Dokumen yang menjadi tujuan pertemuan semakin mempermudah Al mengenali situasi. Tentu saja ia tidak mempermasalahkan cara klien memulai bisnis dengannya. Tak ingin membuat orang lain menunggu. Diambilnya dokumen dari atas meja, lalu memeriksa isi surat perjanjian karena ia tak pernah suka melakukan pekerjaan sampai dua atau tiga kali dalam sekali waktu.


Namun ketika lawan bicara terlihat sok pintar, maka akan lebih baik menjadi orang polos di hadapan memiliki kawan yang selalu lebih suka bermain api. Satu per satu kata yang dirangkai menjadi paragraf dibacanya dengan teliti.



Jika dipikirkan dari segi keuntungan tentu saja siapapun yang diutus melakukan pekerjaan tersebut maka pasti akan langsung menerima tanpa berpikir ulang. Akan tetapi ia bukan orang yang peduli dengan uang hanya karena keuntungan. Sebab apapun pilihan hanya memiliki satu tujuan yaitu tanggung jawab dan juga kepastian di dalam sebuah kebenaran.


Sebagai seorang pemimpin tangannya siap menembak kepala seseorang, tetapi ketika orang itu tidak bersalah maka ia tak akan melakukan pembunuhan. Bukan karena tidak bisa hanya saja sebagai manusia ia telah melakukan dosa dan dosa tersebut harus memiliki alasan pasti. Sehingga tidak akan membuat dirinya menyesal.


Sama seperti kerjasama yang akan dilakukannya di mana ia bisa saja menerima ketika semua memang sesuai dengan harapan dan juga syarat pedoman prinsip bisnisnya. Jika tidak, maka ia tak peduli dengan banyaknya imingan bayaran dari klien. Bisnis is bisnis.


Diletakkannya dokumen kembali ke atas meja, lalu menyatukan kedua tangan bersedekap di depan dada, "Apa kalian sungguh-sungguh mengira saya akan menerima perjanjian ini?" tatapan mata menelisik memperhatikan wajah ketiga klien secara bergantian tanpa senyum di wajah datarnya.


Tuan Bait mengangguk pasti tanpa keraguan begitu juga dengan kedua rekannya yang menatap Al penuh harap. Sebab mereka hanya menunggu satu harapan terakhir dan itu kepada pria asing yang kini mau datang menemui mereka. Mereka memang memiliki kekuasaan dan juga harta berlimpah, tapi untuk maju menegakkan tujuan mereka sendiri.


Tujuan yang ingin dicapai tidaklah mudah, apalagi tanpa dukungan orang kuat. Setelah banyak berargumen mereka memutuskan mencari seseorang yang bisa selalu menjadi pelindung atau bisa dikatakan seorang eksekutor di setiap langkah untuk menyingkirkan semua penghalang. Licik karena hanya memikirkan keuntungan sendiri.

__ADS_1


Al menggelengkan kepala, kemudian menyandarkan tubuh ke belakang. Ia kembali menatap satu persatu wajah klien yang terlihat begitu tegang dan harap-harap cemas karena menunggu persetujuannya, tetapi sejak awal datang ke Dubai dan melihat informasi yang didapat oleh Zack. Jujur saja dirinya sudah mundur dari kesepakatan tersebut sebab memang tidak memiliki dampak positif.


Jadi pertemuan ini hanya untuk memastikan akan keputusannya sudah benar atau memang bisa diubah, "Saya akan menerima, tetapi dengan satu syarat yang harus kalian penuhi. Jika kalian setuju, maka saya terima"



"Jika tidak," Al tersenyum devil menjeda ucapannya, lalu mengambil ponsel dari balik saku kemeja, kemudian mengirimkan sebuah pesan singkat dimana tujuannya adalah ketiga klien yang ada di ruangan sama. "Maka perjanjian kita batal dan ya, jangan berharap untuk meminta bantuan orang lain karena apa yang kalian minta bukan permintaan orang waras!"


Senyum devil terkembang sempurna menghiasi wajah datarnya. Sadar bahwa ketiga klien akan sulit dihentikan, maka ia harus menggunakan jalan terakhir agar bisa membatalkan kerjasama dengan syarat yang dirinya ajukan. Kini hanya menunggu hitungan detik saja sebab ketiga kliennya sendirilah yang akan membatalkan dan berpikir ulang meminta bantuan darinya.


Meski dirinya sadar akan terjadi masalah lebih besar dan ia tidak gentar sebab apa yang sudah menjadi keputusan memiliki alasan mutlak. Sementara itu tuan Bait dan ketiga rekannya memeriksa ponsel yang berdering secara bersamaan. Mereka sama-sama memeriksa isi pesan dari Al.



"Pembagian keuntungan hasil 90% untuk sang pemburu dan 10% menjadi milik bersama pihak penyewa jasa. What's! Ini namanya pemerasan ... " ucap salah satu klien yang seketika berdiri dengan tatapan tajam menantang ke arah Al murka.


Sang pemburu adalah orang yang akan mereka sewa, tetapi jika mendapatkan bagian 90%, maka itu sama saja menyerahkan harta sebagai sedekah. Bagaimana mereka akan melakukan hal itu? Sementara untuk mendapatkan posisi kepemimpinan saja mereka sudah mengeluarkan begitu banyak dana yang tidak bisa diperhitungkan.


Dunia politik dan bisnis sama saja. Dimana harus menyuap sana-sini dan memberikan penghargaan kepada orang-orang yang mau mendukung mereka. Lalu Al sebagai sang pemburu meminta bagian yang di luar nalar dan itu tidak bisa dibenarkan karena mereka ingin kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan dan bukan justru merugi.


Tangan yang mengepal meremukkan ponsel bersambut tatapan sinis sebagai tanda-tanda penolakan yang tak bisa terungkapkan dari kata-kata. Wajah memerah dengan hidung kembang kempis seolah baru saja lari marathon. Al tahu bahwa tuan Bait beserta ketiga kliennya akan keberatan, tapi ia tidak peduli!


"Sepertinya kalian terlalu tegang dan tidak menerima syarat dariku," Al beranjak dari tempat duduknya. Lalu menepuk pundak kanan seperti mengusir debu yang menempel di jas. "Kalau begitu saya permisi dan kalian bertiga lupakanlah tentang kerjasama ini!"


"Jika kalian memang ingin melakukan konspirasi untuk menjebak diriku. Coba pikirkan secara logika, apakah itu bisa atau hanya justru menjadi omong kosong belaka. Sebagai umat muslim aku memang bukanlah orang tanpa dosa, tapi aku masih bisa mengingatkan kalian bahwa keserakahan perbuatan setan.


"Semua ada yang kalian dapatkan sudah lebih dari cukup bahkan dilebihkan oleh Allah SWT, tapi niat hati kalian bisa membuat banyak kehidupan orang tersiksa. Saranku adalah ubah gaya hidup kalian dan jadilah pengemis saja! Selama kekayaan masih ada, silahkan nikmati kebahagiaan kalian.


"Setelah ini jika satu di antara kalian berbuat ulah dan sesuatu yang salah terlintas di hadapanku. Jangan salahkan aku untuk menyudahi semua permainan kalian!" Al pergi meninggalkan tempat pertemuan tanpa menunggu jawaban.

__ADS_1


__ADS_2