
Suara larangan yang terdengar seperti bentakan menghadirkan rasa ketidaksabaran. Bunga membenarkan tasnya agar menggantung di punggung dengan benar seraya membalas tatapan mata si gadis rambut sebahu yang menghalangi jalan keluarnya. Pandangan mata saling beradu berusaha untuk menunjukkan jawaban tanpa kata-kata.
"Guy's, kenapa sugar baby cuma diem, ya? Eh, loe, ngapain balas natap gue gitu!" ucap sinis gadis pertama yang memulai drama di hadapan Bunga.
Tangan si pengganggu terangkat dengan niat tak baik yang terbaca oleh Bunga hingga memundurkan langkah ke belakang, membuat layangan tangan terbuang sia-sia tanpa ada jejak pertemuan. Seperti penghinaan yang dilakukan dengan sengaja tanpa tindakan.
Wajah memerah dengan tatapan mata nyalang bersambut suara geram, tetapi tidak menjadikan Bunga takut. Gadis itu malah tersenyum manis, "Nona-nona, kenapa kalian begitu bersemangat menyudutkan aku? Apa kalian yang memberiku makan dan memenuhi kebutuhan hidupku?"
"Tidak bukan? Hidupku, bukan aturan kalian dan jangan coba mengatur diriku harus bagaimana! Urus hidup kalian dulu, sebelum mengurus kehidupan orang lain. By the way, sugar baby bukan ide yang buruk. Bye!" Bunga melambaikan tangan dan tanpa rasa takut menyingkirkan raga yang berani menghalanginya.
Suara langkah kaki terdengar semakin menjauh membuat kelima gadis hanya bisa menelan saliva dengan tatapan mata nanar dan bibir terbuka lebar. Mereka tidak menyangka gadis yang tengah dirundung justru berusaha untuk menggurui apalagi dengan santainya mengatakan sugar baby adalah ide yang baik. Apa mereka tidak salah dengar?
Namun jika dipikirkan lagi, memanglah benar juga apa yang dikatakan oleh Bunga di mana mereka tidak memberikan apapun pada gadis itu. Mereka hanya mencoba untuk membuat Bunga merasa terpuruk dan mau menjauh dari orang yang mereka incar. Sebenarnya tidak masalah mau jadi sugar baby atau jadi sugar daddy sekalipun.
Profesi dari si gadis mata hazelnut bukanlah hal yang memang perlu diperdebatkan. Semua ini hanya tentang seorang pemuda yang menjadi idola yang sudah mencuri perhatian dan cinta di hati mereka berlima. Kembali pada permasalahan cinta sang penggemar yang tak rela melihat idola mereka di tolak oleh Bunga.
"Cleo, apa kita tidak salah orang, tapi bukankah dari postingan Vir sudah jelas kalau gadis itu yang dibicarakannya. Iya 'kan?" tanya Wulan sekedar memastikan keraguan yang tiba-tiba datang menyapa hatinya.
Sementara Cleo, si gadis pengganggu malah menghentakkan kaki kesal. Lalu mengibaskan tangan memberi isyarat agar mereka pergi meninggalkan kelas yang sudah kosong oleh penghuni manusia. Langkah kaki berjalan menyusuri koridor dimana terkesan berlari dengan tatapan mata menelusuri setiap belokan yang dilewati.
Ada harapan kecil untuk menemukan si gadis mata hazelnut agar bisa membalas omongan yang sudah terlewat. Sayangnya, gadis yang mereka cari tidak ada di mana-mana seolah menghilang tanpa ada jejak. Padahal mereka keluar hanya berjarak sekitar 5 sampai 10 menit dan dalam waktu sesingkat itu bisa pergi kemana si Bunga?
__ADS_1
Bukankah untuk meninggalkan kampus masih membutuhkan waktu sedikitnya lima belas menit sampai ke lantai dasar jika menggunakan tangga kecuali memang naik lift khusus para mahasiswa. Maka berbeda lagi perhitungan waktunya. Akan tetapi rasa kesal masih menjadi alasan pencarian tanpa arah tujuan.
Setelah hampir dua puluh menit berputar-putar mengelilingi beberapa bagian koridor kampus, akhirnya kelima gadis itu berhenti melakukan pencarian. Kesibukan yang cukup melelahkan membuat mereka memilih memasuki area kantin untuk sekedar beristirahat. Niat hati mengisi perut dan menyuplai energi saja.
Namun mereka tidak menyangka akan melihat seorang gadis yang hampir membuat mereka kelaparan justru baru saja selesai menikmati makanan dan beranjak dari tempat ternyaman. Rasa kesal dihati kembali muncul menguasai jiwa dengan sepintas akal yang menyapa.
"Gue harus bikin perhitungan sama itu anak!" ketus Cleo dengan sengaja merentangkan kaki kiri ke samping meja begitu melihat kedatangan Bunga ke arah mereka.
Aksinya yang memang curang juga diketahui Bunga hingga membuat si gadis mata hazelnut dengan sengaja membuka botol minuman. Gadis itu berpura-pura begitu menikmati setiap tegukan yang ada di mulutnya dengan langkah terus berjalan maju seolah-olah ia tidak tahu akan celaka. Langkah kaki berjalan semakin mendekati meja kelima gadis yang tidak sabar menunggu hasil akhirnya.
Apalagi Cleo tersenyum lebar mengharapkan ia tersungkur. Gemas rasanya ketika melihat wajah si pengganggu terlihat begitu puas karena menganggap dirinya bodoh. Hitungan mundur telah dimulai dan ia siap melakukan sesuatu sekedar ingin memberikan pelajaran, tapi tiba-tiba ada yang datang dari arah belakang dengan menarik tangannya hingga berputar tanpa persiapan.
Tubuhnya tak seimbang jatuh ke dalam dekapan seseorang yang memiliki aroma wangi nan familiar, sedangkan botol minuman terlepas dari tangan tanpa perlu dipikirkan. Usapan lembut kembali menghadirkan kesadaran atas apa yang barusan terjadi dengan bantuan kasih sayang bersambut tatapan mata tanya meminta penjelasan.
Siapa lagi yang dilirik jika bukan kelima gadis pengganggu terutama Cleo. Sadar bahwa kakaknya itu menaruh curiga dan jika sampai tahu masalah yang sebenarnya, ia tidak ingin benar-benar dipindahkan ke luar negeri. Suasana tidak mendukung dan harus segera dialihkan.
Direngkuhnya tangan kanan sang kakak, "Ka, pulang, yuk!" ajaknya dengan suara manja yang membuat Bryant menatap lembut ke arahnya dan mengangguk tanpa penolakan.
__ADS_1
Kemesraan kakak beradik terlihat begitu jelas tengah saling menutupi tanda tanya dari dalam diri masing-masing dengan langkah kaki berjalan meninggalkan kantin. Dari tempat Cleo berada terdengar bisik-bisik yang mengagumi pria milik Bunga. Wajahnya tampan dengan garis dewasa, apalagi penampilan sudah menunjukkan kelas sosialita.
Wulan saja sampai meneteskan air liur ketika menatap Bryant dari jarak dekat. Aroma parfum yang menyebarkan kesegaran membawa pikiran terbang menikmati khayalan kebersamaan dan tanpa sadar meracau tidak jelas yang membuat keempat gadis lain saling pandang. Lalu serempak menepuk bahu si gadis rambut sebahu.
"Ck, kalian tidak berperasaan. Seneng banget ganggu kesenanganku, sih!" gerutu Wulan dengan bibir mencebik kesal.
Cleo memutar bola matanya jengah, "Wulan, wulan, sekarang traveling sampai mana? Jangan bilang udah cari cara untuk nidurin tuh om om."
"What's! Apa kalian buta? See him! Mana ada tampang om om, prediksi gue, dia masih seumuran abang Topan. Believe it, guy's!" sahut Mita ngegas membuat yang lain tersentak karena nada tinggi si cempreng selalu mengejutkan semua orang.
Bukan hanya mereka saja yang terngiang-ngiang suara fals Mita karena banyak tatapan mata tertuju ke arah mereka. Sebenarnya hal biasa hanya saja terkadang masih harus menyesuaikan diri dengan logat si gadis penyanyi kamar mandi. Tak ingin larut dengan pandangan orang-orang, mereka berlima memilih meninggalkan kantin.
"Sttt," Tara menyenggol tangan Wulan yang berdiri di sebelahnya, membuat si gadis rambut sebahu tahu maksud dari keingintahuannya.
Ditahannya sang sahabat dan membiarkan ketiga gadis yang berjalan di depan tetap maju menjauh, sedangkan ia dan Tara melipir ke arah lorong lain. Lorong pendek yang merupakan jalan menuju taman dalam kampus. Suasana begitu sepi karena tidak ada yang datang di jam istirahat.
Setelah melihat situasi, Wulan menemukan tempat yang pas untuk duduk sambil mengobrol mengobrolkan sesuatu antara ia dan Tara. Keduanya duduk di bangku taman dengan atap payung besi agar terhindar dari panasnya terik matahari. Apalagi ditemani sebotol soda kaleng rasa coca cola.
__ADS_1
"Tara, apa kamu bisa bantu aku buat dekat sama cowok tadi?" tanya Wulan begitu antusias dengan tatapan mata lemas penuh pengharapan.