
Hati tak kuasa menahan diri untuk tetap diam apalagi Fay tak kunjung memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan olehnya. Langkah kaki berjalan maju hingga gerakan cepatnya berhasil merengkuh raga yang selama ini tidak pernah ia sentuh sesuka hatinya. Ya, ia memang sangat menjaga hubungan dengan cara menghargai Fay sebagai wanita pilihan lebih dari para perempuan di luar sana.
Untuk pertama kalinya kedua raga saling berpelukan merasakan kehangatan di tengah dinginnya semilir angin malam. Sesaat terdiam tanpa ada percakapan yang bisa menghapus kedekatan hingga ia merasakan dorongan pelan tangan lembut kekasih hatinya tetapi tak mampu menjauhkan jarak mereka berdua.
"Kenapa jadi begini, Fay? Jika memang aku memiliki anak dari wanita lain, untuk apa tidak mengakuinya sebagai darah keturunanku. Sebagai anak tanpa orang tua yang dibesarkan oleh panti asuhan, aku sangat memahami derita anak menjalani kehidupan yang penuh guncangan dan cibiran masyarakat.
"Fay, tidak mudah bagiku sampai di titik sekarang dan telah memutuskan pernikahan agar bisa lanjut menjalani fase kehidupan berkeluarga. Jika memang kamu berpikir Elea memiliki dunia bersamaku, aku tidak akan mengubah hasil penilaianmu tapi biarkan malam ini semua jelas tanpa ada kesalahpahaman antara kita, dia dan masa depan."
"Sekali saja, beri aku kesempatan untuk membuktikan diri bahwa kebenaran yang kamu terima cuma akal licik Elea agar kita berpisah. Apa bisa kamu berikan aku hal sekecil ini?" Bagas mengeratkan pelukan seraya membisikkan sesuatu yang menyudahi perlawanan Fay.
Singkat cerita pertemuan itu masih berlanjut hanya saja dari kebersamaan di tepi jalanan yang lengang beralih ke pusat kesehatan dimana sebuah rumah sakit utama menjadi pilihan atas dasar pertimbangan demi mendapatkan kebenaran. Fay, Bagas dan Elea, ketiganya datang bersama-sama tetapi tak lupa menjemput anak yang menjadi alasan atas permintaan pembatalan pernikahan.
Seorang anak yang hampir berusia enam tahun memiliki paras tampan tetapi sangat pendiam selalu berdiri di sebelah Elea tetapi anak itu sukanya menundukkan wajah. Dari bentuk fisik sudah jelas berasal dari produk unggulan tetapi bukan berarti menjamin kebenaran seperti yang telah dikatakan oleh sang mantan. Semua harus jelas tanpa bisa menyimpan secuil keraguan.
__ADS_1
"Kalian bertiga duduk dulu! Aku akan urus administrasinya," langkah kaki berjalan memisahkan diri dari gerombolan. Ia membiarkan Fay menghadapi krisis kepercayaan kali ini dengan caranya sendiri.
Meski hati yakin jika anak yang dijadikan sebagai tumbal bukan putranya. Ia tidak ingin gegabah dan langsung menuduh Elea yang pasti memang sudah merencanakan semua secara matang. Apapun akan dilakukannya demi mengembalikan kepercayaan sang calon istri kepadanya.
Keberadaan Bagas yang semakin menjauh memberikan kesempatan pada Elea yang kembali mendekati Fay. Wanita itu melepaskan tangan anaknya begitu saja dan malah beralih menarik Fay ke sudut ruangan tanpa peduli pada keramaian rumah sakit yang bisa menyulitkan sang putra. Benar-benar wanita tanpa akal pikiran.
"Ngapain bawa aku ke sini? Lepas tanganmu dari tanganku!" Dihempaskannya tangan Elea tanpa aba-aba, kemudian mengusap pergelangan tangan yang terlihat memerah.
Tidak tahu niat hati dari mantan kekasih sang calon suami, apa Elea sudah kehilangan akal atau memang sikapnya selalu agresif. Entahlah tapi yang jelas lebih baik tidak terus berurusan dengan wanita yang memiliki aura pendendam. Bahkan dari sorot mata selalu terpancar amarah tanpa ujung penyesalan.
"Seharusnya sadar diri donk, pergi yang jauh atau bila perlu menghilang dari dunia. Buat apa kamu tetap mengikuti kami sampai di rumah sakit? Kalau cuma jadi beban mending pergi saja!" tukas Elea menyudutkan Fay tanpa perasaan, wanita satu ini tidak menyadari jika setiap kata semakin menguatkan hati Fay untuk tetap melihat kebenaran dirinya.
Tangan terangkat, lalu ia dorong pundak kanan Elea tanpa rasa takut. Tatapan mata saling bertautan mengobarkan emosi hati yang terpancar begitu dalam, "Suka-suka aku mau melakukan apa karena ini hidupku. Kalau memang dia itu anakmu, buat apa kamu ngancam aku dan malah ninggalin anak sendiri di sana. Jadi ragu dengan ceritamu atau jangan-jangan semua kebenaran itu kamu karang?"
__ADS_1
"Heh, beraninya asal tuduh. Dia beneran putraku dan Bagas. Aku disini mau menegaskan posisimu tidak bisa ... " Elea yang masih berapi-api mengumumkan kepemilikannya akan hubungan tanpa nama hanya diabaikan Fay tanpa berniat mendengarkan apa keluhannya.
Fay melengangkan kaki meninggalkan Elea begitu saja di tengah kesibukan mantan Bagas menyombongkan diri atas cinta yang ada di masa lalu. Hati tertampar akan kenyataan yang sebenarnya sudah ia terima dimana Bagas bisa menjadi pria termanis ketika menjalin hubungan bersama Elea tapi selama bersama dirinya justru sibuk mengurus masalah keluarga.
Jika dipikirkan lebih jauh lagi, sejujurnya bukan kecewa tapi kesal saja dengan bisikan cerita kisah cinderella milik Elea. Sebagai wanita ia merasa sudah cukup bersabar menghadapi problematika selama menjalin cinta bersama Bagas hingga akhirnya menyetujui pernikahan demi kebaikan bersama. Hanya saja tidak menyangka harus kandas sebagai bentuk toleransi sesama wanita.
*S!al! Wanita ini tidak peduli dengan omonganku, bahkan ancaman juga tidak mempan. Apa dia berubah pikiran? Oh, no, jika sampai berubah maka jangan salahkan aku berbuat kejam padamu.~umpat Elea dengan kekesalan sampai menghentakkan kaki hanya sekedar sebagai pelampiasan*.
Fay yang masih menahan kemelut di dalam hati dan benak pikiran berusaha mengalihkan perhatian. Setelah menemukan tempat duduk yang nyaman, barulah mengatur napas agar kembali mendapatkan ketenangan. Bau rumah sakit, ia tidak suka tapi malam ini justru harus berlama-lama tinggal di bangunan putih hanya untuk mendapatkan kebenaran. Apapun masih bisa diusahakan kembali normal selama tidak ada kecurangan.
Sementara di sisi lain, Bagas menyerahkan formulir pendaftaran kepada seorang dokter yang kebetulan baru menyelesaikan jadwal operasi malam, "Mohon kerjasamanya, Dok. Semua ini harus diselesaikan malam ini, bisa kan, Dok?"
Dokter menerima formulir yang berisi tiga nama pasien untuk melakukan tes darah secara bersamaan. Tentu saja untuk membuktikan status si anak yang dibawa Elea, Bagas sudah memutuskan akan melakukan tes DNA. Dimana dengan satu gerakan ini bisa mengungkapkan jati diri sang mantan.
__ADS_1
"Bisa, sebaiknya kita lakukan sekarang sebelum tim rumah sakit selesai jadwal piketnya. Suster, tolong antar mereka ke ruang pemeriksaan dan aku tunggu segera!" ucap Dokter yang akan menangani masalah keluarga kali ini, formulir juga masih ia genggam agar memudahkan pemanggilan nantinya.