
Peringatan Daffa menggetarkan hati. Entah kenapa kegelisahan semakin terasa, padahal ia sendiri benci dengan kehadiran Bunga. Lalu, apa sekarang mendadak mengkhawatirkan? Emosi di dalam hati benar-benar tak bisa di tentukan oleh waktu.
Menghela napas panjang seraya mengepalkan tangan. Kesal sekaligus cemas akan dua suasana hati bertolak belakang. "Kita berdua saja, biarkan yang lain tetap bekerja. Ayo!"
Daffa tersenyum lega mendengarkan keras hati seorang Vir akhirnya luluh di depan ego takdir. Ia tahu, bahwa sejak awal perseteruan antara sang sahabat dan teman barunya hanyalah ke salah pahaman saja. Akan tetapi, tindakan sudah terlanjur jauh tanpa memikirkan akibat di akhir.
Tangan menepuk-nepuk pundak kanan Vir sekedar mengingatkan bahwa semua pasti baik. "Mari, Vir!" sesaat menengok ke belakang. Lalu melambaikan tangan membuat teman yang lain bergegas menghampirinya, "Kalian jaga kedai, tolong salah satu ke rumah kepala desa!"
"Kakak tak usah khawatir, Daffi sebenarnya baru mengirim pesan. Dia langsung ke rumah pak kepala desa. Pergilah dan jaga diri, hati-hati!" sahut seorang pemuda dengan santai karena hati percaya bahwa kedua pemuda di depannya bisa menyelesaikan masalah apapun selama bersama.
Setelah berpamitan secara singkat, Vir dan Daffa berlari ke jalanan desa. Area yang mereka lewati memanglah lebih cepat ketika mengandalkan kaki dan bukan kendaraan lain. Sebab itu, keduanya benar-benar harus mempercepat langkah kaki agar mencapai tempat tujuan.
Semakin gelisah di dalam jiwa ketika sebuah penantian tanpa ada kepastian. Hati merasa dilema, sedangkan orang yang merenggut kedamaian tengah menatap seorang pemuda asing. Pemuda dengan tubuh kering kerontang tanpa mengenakan busana lengkap selain tertutup selimut tipis khas rumah sakit.
Ia bingung, kenapa tiba-tiba ibu Ipeh menunjukkan isi ruangan salah satu kamar. Padahal selama ini, dirinya tak berbuat sesuatu yang salah. Keterkejutan hanya sesaat hingga sang pemilik rumah menyerahkan gulungan kertas di tangan kanan. Kertas putih yang diyakini sudah lama dipersiapkan.
Bunga termenung, tetapi tangan tanpa ragu membuka gulungan kertas dari bu Ipeh. Was-was yang menguasai diri mendadak terhempas oleh keinginan hati seorang ibu. Ia merasa seperti tersudut oleh keadaan yang membuat sanubari menolak pelarian diri.
"Bu, bisa kita bicara di luar saja? Biarkan putra ibu beristirahat dulu. Bagaimana?" tawar Bunga yang tampak jelas dipertimbangkan oleh si pemilik rumah.
__ADS_1
Meski dengan berat hati, ibu Ipeh merasa gadis di depannya bisa dipercaya. Sontak ia menganggukkan kepala, lalu mengulurkan tangan mempersilahkan sang tamu keluar dari kamar putranya. Putra yang ia kasihi tetapi memiliki gangguan mental.
Keduanya keluar dari kamar dan ibu Ipeh tak lupa mengunci pintu kembali agar sang putra tetap aman. Rasanya sangat menyiksa ketika takdir bermain api membakar seluruh harapan yang ia punya. Akan tetapi, hati tetap yakin bila suatu hari nanti bisa menyelamatkan putra tunggalnya.
Perasaan seorang ibu sangatlah sensitif dan jika yang di posisi ibu Ipeh adalah mamanya. Maka sudah pasti tersiksa lahir dan batin. Selama sebulan ini, ia hanya mendengar desas-desus mengenai penghuni lain rumah orange. Sayangnya hari ini dengan mata kepala sendiri melihat keberadaan si pemuda kosong.
Tatapan mata hampa, wajah pucat tanpa senyum di bibir. Raga kering kerontang bak mayat hidup. Entah apa yang terjadi hanya saja luka dari aura kesedihan bisa dirinya rasakan. Pemuda itu masih memiliki masa depan cerah tetapi takdir menjatuhkan tanpa ampun.
"Sebelumnya maaf, apa boleh saya tahu penyebab putra ibu sampai seperti itu?" Bunga bertanya dengan sangat hati-hati agar tidak menyinggung perasaan seorang ibu.
Sebagai seorang pebisnis muda yang mulai menekuni dunia para pengusaha. Maka ia dibekali public speaking yang mumpuni, sesi tanya jawab menjadi bagian dari negosiasi agar bisa memahami lawan bicara. Selain itu, ia selalu mengingat kelebihan dan kekurangan seseorang termasuk sadar bahwa wanita yang duduk di depannya tidak bisa bicara.
Diambilnya buku notes dan pulpen yang selalu ia bawa di kantong celemeknya, kemudian diletakkan ke atas meja. "Ibu bisa tulis dengan tenang, silahkan!"
Bunga hanya memperhatikan dan masih diam menunggu tanpa memberikan pertanyaan satupun. Dibiarkannya si pemilik rumah melakukan apapun hingga wanita paruh baya itu kembali duduk di tempat semula. Tangan menggenggam sebuah kertas lusuh dengan ujung terbakar.
"Putraku patah hati dengan kekasih pertamanya. Namanya Maura Abiyasa. Bukankah dia mirip seperti mu, nak," selembar foto diletakkan ke atas meja. Tepatnya di atas noted milik Bunga yang membuat gadis itu menatap tajam ke arah gambar.
Pahatan sempurna di dalam selembar foto yang ada di hadapannya benar-benar seperti cermin. Apa ia punya kembaran? Hati gelisah dengan logika tak bisa mencerna keadaan. Apalagi wanita yang dikenal seorang ibu bisu, tapi hari ini berbicara lancar seolah baru saja menemukan pita suaranya kembali.
__ADS_1
Apa situasi yang ada hanya permainan atau memang ibu itu memiliki masalah besar hingga dengan tekad menghentikan kepergiannya. Ingin sekali bertanya tetapi bibir terasa kelu tak sanggup bersuara. Kebenaran di depan mata hanya sekilas dan itu membungkam kata-kata.
Ibu Ipeh yang merasakan ketidaknyamanan Bunga terkekeh pelan, "Ibu tahu, kalian beda orang karena Maura sudah meninggal dunia lima tahun lalu. Jika usia kalian saja beda tiga tahun, bagaimana menyamakan satu wajah dari dua raga?"
"Sebenarnya, ibu cuma mau minta tolong sama kamu, nak. Bisakah berpura-pura menjadi Maura dan kembalikan Agam pada ibu. Maaf, karena sebagai ibu maka diri ini bersikeras mengharapkan kesempatan untuk bisa hidup normal, sekali lagi.
"Jika kamu mau menolong ibu, semua harta bisa ibu serahkan padamu. Bukan bermaksud menukar kehidupan dengan kekayaan tak seberapa, tapi percayalah apa yang didapatkan nanti bisa untuk membangun usaha sendiri tanpa perlu memikirkan modal tambahan."
Pernyataan ibu Ipeh tak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai seorang putri pengusaha, ia bisa merasakan jiwa pebisnis dari dalam diri wanita itu. Mungkinkah identitas seorang wanita yang tinggal di lingkungan kelas menengah memiliki dunia lain di luar sana?
Jika dirinya sebagai putri orang penting saja mampu tinggal dan berbaur dengan masyarakat biasa. Maka kemungkinan besar ibu Ipeh juga melakukan hal sama, tapi kenapa? Apa semua karena kondisi putranya yang memang seperti mayat hidup.
Siapa wanita itu, kenapa dan bagaimana bisa tinggal di lingkungan tersebut. Semua itu tidak seharusnya dipertanyakan, apalagi mencoba mencari tahu. Lalu, bagaimana dengan tawaran yang diberikan? Ia sendiri hanya ingin hidup bebas selama sisa waktu yang sudah ditetapkan.
Perlahan mencerna situasi dengan menilai baik buruk keadaan yang menjadi penentuan atas permintaan tolong seorang ibu. Bisa saja menolong, tapi mengingat waktu yang dimiliki begitu singkat. Ia khawatir proses penyembuhan Agam tidak sesuai harapan.
Jika tentang bayaran, maka sedikitpun dirinya tak memerlukan itu. Sekarang hanya dipertemukan antara akal, emosi dan tindakan sebagai sesama manusia. Bukan bingung atau dilema, ia tak bisa mengambil keputusan secara gegabah hanya karena hati ingin mengiyakan permintaan tolong seorang ibu.
"Sebelumnya Bunga minta maaf, Bu. Harta sebanyak apapun hanya untuk memenuhi kebutuhan dunia, tapi bagiku tak lebih sekedar alat bantu menopang fase kehidupan. Selama raga masih sehat, InsyaAllah rezeki masih bisa dicari. Mengenai permintaan tolong ibu, aku ... "
Belum usai mengutarakan isi hati serta pikirannya tiba-tiba pintu didobrak hingga lembaran kayu yang tak begitu kokoh terbanting tanpa perasaan menyebarkan suara keras mengejutkan. Sontak saja, ia dan pemilik rumah terlonjak kaget. Apalagi ibu Ipeh langsung bangun dari tempat duduknya.
__ADS_1
"Apa kalian berdua tidak punya sopan santun? Bisa ketuk pintu dulu, kan. Dasar anak nakal!" bentak ibu Ipeh kesal dengan kelakuan tamu tak di undangnya.