
Ia tak mengerti kenapa pria di depan pintu menatapnya dengan tatapan begitu khawatir padahal baru saja mendapatkan bentakan darinya. Apa yang diharapkan dari wanita lemah dan tak memiliki keluarga seperti dirinya? Jujur saja, ia sendiri merasa sudah tidak berharga apalagi untuk tetap hidup di dunia yang fana.
Pikiran kacau kian membelenggu isi kepala Alsava dimana wanita muda itu terus memeluk penyesalan di dalam hidupnya karena dilahirkan sebagai anak tanpa orang tua. Apa dayanya yang merasa seluruh kehidupan berhasil memainkan peran hingga tidak menyisakan tempat untuk bernaung atau sekedar menemukan sandaran tepat di tengah terjangan badai ujian takdir Sang Pencipta.
Namun ketidaktahuan si pria yang datang dengan niat baik untuk menjenguk sahabatnya itu, kini justru menemui dilema. Persimpangan tak bisa dihindari tapi jika tidak mengetahui apa yang telah terjadi, lalu bagaimana ia akan mendapatkan solusi dari masalahnya. Sungguh ia memerlukan penjelasan dari situasi di depannya.
"Sava, please calm down! Apa kamu tidak senang dengan kedatanganku? Setelah satu tahun akhirnya aku kembali ke Indonesia, sekali saja ceritakan semua beban hatimu dan kita bisa menyelesaikan masalah apapun itu bersama-sama." ujar si pria yang masih bisa menguasai perasaan hatinya meski ia merasa situasi kali ini tak sebaik kelihatannya.
__ADS_1
Sava yang masih tenggelam di dalam emosi hati juga berusaha sebaik mungkin mengendalikan amarah di dalam dirinya. Wanita muda itu hanya terbawa suasana hingga lupa jika di dunia yang fana masih banyak insan dengan ujian hidup lebih berat daripada hidup miliknya. Kebenaran itu selalu sama meski zaman terus berubah dengan banyaknya kehidupan manusia.
Perlahan memejamkan mata seraya mengepalkan kedua tangan berharap bisa mendapatkan ketenangan yang tersisa, lalu tak lupa menghempaskan seluruh napas dari dalam dirinya. Semakin berusaha untuk memeluk kedamaian demi mendapatkan suasana yang lebih baik dari sebelumnya karena ia tahu, pria di depan sana tak suka melihat keterpurukan di dalam hidupnya.
"Makasih sudah datang tepat waktu, Den. Bagaimana kabarmu selama setahun ini?" Sava melangkah maju, ia berjalan mulai mendekati pintu setelah mematikan shower yang sedikit mengurangi panasnya api di dalam hati.
"Mana pernah aku berpikir seperti itu tentang sahabat terbaikku. Alsava yang ku kenal selalu menjadi wanita tangguh bahkan bisa mengalahkan banyak orang hanya dengan seni melalui tangan ajaibnya. Kemarilah, peluk aku!" Si pria merentangkan kedua tangan bersiap memberikan tempat bersandar untuk Sava hingga membawa seorang sahabat dalam pelukan sayang sebagai saudara.
__ADS_1
Setelah sekian lama berpisah akhirnya waktu menyatukan dua insan yang saling mengasihi. Alsava bahkan larut menghamburkan diri ke dalam dekapan sahabatnya, wanita muda itu tak meninggalkan jarak antara mereka berdua. Kehangatan atas rasa sayang menjadi kebersamaan tanpa memiliki syarat atas kekuasaan ikatan tanpa nama.
"Denis, bisakah kamu bawa aku menjauh dari keramaian dunia. Bawalah diriku ke tempat dimana tak seorangpun bisa menemukan keberadaanku. Please," pinta lirih Alsava setelah merasa lebih baik dan tanpa melepaskan pelukannya.
Permintaan tak biasa dari sahabatnya sudah jelas menyatakan situasi yang ada dan ia merasa kehidupan wanita muda itu sangat tidak baik-baik saja, "Sava, aku kembali untuk menjadi kekuatanmu dan bukan alasan pelarian seseorang. Apa kamu lupa jika di dunia ini segala sesuatunya hanya berarti perjuangan hidup."
"Setiap keluhan bisa diterima tapi tidak dengan penyerahan begitu saja. Kamu harus berani menghadapi masalah meski itu badai terburuk di dalam kehidupan. Jangan pernah lupakan siapa dirimu, ingat itu Alsava Adelia Manoppo!"
__ADS_1
Menghela napas panjang, lalu melepaskan kedua tangan dari raga kekar yang selalu siap menjadi tempat bersandarnya. Ia lupa akan sikap dewasa dari sahabatnya itu, Denis Wiratama yang selalu menjadi pria idola banyak wanita tapi justru menjadi sahabat setia dari seorang gadis biasa seperti dirinya. Di luar sana banyak yang berharap mendapatkan perhatian si pria tampan dari keluarga berada tetapi tak seberuntung takdirnya.
"Aku mau kamu jadi orang pertama yang tau siapa diriku sebenarnya, Den. Mulai hari ini, bahkan detik ini juga, aku bukan lagi Alsava Adelia Manoppo. Nama yang tersemat mungkin bukan hakku sebagai anak, kebingungan ini karena kenyataannya aku bukan anak dari keluarga pemilik kediaman tempat kakiku berpijak." jelas Sava tanpa dilema dan membuat Denis tertegun mencerna pengakuan kebenaran yang sudah merenggut kebahagiaan hidupnya.