
Hazel mengerjapkan mata, wanita itu tak bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah pria yang menjadi supir taksi. Tidak buruk bahkan termasuk salah satu pria tampan yang pernah ditemuinya hanya saja mungkin nasib tidak seberuntung dirinya. Atau memang usaha belum mencapai titik tujuan.
Si supir tersenyum berusaha menunjukkan pesonanya, "Nona, kenapa menatapku seperti itu? Kaget, ya sama wajah gantengku," mengedipkan mata seolah ia yang paling tampan di dunia.
"Heh, ngaco kamu, nyetir lagi, gih! Lampu lalu lintas udah hijau," sergah Hazel tak mau mengakui kekagumannya.
Meski pria di depan mata memang memiliki kualifikasi cowok tampan. Tetap saja tidak sebanding dengan kekasih gelapnya, lagipula setelah disibukkan dengan ketegangan pikiran, ia harus mendapatkan kenyamanan dan untuk itu bergegas menyelesaikan masalah rumah tangga agar bisa kembali bebas.
Perjalanan yang tidak begitu jauh berakhir cepat pula dimana usaha si supir terbuang sia-sia. Satu yang bisa menjadi rasa syukur ketika mendapatkan lembaran merah lebih banyak dari biasanya. Ia tak menyangka setampan dirinya masih tidak bisa membuat seorang model tergoda. Atau memang bukan selera dari wanita karir itu?
Meninggalkan pemikiran kotor si supir, Hazel berjalan cepat menyusuri halaman depan rumahnya. Wanita itu bahkan mengabaikan sapaan para penjaga, langkah yang begitu tidak sabaran menerobos tanpa ada penghalang tetapi membuat para pelayan keheranan sebab sang majikan tidak biasa pulang lebih awal. Apalagi tuan muda juga masih berada di luar.
"Bi, siapkan makan malam mewah untuk malam ini dan ya, hias seluruh ruangan dengan lilin. Pastikan semua indah, cepat kerjakan perintahku!" Hazel yang terburu-buru menaiki anak tangga tidak sedikitpun memberi kesempatan pada para pelayan untuk menjawab perintahnya.
__ADS_1
Sebagai nyonya rumah, wanita itu memang terbiasa tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya. Meski itu pelayan lama atau baru, dia tidak mau ambil pusing bahkan lebih suka cuma memberi perintah dan pergi begitu saja. Sikap sesuka hati yang terkadang menghasilkan rasa tidak nyaman di hati semua orang.
Namun ketika status hanya sebagai pelayan maka tidak memiliki tempat untuk menuntut. Apa yang ditugaskan sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab atas pekerjaannya. Profesi mungkin memiliki jarak dan perbedaan status sosial tapi dimanapun berada tetap harus menunaikan kewajiban atas tugas yang dipercayakan.
"Kalian berdua," si kepala pelayan menunjuk dua wanita muda yang sudah menjadi pembantu lama. "Bantu aku siapin menu makan malam, sedangkan yang lain tolong dekorasi seluruh rumah dengan lilin. Ambil saja persediaan di gudang, tambah juga bunga segar sebagai hiasan. Paham?"
"Mas Kepel, apa nyonya sama tuan lagi marahan? Denok perhatiin dari beberapa hari keduanya cuma sama-sama diam, malahan terkesan dicampakkan." celetuk Denok tanpa pikir panjang yang mendapatkan layangan tangan menarik telinga kanan.
"Sttt!" Si kepala pelayan meletakkan telunjuk tangan kiri di depan bibirnya, "Jangan keras-keras bicaranya, nanti ketahuan malah kita semua kena hukuman. Patuhi perintah nyonya dan kita aman, ayo!"
Tangan melambai mengajak semua orang membubarkan diri, si kepala pelayan memang memiliki kewajiban mengingatkan semua bawahannya. Apalagi sudah ikut keluarga majikannya sejak awal menempati rumah mewah tersebut meski kadang-kadang ingin berhenti dari pekerjaannya ketika menjadi sasaran pelampiasan sang nyonya. Hidup memang penuh resiko.
__ADS_1
"Denok, kamu udah hapal bahan untuk menu yang ku pilih buat makan malam kan?" Si kepala pelayan membuka lemari peralatan masak, kedua tangan sibuk mendapatkan barang sesuai kebutuhan sehingga tidak memperhatikan bawahannya.
Dimana Denok sedang fokus membaca catatan di atas meja bagian ujung. Si kepala pelayan alias Mas Kepel ternyata memang cekatan, pria dengan keahlian ganda itu ternyata selalu memiliki cadangan list menu untuk hari dadakan. Wajar saja selama ini tidak begitu ambil pusing dengan jadwal setiap ada tugas dadakan.
"Rhubarb strawberry crumble plus apple crumble, Mas Kepel, makanan jenis apa yang ada di daftar paling bawah?" nama asing dari menu makanan penutup membuat ia penasaran.
Denok memang bukan orang baru di kota Jakarta tapi gadis itu memang selalu diam di rumah majikan. Sehingga makanan yang tidak familiar di telinga menjadi rasa penasarannya. Satu pertanyaan yang membuat Mas Kepel menghentikan kesibukannya lalu berbalik menghadap sang bawahan.
"Crumble itu makanan pelengkap berupa remahan yang dibuat dari campuran tepung, gula, mentega, dan terkadang diberi rempah-rempah. Hal ini dimaksudkan, agar rasa yang dihasilkan kian menggoda. Seringkali remahan ini disandingkan bersama aneka buah-buahan.
"Rhubarb strawberry crumble. Olahan yang satu ini dikombinasikan bersama dua bahan baku berwarna merah, yaitu rhubarb dan strawberry. Rhubarb sendiri merupakan jenis buah sayur yang memiliki rasa khas. Nah, keduanya dicampur bersama gula, sedikit tepung maizena, dan air lemon. Rasanya bisa dipastikan lezat.
"Begitu juga dengan apple crumble. Bisa di bilang si crumble memang cukup bersahabat dengan buah apel, maka tak heran jika kudapan satu ini justru menjadi salah satu makanan penutup favorit, apple crumble masih jadi primadona bagi pecinta makanan manis. Tuan salah satu pecinta apple crumble."
Penjelasan si Mas Kepel membuat Denok manggut-manggut mencoba paham. Padahal di dalam kepala hanya memikirkan bagaimana bentuk dari kedua menu penutup manis yang akan disiapkan untuk nanti malam. Apalagi tugasnya hanya ikut menyiapkan bahan dan sesekali melakukan pekerjaan ketika diperintahkan. Terlihat tidak banyak kesibukan karena tugas utama hanya membersihkan kekacauan dapur setelah menjadi tempat pertempuran.
Meninggalkan obrolan para pelayan, di rumah lain terjadi kesalahpahaman yang tidak bisa dijelaskan. Akan tetapi hati sang korban berusaha untuk tetap tenang dengan seulas senyuman menahan diri agar tetap bisa mengendalikan perasaan. Ia tak memperdulikan gemuruh emosi yang siap menerkam ketidakadilan.
__ADS_1
"Istriku, kapan kamu pulang?" langkah kaki berusaha bergegas menjauhkan diri dari hadapan wanita yang dianggap sebagai sahabat istrinya. "Jangan salah paham, ya, aku cuma bantu tiupin debu dari mata ... "
"Tidak perlu jelasin ke aku, Mas. Kalian itu keluargaku, tentu aku percaya." Senyum dipaksakan menunjukkan bahwa semua baik-baik saja meski hati semakin tidak berbentuk menikmati kerapuhan atas rasa yang tidak bisa ia tahan.