
Pertemuannya dengan Karin bukan memberi dampak positif, ia merasa sang teman sudah berubah drastis. Padahal dulu mereka seringkali melakukan kesenangan bersama-sama meski dirinya akui bahwa Karin tidaklah senakal ia tapi semua itu sudah berlalu dan tidak ada waktu untuk mengulang kembali. Meninggalkan Hazel yang menyibukkan diri, sedangkan di tempat lain seorang pria baru saja terbangun.
Kelopak mata yang terbuka bukan karena keinginannya, "Aroma kopinya begitu menggoda, apa ada yang berusaha membujukku?" Tangan terangkat menyibak selimut, lalu mulai menurunkan kaki menapaki lantai marmer nan terasa dingin begitu menyentuh kulitnya.
"Rupanya sudah siang, pantas saja ada aroma kopi." suara derap langkah kaki berjalan santai menyusuri lantai menjauh dari ranjang tempat peristirahatan.
Tidak ada keraguan meski masih menerka siapa pengganggu kali ini, ia akan mentolerir jika si biang onar yang mengusik mimpinya menyajikan kopi seperti harapannya. Akan tetapi untuk itu, langkah kaki terus maju sampai menuruni anak tangga satu per satu seraya mengedarkan pandangan ke sekitar yang terlihat begitu sunyi meski ruangan sangatlah luas.
"Apa semua pelayan cuti? Tumben amat sepi kek kuburan," gumamnya semakin penasaran sehingga mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di sumber aroma yang membangunkan tidurnya.
Samar-samar terdengar suara mesin yang ia kenali. Sudah pasti seseorang sedang menggunakan mesin pembuat kopi, hal itu membuat hati semakin tidak sabar bahkan langkahnya setengah berlari mendekati area dapur di depannya. Begitu langkah pertama berpindah ke ruangan yang lebih kecil justru di sambut serbuk putih beterbangan.
"Happy birthday, Son." ucapan selamat bersambut terompet mini menggetarkan hati, "Come, kita duduk ngopi bareng!" ditariknya tangan pria yang masih tertegun atas kejutan darinya.
__ADS_1
Sudah pasti mengalami guncangan setelah sekian lama tak bertemu dan akhirnya bisa kembali tinggal di tempat yang sama. Apalagi seatap tanpa memiliki rasa kekhawatiran akan apapun, meski ia sadar setelah kedamaian maka bisa langsung berbalik menjadi bumerang. Apapun situasi nanti hanya perlu dipikirkan esok sebab sekarang waktunya untuk bahagia.
"Semua ini, apa kamu yang siapin?" tanya si anak yang mengedarkan pandangan ke sekitarnya dimana ia melihat taman samping dapur sudah berubah menjadi alam hiburan.
Balon putih yang tergeletak di bawah hampir memenuhi beberapa bagian, pita warna merah dan biru tergantung menghiasi ranting tumbuhan, di tambah karpet yang menutupi rerumputan. Makanan ringan, minuman soda bahkan kue tart dengan lilin angka dua puluh tiga juga menjadi ikon utama. Akan tetapi dari semua itu yang ia butuhkan hanyalah secangkir kopi.
Di tengah kesibukan memperhatikan tiba-tiba ada tangan mengulurkan cangkir hitam dengan asap putih yang mengepul di hadapannya, "Ini yang ku mau, makasih." Secangkir kopi hitam pekat menyebarkan aroma nikmat yang mampu menenangkan pikirannya.
"Papa tahu, kamu tidak tertarik dengan pesta seperti ini tapi kalau soal kopi, mana pernah ditolak. Ayo, kita duduk bersama dan hari ini, lebih baik menghapus semua pekerjaan." ajak sang ayah dengan langkah kaki yang berjalan mendahului putranya, pria itu duduk di karpet tengah taman.
"Apa istri muda papa tidak ikut atau dia masih trauma dengan pesta beberapa bulan yang lalu?" tanpa menatap ke arah lawannya, ia mengajukan satu pertanyaan sebagai awal perbincangan yang menurutnya patut dipertanyakan.
Kemarahan yang terpendam masih bisa dirinya rasakan, ia sadar telah merenggut hal paling berharga dalam hidup sang putra tapi semua sudah terjadi dan tidak mungkin diubah meskipun rela memberikan kebahagiaannya demi seorang anak. Hanya saja, ia tak ingin menggali luka lebih dalam lagi.
__ADS_1
"Aina masih di rumah orang tuanya, papa tidak mau mengganggu masa tenangnya. Son, papa minta maaf, tidak bisakah kita seperti keluarga lain? Tinggal serumah dan membuat kebahagiaan bersama-sama, papa cuma mau hidup bersama kalian, kesayangan papa." ungkap hati terdalamnya tanpa memiliki rasa cemburu ataupun marah meski permintaannya bisa membuat badai yang tak berujung nantinya.
Si anak meletakkan cangkir kopi ke sisi kanannya, lalu mendongak dimana sesaat tatapan mata fokus menikmati birunya langit dengan selimut awan putih nan lembut. "Jarak ini, bukan karena amarahku tapi demi kebaikan papa. Sejak awal sudah kukatakan untuk menentukan pilihan dan jangan berpikir menoleh ke belakang. Aku terima keputusan papa untuk menikah dengan pacarku, jadi sekarang anggap urusan di antara kita hanya sekedar bisnis."
"Aku sudah menemukan titik terang tentang pesaing kali ini, papa bisa kembali mengurus bisnis setelah tugasku selesai dan ku harap setelah itu, baik papa atau orang-orang papa menjauhi kehidupanku. Cuma ini permintaan terakhirku," sambung si anak yang sengaja mengumumkan keputusan finalnya untuk menyudahi semua ketidaknyamanan dalam hidupnya.
Orang bilang, bisnis is bisnis. Pepatah ini memang menjadi momok tersendiri yang seringkali menjadi alasan atas tindakan melewati batasan bahkan bisa melupakan ikatan meski tidak semua orang demikian. Tetap saja beberapa orang dengan pemikiran dangkal siap menghalalkan segala sesuatunya demi mencapai tujuan.
"Apa kamu serius, son? Papa sudah mencarinya selama dua tahun terakhir dan hanya mendapatkan sedikit petunjuk, tapi kamu bisa menyelesaikan dalam hitungan empat bulan. Siapa dia, son?" dari semua perkataan putranya, ia tertarik dengan pesaing bisnis keluarganya.
Hati yang sudah hancur tidak bisa di hancurkan lagi, baginya tak penting apa sang papa memahami kata perpisahannya atau tidak tapi setelah semua terselesaikan maka kehidupan damai sudah menanti di ujung pertemuan. Begitulah prinsipnya saat ini agar tidak kembali patah hati oleh keadaan dan perasaan.
"Sebenarnya ini belum bisa dipastikan seratus persen tapi setelah penyelidikan dan mengumpulkan semua informasi, aku menemukan satu nama yang pasti papa sendiri tidak asing. Alkan Putra, pengacara handal yang menangani kasus kecelakaan mama. Apa papa ingat dia?"
__ADS_1
Degupan jantung seketika tak berirama mengingat sebuah nama yang disebutkan sang putra. Alkan Putra. Apakah setelah perpisahan yang terjadi masih ada pertemuan ulang? Kenapa takdir kembali menghubungkan antara ia dan seseorang yang selalu menjadi mimpi buruk baginya. Setelah sekian lama dan hidup kembali normal, kenapa badai mengintai dunianya?
"Papa, apa yang terjadi padamu?" rasa cemas tak bisa dihindari begitu melihat papanya kesulitan bernapas setelah mendengar pengakuan darinya. Ia tidak tahu, apa yang terjadi, kenapa tiba-tiba saja menyebabkan kesehatan sang papa menurun, "Aku akan bawa papa ke rumah sakit, tolong tetap bertahan demi kami, Pa."