
Embusan semilir angin yang menerpa terasa begitu tak bersahabat tetapi nyatanya rasa dingin tak membuat hati bisa mendapatkan ketenangan. Apa yang menjadi milik kehidupannya hanya sebagian dari kisah tanpa nama meski pada dasarnya setiap insan mendapatkan ujian dari Sang Pencipta. Bukan keluhan yang ingin diajukan sebab ia sadar harus tegar menjalani setiap cobaan.
"Aku akan berterus terang tapi apa kamu bisa janji untuk merahasiakan masalah rumah tanggaku dari keluarga kita, Bry?" Samuel bukan tidak percaya pada saudaranya, pria itu hanya tidak ingin semua orang ikut berduka karena mengetahui kondisi Ocy.
Sementara Bryant yang merasa tidak memiliki pilihan lain selain berjanji akhirnya menyetujui syarat dari Samuel. Sehingga sang saudara dengan sukarela menceritakan awal mula atas derita yang menjadi nasib pernikahan cinta saudaranya itu, ditemani waktu nan bergulir tanpa irama tetapi menari mengikuti helaan napas tak biasa. Satu per satu perkara dijelaskan tanpa ada penipuan kata.
Kebersamaan kedua insan itu tak hanya menyita waktu sebab emosi hati pun ikut terkuras menjadi sisa asa di dalam jiwa. Sama seperti derita yang dirasakan seorang wanita dewasa dimana kebenaran menenggelamkan seluruh kenangan semasa hidupnya. Bayangan kebahagiaan sederhana benar-benar sirna dan kini tak lagi bisa menggenggam benih harapan nyata.
Entah sudah berapa lama ia mengurung diri di dalam kamar meratapi nasibnya bahkan seluruh ruangan tampak gelap gulita tanpa cahaya. Apa gunanya sinar di tengah kehidupan yang fana? Baginya akan lebih baik buta dan berharap takdir berhenti mempermainkan keinginan hati miliknya.
Keheningan yang melanda tiba-tiba terhapus oleh suara ketukan pintu, suara panggilan dari luar tak membuatnya bergeming. Jika kehidupan selalu siap menghempaskan seluruh impiannya, lalu untuk apa kembali bangkit bila semua harapan pada akhirnya terbakar menjadi abu yang tak lagi memiliki makna. Bukankah akan lebih baik duduk diam melepaskan semua asa?
"Nona, tolong buka pintunya. Bibi sudah siapkan sarapan kesukaan nona muda. Bibi mohon keluarlah, nona!" suara panggilan dari luar yang terdengar memelas nyatanya tidak berhasil menyentuh hati putri majikannya.
Di kediaman rumah nan megah seketika menjadi sunyi senyap seolah tidak ada kehidupan dan itu terjadi sejak kebenaran terungkap. Sebagai seorang pengasuh sekaligus pelayan terlama, ia begitu menyayangi nona muda dan ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh putri majikannya. Akan tetapi semua berakhir begitu cahaya di dalam istana tak lagi ada.
__ADS_1
"Kenapa semua ini terjadi padaku? Apa salah dan dosaku hingga menjadi putri orang lain sehingga orang tua yang merawatku tak sekalipun menganggap aku ada. Apa kebenaran ini lebih penting dari kasih sayang di dalam hati?" racau si nona muda yang merasa telah disia-siakan oleh kedua orang tuanya.
Kehidupan itu memang rumit tapi apa serumit rumus fisika dan matematika? Sejak mengenal dunia, kehidupan telah menjadikan seorang putri dengan status yang dipandang penuh kehormatan bahkan meski memiliki kekurangan, ia tak merasa dikucilkan oleh orang-orang disekitarnya. Akan tetapi jika dunia tahu bahwa ia hanyalah anak angkat dari wanita lain, apa penilaian orang-orang terhadapnya?
Suara panggilan terus mengusik kesendirian yang ingin mendamaikan amaran di dalam hatinya. Kini antara kebenaran, kenyataan dan rasa sakit seolah bertarung meminta tempat untuk dimenangkan. Apa yang harus dirinya lakukan di tengah badai yang membelenggu hati dan jiwanya?
"Nona muda, keluarlah! Lihat siapa yang datang," seru bibi yang berada di luar pintu kamar putri majikannya, dimana wanita itu melihat seseorang datang untuk menemui sang nona.
Tangannya terangkat, lalu melambai sekedar memberi isyarat agar beberapa pelayan yang berdiri di depan pintu kamar nona muda pergi meninggalkan pertemuan. Langkah kaki terhenti seraya menunggu semua orang menjauh dari dekatnya, kemudian dengan tenang mengetuk pintu tiga kali tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia ingin wanita di dalam kamar menyadari kedatangannya tanpa perlu menunjukkan isyarat rasa.
"Alsava, you have to get up! Forget all problems that come in your life and start a new step to success." putusnya berusaha menyemangati diri sendiri tapi hati terlalu lemah menahan sayatan fakta akan kebenaran dalam hidupnya kini.
Ia merasa tak layak untuk menyandang status sebagai putri seorang pengusaha, meski di dalam surat mamanya telah memastikan kebenaran itu tidak akan keluar dari rumah mereka. Apa arti dari nama ketika pada kenyataan sudah menjadi penipuan terbesar sepanjang kehidupan yang sudah dijalaninya. Satu hal yang ia pahami yaitu tidak ada lagi kehidupan bahagia seperti impiannya.
Disini Alsava benar-benar merasa tak lagi berdaya dengan kehidupan yang di dalam pikirannya sudah hancur berkeping-keping tapi disisi lain justru secercah harapan datang menyapa. Rasa khawatir yang melanda hati kian tak tertahankan membuat si tamu dengan kasarnya mendobrak pintu kamar nona muda. Raga kekar, tangan berotot dengan penampilan bak super hero menunjukkan kekuatan demi mendapatkan ketenangan.
__ADS_1
"Sava!" panggilnya yang lebih terdengar seperti genderang perang bergema di medan pertempuran. Tatapan mata menelusuri setiap sudut ruangan kamar dan pendengaran semakin dipertajam hingga mendengar gemericik air dari arah kamar mandi.
Tanpa basa-basi orang itu berjalan cepat menghampiri pintu yang terbuka sedikit hingga pandangannya terpatri pada raga yang berdiri membelakangi di bawah guyuran air dingin. Postur tubuh dengan tubuh semampai pemilik rambut hitam nan panjang tampak tenggelam dalam kesendirian atau perenungan, ia sendiri merasa lega menemukan keberadaan si nona muda. Perlahan irama degup jantung melepaskan ketegangan yang ada.
"Sava!" panggilnya sekali lagi tapi kali ini dengan sepenuh hati tanpa ada tekanan suara. Sayangnya apa yang ia lakukan masih diabaikan begitu saja, "Ada apa denganmu? Aku datang untuk berkunjung dan sikapmu seperti baru kehilangan cinta saja."
"Sava, keluarlah! Jika nona muda mau mendinginkan kepala, kenapa tidak ikut berenang denganku? Sikapmu yang seperti ini, aku sangat tidak suka." celetuknya berusaha membujuk si nona muda dengan segala upaya, ia tidak tahu jika saat ini dunia sedang mempermainkan perasaan Alsava.
Suara yang mengusik kesendirian tak hentinya berdengung bak lebah, ia sudah menahan diri tetap diam tapi semakin bungkam justru menambah tingkat keributan. Sungguh hati tak baik-baik saja dan orang yang datang mengunjunginya memperparah situasi hingga ia merasa muak mendengar hal di luar kebutuhannya. Bukankah amarah bisa meledak kapan saja?
"KELUAR!" teriak Sava seraya berbalik, tatapan mata tajam penuh luka memandang lawan bicara tanpa rasa suka.
Tak pernah dirinya membayangkan wanita lembut bak sutra memiliki amarah yang luar biasa. Bahkan untuk pertama kalinya merasakan aura dingin dari dalam diri seorang Alsava. Apa alasan di balik sikap tak biasa si nona muda, kenapa bisa mengeluarkan kemarahan di batas yang wajar? Pertanyaan demi pertanyaan menyesatkan rasa penasaran yang ada.
"Sava, are you okay?" jujur saja ia terkejut akan perubahan tingkah nona muda tetapi apapun itu pasti memiliki alasan yang pasti. Lebih dari apa yang ingin dirinya tahu, ia harus memastikan keadaan Alsava meski sadar benar akan sebuah kondisi di luar kendalinya.
__ADS_1