
"Apa yan kamu lihat?" tanya Daniel.
"Tidak ada, memangnya kamu merasa kalau aku melihatmu?" tanya Arina kembali.
"Mungkin kamu merasa kepedean, kamu itu berwajah penggorengan." jawab Arina.
"Bilang saja kalau kamu terpesona sama aku." cibir Daniel.
"Hoek.., aku mau muntah." jawab Arina.
Setelah perdebatan itu Arina dan Daniel kembali ke kamar mereka sendiri-sendiri.
DUA MINGGU KEMUDIAN
"Hari ini kamu mau jalan-jalan keliling Desa ini enggak, sudah dua minggu kau tetap berada di tempat ini saja. Apakah kau tidak bosan?" tanya Arina kepada Daniel.
"Memangnya Desa ini sebagus itu?" tanya Daniel.
"Tentu saja bagus, kalau kau mau aku akan mengajakmu jalan-jalan di sekitar sungai yang ada di tempat ini." Haris yang tiba-tiba datang.
Terlihat Haris meletakkan buah-buahan dan pisau. Sedangkan Daniel, terlihat pria itu seperti seseorang yang tidak terlihat di sana, dia tidak diajak berbicara, di asinkan seperti seorang arwah halus yang tidak nampak sama sekali.
"Boleh."
Arina yang kemudian segera berdiri dan meninggalkan tempat itu untuk mengambil pakaian lengan panjang.
"Mas Daniel mau ke mana?" tanya Lisa kepada Daniel.
Lisa adalah salah satu pembantu di rumah yang ada di perkebunan. Daniel terlihat menatap wajah seorang wanita yang sedang menanyai Daniel.
"Aku mau mengajak wanita cerewet itu jalan-jalan, biar tidak kuper dan membuat keributan terus-menerus di rumah." jawab Daniel.
"Apa yang kamu katakan?" tanya Arina.
"Boleh aku ikut tidak?" tanya Nisa dengan raut wajah yang dibuat semanis mungkin.
"Terserah Kalau kau mau ikut." jawab Daniel.
Beberapa menit kemudian terlihat Arina sudah keluar dengan pakaian lengan panjang, celana selutut dan kacamata hitam serta memakai topi pantai. Daniel yang melihat hal itu nampak pria itu melihat Arina dari kepala sampai kaki.
"Kau mau kemana?" tanya Daniel yang terlihat aneh saat melihat penampilan Arina.
"Tentu saja mau jalan-jalan." jawab Arina.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau memakai topi pantai sama kacamata hitam?" tanya Daniel kembali.
"Biar tidak panas dan tidak silau." jawab Arina santai.
"Kau kira kita berada di pantai hingga kau memakai topi pantai dan kacamata hitam." cibir Daniel sembari memegang kepalanya.
"Memangnya tidak boleh ya?" tanya Arina.
Daniel menganggukkan kepalanya, pria itu berjalan mendekati Arina kemudian melepas topinya dan melepas kacamata hitamnya.
"Kau mau bawa kemana kacamata itu? itu harganya mahal!" seru Arina.
"Biar aku bawa kacamata ini, kau jangan sampai memakainya. Kau kira kau itu artis datang ke desa." jawab Daniel.
"Aku mau apapun itu terserah aku, Lagian aku juga mau jalan-jalan sama Mas Haris. aku nggak mau jalan-jalan sama kamu kok!" seru Arina.
"Kamu jangan macam-macam ya." ancam Daniel.
"Siapa sih yang macam-macam, lagi pula aku sudah bilang kan kalau kita sudah ada batasan. kamu mau bersenang-senang itu terserah padamu jangan pernah berani menggangguku!" teriak Arina.
"Kalau kamu mau macam-macam kamu harus ingat batasnya, selama 2 tahun kamu harus patuh padaku." ucap Daniel.
"Siapa yang mau patuh padamu, Aku tidak mau. lagi pula aku tidak akan mungkin menganggapmu sebagai orang yang pantas untuk aku patuhi." jawab Arina.
"Kamu mau mengajakku bertengkar ya?" tanya Daniel.
Arina mengajak Haris untuk segera pergi dan untuk jalan-jalan di sekitar Desa.
Terlihat lisa yang mendengar kata-kata Daniel, wanita itu ingin menertawakan semua kelakuan seorang wanita kota yang seperti deso banget.
"Halo Mas Daniel!"
sapa beberapa wanita yang berada di jalan depan rumah, beberapa wanita nampak melambaikan tangannya kepada Daniel ketika pria itu sedang berada di luar rumah.
"Apa-apaan para wanita ini, kenapa mereka nampak begitu kenal denganku." guman Daniel dalam hati.
"Kau terkenal sekali ya di tempat ini." ucap Lisa kepada Daniel.
"Tentu saja, pasti mereka ingin mencari perhatian dariku, Memangnya apalagi yang dilakukan oleh wanita-wanita seperti mereka." jawab Daniel dengan sangat arogan.
"Tapi tidak semua wanita seperti itu lho Mas." ucap Lisa.
"Semua wanita sama saja, mereka itu benar-benar menyebalkan. mereka selalu saja mencari perhatian para pria kaya untuk dijadikan suami Setelah itu mereka ingin duduk manis di rumah suami kayaknya dan menghambur-hamburkan hartanya." jawab Daniel.
__ADS_1
Wanita manapun yang mendengar jawaban seperti itu pasti mereka sedikit tersentak, terkejut kaget bahkan sakit hati.
"Ini pria Kenapa sih mulutnya benar-benar tajam, apa waktu dia lahiran dia itu tidak mempunyai pembatas mulut apa." guman Lisa dalam hati saat mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Daniel.
Setelah mengatakan hal itu akhirnya Daniel masuk ke rumah pria itu membuka laptopnya dan mencari tahu mengenai informasi perusahaan. Wahyu dipercaya oleh ayah Ma'ruf untuk mengurus perusahaan selama Daniel tidak ada di tempat.
TUT...
TUT..
"Kemana pria itu, kenapa dari tadi aku telepon tidak diangkat. dia ini mau macam-macam ya dia mau menantangku ya." ucap Daniel yang kesal karena panggilan telepon tidak dijawab oleh Wahyu.
5 menit 10 menit hingga 30 menit kemudian terlihat Daniel mulai kesal, pria itu berjalan menuju garasi rumah. sebuah motor tua yang dulu sering dipakai ayahnya untuk membonceng dirinya, Daniel menatap motor itu.
"Wanita itu saja bisa jalan-jalan, kenapa aku tidak jalan-jalan juga? wanita menyebalkan itu terlihat begitu bahagia, di depan mataku dia berani keluar bersama pria lain. dia menganggap aku ini apa? apa dia menganggap aku ini pembantunya apa." Daniel yang terus menggerutu panjang lebar.
sesaat kemudian pria itu mencari kunci motor tersebut, garasi rumah sudah dibuka Daniel ingin berjalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya semasa kecil. sudah berapa puluh tahun Daniel meninggalkan rumah itu, Kalaupun dia ke rumah perkebunan paling hanya satu tahun satu atau dua kali saja.
BREMMM...
motor sudah dibunyikan Daniel, dia melajukan motor itu berkeliling Desa, tatapan mata para wanita yang ada di desa nampak menatap Daniel.
"Hai cowok." Panggil beberapa wanita.
Daniel tidak menghiraukan panggilan itu, pria angkuh itu mana mungkin mau meladeni para wanita-wanita kelas rakyat miskin yang tidak seharusnya berbicara dengannya.
"Dasar wanita tidak tahu diri, mereka itu sebenarnya tahu diri nggak sih." ucap Daniel.
Sekitar 15 menit kemudian Daniel menghentikan laju motornya, pria itu melihat Arina yang sedang makan di salah satu warung sederhana yang ada di dekat Jalan Raya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Daniel kepada Arina.
Pria itu menghentikan motornya kemudian mematikan motor tersebut.
"Lah kamu sendiri lagi ngapain di sini?" tanya Arina balik.
"Ditanya kok malah bertanya." jawab Daniel.
* Bersambung *
Mohon dukungannya pada novelku yang lainnya 😊😊😊
- Mawar berduri
__ADS_1
- Terlempar ke dunia sang kaisar
- karena cinta