
Sepasang kekasih tak berhati meninggalkan rumah pojok dan membiarkan duo K membawa masuk Ara dengan mudahnya. Didalam ruang tamu yang tampak sepi dikala mentari masih bersinar, terlihat seorang wanita dengan penampilan layaknya seorang penguasa rumah hiburan. Dialah mami nan jelita yang biasa di panggil mamca.
Sang mamca tampak sibuk sebab tengah kedatangan seorang tamu yang membuat Duo K berhenti sejenak dan memberikan laporan, "Mamca. Ini pertukaran dari Akbar. Mau di taruh ke kamar nomor berapa?"
Mama cantika mengalihkan perhatian dimana wanita itu memindai seluruh tubuh Ara, lalu tersenyum puas. Di pandangannya ada tubuh putih langsing dengan rambut hitam bersemu merah, wajah imut, hidung mancung, bibir semerah cherry. Wanita yang menjadi pertukaran Akbar sangat cocok dengan kebutuhan mendesaknya.
"Lihatlah tuan, bagaimana menurut anda?" tunjuk Mamca ke arah Ara dan sengaja menawarkan langsung pada pria asing yang tiba-tiba sudi menjadi tamu singkat rumah pojok miliknya.
Kesempatan tidak akan datang dua kali. Bukankah begitu? Oleh karena itu, ia ingin memanfaatkan situasi dan keberuntungan apalagi setelah melihat ada kecocokan antara sang tamu dengan seorang pelunas hutang. Mungkin akan di anggap kejam tapi jika wanita polos dijadikan wanita malam. Pasti lebih kejam.
Seorang pria dengan topeng yang duduk dengan gaya angkuh, hanya melirik sekilas dan enggan melihat dengan benar bagaimana sosok wanita yang diapit dua preman rumah pojok, "Aku hanya ingin yang masih bersih tanpa noda!"
Permintaannya sederhana tetapi kenapa mengharapkan kesucian di tempat ternoda? Bukankah seperti mengharapkan hujan bunga di padang pasir. Meski terdengar seperti candaan, nyatanya tetap di hargai sang pemilik rumah pojok. Bahkan dengan menyerahkan istri pria lain menjadi pilihan terbaik dibandingkan mendapatkan salah satu wanita penghibur yang telah melayani banyak pria.
"Tuan, dia masih bersih, " Mamca masih menunjuk ke arah Ara, "Setidaknya hanya bekas dipakai suaminya selama setahun. Jadi tidak ada yang menjamah selain suaminya. Apa ini tidak cukup untukmu, tuan, bagaimana?" jelas mami Cantika tanpa ragu sedikitpun.
Pernyataan sang penguasa tempat hiburan cukup masuk akal dan ia pikir lebih sedikit resiko. Selain itu pasti memiliki hasil yang tidak bisa diprediksi, apapun harus diputuskan. "Berapa?" tanya pria bertopeng dengan tegas tanpa ingin menunda lebih lama pekerjaannya.
__ADS_1
Mami Cantika tersenyum, lalu mengambil sebuah catatan dari para pelanggan rumah pojok miliknya. Jemarinya sibuk menghitung, seakan yang dihitung tumpukan buku tak terkira. Melihat hal itu, si pria bertopeng mengambil buku cek dari saku jas kemudian menuliskan sesuatu diatas kertas putih bercetak itu, dan menyobek selembar.
Selembar cek dengan nominal lima milyar di letakkan di meja kaca mini yang membuat mata mamca berbinar melihat banyaknya nol di belakang angka lima. Ia tak menyangka akan mendapatkan durian runtuh hanya dengan menukar seorang wanita. Siapa yang bisa membayangkan rezeki berlimpah seperti hari ini.
"Setujui apapun syarat dariku dan tanda tangani berkas dari asisten ku nanti. Jangan bermain denganku! Ingat jika cek itu tak berguna tanpa tanda tanganmu diatas materai surat perjanjian." jelas pria bertopeng, lalu bangun dari tempat duduknya.
Langkah kaki pria bertopeng terhenti, melirik sekilas ke Ara yang pingsan. Dengan langkah tegas, pria bertopeng menghampiri Duo K. "Lepaskan!"
Suara tegas yang terdengar dingin masih diabaikan oleh duo K hingga mendapatkan perintah dari majikan asli mereka berdua. "Berikan wanita itu pada tuan ini! Harganya sudah lebih dari cukup." Mamca dengan santainya membiarkan si pria bertopeng mendapatkan Ara dan membuat Duo K melepaskan tubuh mantan istri Akbar.
Tanpa aba-aba duo K melepaskan Ara tapi pria bertopeng dengan sigap menangkap tubuh Ara. Pria itu menggendong Ara ala bridal style, kemudian keduanya meninggalkan rumah pojok bersamaan dengan kedatangan mobil mewah yang memang datang untuk menjemput. Dimana seorang wanita dengan pakaian bodyguard keluar dari pintu depan, membukakan pintu belakang untuk sang tuan.
"Silahkan tuan," ucap bodyguard itu dengan menundukkan pandangan.
"Berkas seperti permintaan Anda, silahkan tanda tangan Tuan!" titah sederhana tanpa tanya yang memiliki ruang.
Sejenak pria bertopeng membuka map hitam dan memeriksa setiap klausul yang tertera. Tidak akan ada yang melihat bagaimana ekspresi wajahnya di balik topeng full face itu. Satu tanda tangan dibubuhkan tanpa ragu, dan map di kembalikan pada pria paruh baya di kursi depan.
Tak peduli dengan bagaimana emosi hati di dalam jiwanya, apa yang terjadi memang harus segera diakhiri. "Waktumu hanya lima menit." ujarnya dan membiarkan sang pria yang duduk di depan keluar meninggalkan mobil.
__ADS_1
Pria paruh baya itu berjalan menuju rumah pojok. Mengingat waktu yang menjadi patokan dimana dalam lima menit ia sudah keluar dari rumah pojok dengan senyuman. Tidak ada keraguan atas hasil pekerjaan sehingga begitu cepat kembali memasuki mobil, bahkan bodyguard yang sejak awal menunggu di luar juga ikut masuk setelah semua berada di dalam mobil.
"Kemana tuan?" tanya bodyguard dengan tatapan lurus ke depan.
"Apartemen Anggrek," jawab pria bertopeng yang sibuk memeriksa file pekerjaan dari ponsel pintarnya.
"Tuan, bagaimana jika Tuan dan Nyonya besar tahu?" tanya pria paruh baya dengan lirik.
Pria bertopeng menghentikan kegiatannya dan menatap asisten keluarga besarnya itu. "Selama paman tutup mulut. Semua aman terkendali. Ini berlaku untukmu juga Oci!"
"Siap tuan. Tapi bagaimana dengan ... "
Belum sempat melanjutkan rasa khawatirnya, tatapan mata dari sebelah seketika membungkam keadaan. Dimana seorang pria paruh baya mengubah penampilan dengan menghapus riasan yang menjadi ketidaknyamanan. Ketika takdir ingin menunjukkan jalan kebaikan, maka ia rela menjadi pion demi kebahagiaan keluarga.
"Bry, sekarang semua seperti keinginanmu dan om akan menjamin masalah ini tidak bocor tapi pastikan berbuat adil untuk keduanya. Apa langkahmu selanjutnya?" tukas Al mengalihkan perbincangan ke arah yang lebih penting dibandingkan rasa takut milik bodyguard.
Dilepaskannya topeng yang menutupi wajah, ia merasa seperti penipu ulung dimana demi mendapatkan tujuan melakukan sesuatu atas nama cinta. Jujur saja, ia masih belum memahami apakah tindakannya benar atau salah sebab hati masih tenggelam menikmati panasnya amarah bak letusan gunung berapi. Apakah keputusan yang diambil sudah tepat?
__ADS_1
Menghela napas panjang berusaha menenangkan hati dan pikiran tetapi pertengkaran antara ia dan Hazel justru semakin terngiang-ngiang bahkan hampir meledakkan sisa kedamaian, "Aku akan menikahi wanita ini agar tidak ada hubungan terlarang. Om bantu aku siapkan dokumen dari pengadilan dan lainnya. Cuma itu rencanaku sekarang."