
Seperti apapun keadaan sebuah rumah tangga yang memang sejak awal pernikahannya tidak mendapatkan restu keluarga, maka bukan berarti mendapatkan doa ketidakberuntungan. Dimana hati orang tua akan selalu mengharapkan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Tidak peduli sejauh apa seorang anak menentang bahkan melukai kepercayaan yang seumur hidup dijaga. Pada kenyataannya adalah setiap hubungan memiliki ujian masing-masing, begitu juga yang terjadi pada hubungan di dalam keluarga Putra. Antara orang tua, anak dan menantu.
Orang bilang, ketika seorang wanita menikah berdoa mendapatkan keluarga mertua yang layaknya keluarga sendiri sebab tidak ingin merasa asing. Apalagi setelah berpisah dari keluarga kandung, tapi itu tidak berlaku bagi Hazel. Wanita yang hanya memiliki obsesi hidup serba kecukupan.
Hazel bukan salah satu anak yang beruntung dimana memiliki keluarga utuh dan bisa dengan bangga mengatakan, inilah keluarga kecilku. Wanita itu berjuang dari kemiskinan melewati jalan singkat yang membawanya pada pernikahan mewah. Hidup itu, di saat berhasil menjadi istri seorang pengusaha muda nan tajir.
Sementara bagi Bryant hanyalah kewajiban atas perbuatan yang tidak dilakukan dengan sengaja. Tak peduli sebanyak apa mengulang kenangan masa lalu, pada akhirnya akan kembali ke masa yang sama. Lalu, apa gunanya sibuk membahas cerita usang?
"Ma, Bryant cuma berharap keluarga kita bisa kumpul kaya dulu. Jujur saja tinggal di rumah besar tanpa kalian membuatku tersiksa. Rasanya begitu menyesakkan dada," Bryant mengutarakan perasaannya yang selama ini terpendam.
Sebagai anak, ia lupa untuk memberikan hak atas keluh kesah pada kedua orang tuanya. Sampai kapanpun bagi papa dan mama, ia hanyalah seorang anak yang memiliki hak untuk manja. Sudah hampir bertahun-tahun dan perubahan drastis menjauhkan jarak yang pernah tak tampak.
"Ekhem! Kenapa malah jadi mellow, ya? Bunga juga mau dipeluk, loh!" Si gadis mata hazelnut berjalan menghampiri meja makan, lalu tanpa permisi nimbrung dan berdiri di antara kakak serta mama keduanya.
Awalnya ia hanya berdiri dan menyimak seraya menghabiskan minuman dingin, tapi begitu melihat kebersamaan keluarga semakin intens. Hati meronta tak ingin hanya sekedar menjadi penonton. Lagi pula dirinya juga anggota keluarga.
Kehangatan keluarga akan selalu menjadi hal berharga. Apalagi setelah sekian lama ia bisa menggoda anggota keluarga Putra yang selama ini juga sangat memanjakan dirinya, "Pa, boleh ajak mama Bella jalan-jalan, gak?"
__ADS_1
Satu pertanyaan Bunga berhasil mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalam ruang makan. Mereka tahu benar bahwa keadaan mama Bella tidak sebaik itu untuk jalan-jalan. Bukan berpikir negatif karena pasti maksud gadis itu hanya mengajak keluar untuk pergi ke taman depan rumah.
"De, ambilin syal buat mama dulu, gih!" Bryant memberikan perintah yang langsung diiyakan adiknya tanpa menunggu konfirmasi bergegas meninggalkan ruang makan.
Langkah kaki yang terdengar menjauh membawa ketiga insan lain ikut menyusul. Dimana mereka pergi menuju ruang tamu dan menunggu kedatangan Bunga. Suara obrolan basa-basi masih terdengar menemani penantian, tapi tiba-tiba teralihkan suara langkah kaki yang berjalan terburu-buru mendekati ketiga anggota keluarga Putra.
"Pa, itu pak Joko kenapa?" mama Bella yang melihat pertama kali kedatangan sang satpam pagar depan mengubah arah pembicaraan.
Bryant bangun dari tempat duduk, lalu menyongsong pak Jokowi yang terlihat cemas dan gusar. Entah apa alasannya hanya saja ia merasa sesuatu sudah terjadi. Mau, tak mau harus mendengarkan terlebih dahulu sebelum mencoba mengambil kesimpulan atas rasa panik yang ia lihat dari tatapan mata pak satpam.
"Tuan, nyonya, Aden. Di depan ada istrinya aden yang marah-marah dan minta masuk tapi ... " pak Joko hendak meneruskan perkataannya tetapi seketika terhenti begitu melihat gelengan kepala tuan besar.
Kepekaan setiap orang itu tidaklah sama. Begitu juga tingkat dari emosi yang menghadirkan insting semua orang. Dimana seorang Bryant termasuk pria lemah lembut dengan kekurangan tak mengandalkan insting. Pria itu bahkan kurang waspada hingga tidak menyadari keanehan dari pernyataan pak Joko.
Tangan terangkat menepuk pundak si satpam bersambut seulas senyum manis sekedar menegaskan bahwa ia tidak mempermasalahkan ketidakberdayaan pak Joko, "Bapak bisa kembali bekerja dan aku sendiri yang akan temui Hazel. Pa, ma, take care, ya. Bryant pamit pulang, love you."
Ingin sekali mencegah kepergian Bryant, tapi jika melakukan itu maka mereka harus siap perang kata dengan menantu pertama. Semua orang memerlukan perdebatan ketika memang dibutuhkan untuk menemukan solusi dari persimpangan jalan. Akan tetapi bukan berarti berdebat tanpa alasan jelas.
Tatapan mata berusaha melepaskan kepergian Bryant dengan ikhlas. Dimana putra tunggal keluarga Putra semakin menjauh dari pandangannya, "Pa, sampai kapan kita berdua diam?"
__ADS_1
"Kebenaran wanita itu harus terungkap, iya 'kan? Mama tidak rela melihat Bryant terus hidup bersama istri seperti Hazel. Di dunia ini begitu banyak wanita sopan dan meskipun barbar, mereka memiliki prinsip serta karakter baik. Lalu, kenapa putra kita terjebak dengan wanita itu?"
Keluhan seorang ibu sungguh tidak bisa dibendung lagi. Pengakuan tanpa ada keraguan yang tanpa disadari juga didengar Bunga. Dimana gadis mata hazelnut berdiri di belakang suami istri yang masih sibuk menatap ke arah pintu masuk. Sesaat berpikir apa maksud dari pernyataan tersebut hingga mulai menyimpulkan secara mandiri.
Bisa saja bertanya pada mama kedua dan pasti akan mendapatkan jawaban sejujur-jujurnya. Akan tetapi ketika mengingat posisinya, ia tahu orang tua kakaknya pasti berpikir ulang dan takut jika sampai dirinya memberitahu sang kakak. Kemungkinan akhir dari setiap kebenaran akan tetap sama yaitu teka-teki.
Setelah berpikir sejenak, ia memutuskan untuk diam dan berpura-pura tidak mendengar apapun. Semua informasi hanya perlu disimpan sampai ia bisa menemukan puzzle lainnya hingga membentuk pola yang benar. Perlahan mengusir raut wajah tak senang berganti seulas senyum manis nan menawan seraya melanjutkan perjalanan menghampiri kedua orang tuanya.
"Ma, Bunga cuma bisa nemu syal merah di tempat biasa," gadis itu menunjukkan syal yang ia ambil dari kamar orang tua sang kakak dan tanpa permisi memakaikannya ke leher sang mama. "Cantik seperti biasa, jadi mari kita jalan-jalan!"
Bunga menoleh kanan kiri menelusuri ruangan sekitarnya. Gadis itu berpura-pura mencari keberadaan Bryant yang sudah pergi meninggalkan kediaman Putra dan tingkahnya berhasil membuat papa Angkasa menghela napas berpikir seorang kakak menukar tanggung jawab adik dan berpindah menghadapi istri.
"Nak, kakakmu sudah pulang. Baru saja istrinya jemput. Apa kalian janjian mau pergi bareng?" Papa Angkasa menatap Bunga begitu tenang. Tatapan mata yang sama setiap kali sedang berpandangan dengan Bryant karena bagi dia, kedua anak itu sama.
Seulas senyum masih menghiasi wajah cantik alami Bunga yang menggelengkan kepala karena memang tidak ada janji selain tentang ingin mengantarkan pulang ke asrama setelah singgah di kediaman Putra. Kepergian kakaknya sudah cukup menjadi awal kesendirian tetapi tidak mengubah kebersamaan.
Waktu berlalu begitu cepat menghempaskan sinar terang berganti kegelapan bersambut kesunyian ditemani derai air hujan. Suasana nan temaram menghiasi keheningan tanpa sang rembulan di tengah hidangan makan malam.
"Mas, apa yang kamu pikirkan?" suara lembut mencoba mencari tahu penyebab diamnya sang suami yang terus menundukkan pandangan.
__ADS_1