
Meminta maaf atas kesalahan yang diperbuat adalah suatu sikap dewasa yang bijak dan dianjurkan, untuk itu jangan pernah sungkan melakukannya. Apalagi ketika sebuah permasalahan bisa sedikit berdamai dengan keadaan bila mau meminta maaf secara tulus kepada orang yang telah menjadi korban atas sikap keegoisan diri.
Sejauh apa kehidupan datang menyapa. Pada kenyataannya akan tetap berpijak pada hidup sederhana tetapi menjadi rumit karena pemikiran serta hasil keputusan setiap insan yang masih benapas di dunia.
Terlepas dari apa yang menjadi penghalang saat ini, hati menyadari setelah semua tindakan tak mendasar atas perbuatan tercelanya. Sudah pasti harus berjuang untuk memperoleh jalan dari keputusan yang sudah diniatkan. Lagipula kehidupan memang terbiasa menyodorkan ujian dan bukan bingkisan.
Di tengah perenungan tiba-tiba ia teringat sesuatu dan bergegas mengeluarkan si benda pipih dari balik saku. Untung saja tidak meninggalkan benda kesayangan yang bisa dirinya manfaatkan untuk tujuan kebaikan. Tanpa pikir panjang membiarkan sepuluh jemari bekerjasama menari di atas tuts dengan begitu lincahnya.
"Assalamu'alaikum, Bunga, kata-kata tidak cukup untuk membuatmu merasa lebih baik. Permintaan maaf sederhana tidak akan pernah cukup untuk menghapus rasa sakit yang aku sebabkan. Tetap saja, dari lubuk hatiku, aku sangat menyesal. Aku berharap aku bisa menebusnya untukmu.
"Aku juga berharap kamu dapat memberi maaf atas perilaku yang memang tidak dewasa. Aku pasti tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Please, terima permintaan maaf dariku yang tulus dan berikan aku kesempatan lagi. Hati, jiwa dan raga ini berjanji akan memperbaiki semua momen yang telah saya hancurkan sebelumnya."
Suara gumaman yang terdengar lirih tetapi masih bisa didengar oleh seorang pemuda di belakang Vir. Pemuda itu sebenarnya ingin mengejutkan sang sahabat tapi setelah beberapa kata menyapa gendang telinga. Langkahnya terhenti mencoba memahami apa yang sudah terjadi. Ia ingin tahu, kenapa Vir sampai harus meminta maaf pada si gadis mata hazelnut.
Entah permasalahan apa yang sedang dihadapi karena ia sendiri juga tidak bisa mengerti. Tangan terangkat mendekatkan diri menggenggam pundak kanan yang membuat Vir berbalik hingga menatap ke arahnya. Sorot mata putus asa nan sendu tampak begitu nyata. Apa semua baik-baik saja?
"Daffa, kamu disini, trus yang lain kemana?" tanya Vir mengalihkan perhatian bahkan terlihat jelas berusaha menutupi sesuatu dari sahabat sendiri.
Daffa masih memperhatikan gelagat pemuda di depannya tetapi ia sadar tanpa ingin memaksakan kebenaran terungkap sebelum waktunya. "Ke kantin, mending kita nyusul, ayo!"
__ADS_1
"Boleh, deh," jawab Vir berusaha bersikap santai seperti biasa yang memaksa niat hati diundur sesaat.
Keduanya berjalan beriringan tetapi tanpa ada percakapan yang biasa dilakukan. Entah apa penyebabnya hingga hanya diam selama perjalanan menuju kantin, sedangkan di sisi lain. Bryant membiarkan Hazel turun seorang diri di depan sebuah hotel yang menjadi tempat pemotretan sang istri. Bukannya tidak peduli, tapi ia sendiri masih harus bekerja.
"Pak, jalan!" titahnya pada supir taksi yang mengantarkan ia dan Hazel dari depan kantor polisi.
Tangan begitu sibuk memainkan ponsel sampai seluruh fokus hanya tertuju pada layar benda pipih. Seperti biasa sibuk memeriksa berkas dan mempelajari proposal dari para klien. Jika dipikirkan lebih jauh maka kehidupan begitu membosankan. Apalagi semakin jauh dari yang namanya kebahagiaan dunia.
Menghela napas panjang seraya menyingkirkan seluruh sisa ketidakberdayaan yang datang mengetuk emosi hati, "Kapan rumah kami dipenuhi suara tawa anak-anak? Mungkin benar kata papa, mama. Kalau kami punya anak bisa semakin mendekatkan satu sama lain."
"Tuan, Anda tidak apa-apa?" Pak Supir yang tidak sengaja memperhatikan tingkah pelanggannya itu merasakan adanya kebingungan di dalam diri sang pelanggan. Apalagi suara keluhan sempat ia dengar.
Supir itu memutar gantungan kartu nama yang bergoyang menggantung di spion tengah mobil, lalu selama sekian detik tatapan mata terpatri pada wajah manis nan tersenyum ceria memeluk boneka kelinci. Dilihat dari foto merupakan anak berusia lima tahun yang masih begitu menggemaskan dan kemungkinan pastilah putri sang supir.
"Apa itu putrimu, Pak?" bukan menebak hanya saja wajah yang ada di foto memiliki garis pahatan pak supir jadi ia berspekulasi bahwa tentunya itu anak pria di depan kursi kemudi.
Pak supir melepaskan tangannya dari gantungan kartu nama, "Bukan, Tuan. Dia ini adikku, bapak sendiri gak punya keluarga karena selama bertahun-tahun hanya mampu menafkahi satu nyawa saja. Wanita sekarang kalau tidak melihat laki-laki dari penampilan, mungkin bapak bisa punya pasangan sendiri. Hehehe."
__ADS_1
"Gak juga, kok, Pak. Semua insan di dunia ini pasti memiliki jodoh tapi kapan bertemu dan bagaimana cuma Allah SWT yang tahu. Semoga bapak segera dipermudahkan memenuhi ibadah sebagai seorang muslim dengan menjalankan pernikahan," ucap Bryant mendoakan pak supir sepenuh hati.
Entah kenapa hatinya merasa kasihan tetapi sekaligus membuat dirinya sadar bahwa kehidupan memang tidak semua orang memiliki dunia sempurna. Perbedaan status ekonomi, gaya hidup, lingkungan pertemanan dan jalan takdir seperti bumi, atmosphere dan langit yang mana memiliki jarak tipis. Akan tetapi sangat kentara.
Jika ia dianugerahkan kehidupan nyaris sempurna karena memiliki keluarga penuh cinta serta harta berkecukupan. Nyatanya di balik semua kenikmatan itu, Allah SWT menghadirkan ujian dengan hubungan pernikahan tanpa restu orang tua. Selain itu, ia juga harus bersabar menghadapi perbedaan pendapat yang semakin membuat jarak hubungan kian melebar.
"Aamiin, terima kasih atas doa nya, Tuan. Bapak mah gak mikirin nikah," Pak Supir menambah laju kendaraan begitu melihat peluang dari jalanan yang cukup lenggang. Di tengah fokus menyetir, ia senang mendapatkan pelanggan orang berada tapi tidak memandang rendah pekerjaannya.
"Apa bapak tidak mau nikah?" Bryant menaikkan mengernyitkan alis, "Atau bapak khawatir dengan biaya kehidupan yang semakin meningkat?"
"Tuan, bagi orang biasa seperti bapak yang sudah berumur kepala empat dan cuma hidup mengandalkan gaji sebagai supir. Bapak khawatir tidak mampu memberikan nafkah yang sesuai dan justru menjadi ketidakadilan bagi seorang istri. Bukan ndak mau, tapi cuma sadar diri."
"Bapak cuma mau lihat Neni bisa hidup lebih baik dari sekarang setelah menikah nanti. Itu saja," sambung pak supir sembari mengusap peluh yang menetes dari dahi.
Obrolan keduanya tampak serius tetapi masih sangat santai. Apa yang diperbincangkan sungguh menghabiskan waktu selama perjalanan hingga tak terasa satu jam dua puluh menit telah berlalu. Bahkan mobil taksi itu sudah memasuki halaman depan gedung perusahaan milik keluarga Putra yang mana membuat Bryant dengan sopan memberikan bayaran sebelum pergi keluar meninggalkan si kendaraan besi.
"Tuan, ini kebanyakan ... " tangan gemetar memegang sepuluh lembar kertas merah yang diberikan pelanggan. Padahal biaya yang harus dibayarkan hanya dua lembar kertas merah bahkan masih ada kembalian, tapi kenapa malah memberi lebih?
Sayangnya tuan yang ia ajak bicara sudah pergi melenggangkan kaki berjalan mendekati pintu utama gedung pencakar langit. Mau menyusul tetapi ia hanya seorang supir taksi hingga akhirnya memilih bersyukur atas rezeki yang didapatkan hari ini. Bagaimanapun semua karena sudah diatur oleh Allah SWT.
__ADS_1
"Ya Allah, berikan tuan itu kebahagiaan dan semoga keinginan memiliki momongan segera terpenuhi. Jauhkan tuan itu dari segala marabahaya dan lindungi sebagaimana ia mengasihi orang-orang tanpa pamrih. Aamiin," ucap tulus dari dalam hati pak supir sebelum kembali melanjutkan mencari nafkah untuk membahagiakan adiknya Neni.