Karena Cinta

Karena Cinta
Part 152#MENGHAPUS KESALAHPAHAMAN


__ADS_3

Untuk pertama kalinya suara tegas tanpa penolakan menggelegar menyambar indra pendengaran Anggun. Entah keberanian dari mana hingga suaminya itu berani menunjukkan jari ke wajahnya, padahal selama ini selalu bersikap baik dan penurut. Apa mungkin karena perasaan di hati pria itu sudah mulai berbalik arah?



Sikap tak biasa Akbar menyentak kesadaran yang selama ini terdampar. Mungkin cinta yang selalu dielu-elukan sudah mulai goyah tanpa memiliki arah tujuan. Lalu dimana keberadaan cinta yang mampu merengkuh dunia hanya untuk dirinya? Keadaan saat ini terlihat seperti kekacauan atas rencana yang tidak direncanakan.



"Mas, kok kamu bentak aku? Apa udah gak sayang sama aku lagi, ya?" Anggun menundukkan pandangannya seraya menunjukkan raut sedih yang selama ini tidak pernah ia hadirkan.



Namun untuk mengendalikan situasi maka keras hati tidak bisa dibenarkan. Bagaimanapun Akbar harus merasa bersalah karena memarahinya dan untuk itu, ia hanya perlu menahan ego. Sesekali menjadi seorang wanita lemah yang terlihat membutuhkan perlindungan. Itulah yang sedang ia coba lakukan.



Sementara Akbar yang tidak bisa menahan kemarahannya, seketika tertampar oleh keadaan. Wajah muram tanpa berani menunjukkan tatapan menghantarkan rasa yang tidak menyenangkan. Perlahan mengangkat tangan yang ia sandarkan ke atas kepala wanita di depannya, lalu mengusapnya dengan kasih sayang.

__ADS_1



"Maaf, Sayang. Aku terbawa emosi, jangan sedih, ya. Situasi saat ini mengharuskan kita berpisah sementara waktu, aku tidak mau kalau semua rencana gagal. Cobalah mengerti dan ikuti permintaan kecilku, apa istriku mau mendengarkan?" jelas Akbar tanpa menutupi kebenaran yang ada di dalam hatinya.



Pria itu sudah memikirkan segala sesuatunya dengan sangat baik dan karena perubahan sikap Ara selama beberapa hari memberikan firasat berbeda. Hati merasa ada yang tidak benar tetapi pikiran terus berusaha melawan. Entah bagaimana menjelaskan sebab ia sendiri tidak bisa menjabarkan situasi dari keadaannya.



Obrolan ke-dua insan itu semakin pelan dan tidak lagi ada kekeliruan dimana keinginan Akbar menjadi jalan serta keputusan yang harus dilakukan. Di tengah kesepakatan tiba-tiba teralihkan suara langkah kaki yang berjalan menuruni anak tangga. Suara itu membuat pasutri di bawah memisahkan diri agar tetap menjaga suasana hati seseorang.




Tanpa dirinya sadari bahwa kepercayaan yang selama ini menjadi pengikat hubungan sudah terkoyak oleh kebenaran. Meski Ara masih berusaha menepis kenyataan pahit yang menjadi jalur kehidupan asmaranya. Cepat atau lambat, kisah segitiga yang menjebak pastilah terkuak.

__ADS_1



"Mas, kok masih di dalam rumah?" Ara menghentikan langkah kakinya begitu mendapati Akbar yang duduk tenang di kursi meja makan, sedangkan ia sendiri berdiri di bawah tangga.



Kedatangan sang istri, membuat Akbar beranjak dari tempat duduk yang hanya dijadikan pelarian. Langkahnya berjalan menghampiri Ara dengan senyum mengembang menghiasi wajah tak berdosanya, "Mas sengaja nunggu Ara, ayo, kita jalan-jalan! Apa istriku ingin pergi ke suatu tempat? Hari ini bisa request dan akan ku kabulkan."



"Makasih, Mas. Ara cuma mau ke taman aja sama ke perkebunan. Gak papa kan?" jawab Ara tanpa ingin meminta lebih, wanita itu bahkan merasa sikap Akbar yang manis justru semakin menutupi kebenaran.


Suara lembut yang selalu menyebarkan kehangatan dan kedamaian kembali terdengar tetapi rasa di hati tidak bisa dibohongi. Perubahan yang mulai dirasakan memang membuat jarak di antara hubungan mereka hanya saja, ia tak tahu alasannya tapi dengan beberapa kejadian maka bisa menyimpulkan semua berkaitan dengan kedekatannya bersama Anggun.


Diraihnya kedua tangan sang istri, lalu ia usap berharap bisa memberikan kekuatan, "Ara, apa kamu baik-baik saja? Mas perhatikan sudah beberapa hari selalu menghindar. Kalau ada yang mengganjal di hati, kenapa tidak beritahu aku sekarang?"


"Gak ada yang seperti itu, Mas. Ara baik dan gak punya keluhan apapun, Mas Akbar terlalu terbawa perasaan. Ayo, kita keluar sekarang!" ajaknya tetapi melepaskan tangan dari genggaman sang suami yang menghadirkan rasa tidak aman.

__ADS_1


Maaf, Mas Akbar. Rasa sakit ini masih bisa Ara tahan meski entah sampai kapan. Ya Allah, apakah hamba harus mengalah dan melepas pernikahan yang sudah diamanahkan ayah? Sulit sekali bernapas tapi aku yakin masih sanggup berdiri tegak.~batin Ara melanjutkan rasa yang sebenarnya menyiksa hanya saja ia tak berani mengatakan kebenarannya.


__ADS_2